Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Rencana Regrouping Dua SD di Bangli Tunggu Perbup

20 Mei 2019, 18: 54: 30 WIB | editor : I Putu Suyatra

Rencana Regrouping Dua SD di Bangli Tunggu Perbup

JADI BUMDES: Gedung SD 1 Abuan, Kecamatan Susut, Bangli direncanakan dipakai gedung BUMDes apabila regrouping jadi dilakukan. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Bangli masih mengkaji soal rencana penggabungan (regrouping) sekolah dasar (SD). Itu karena masih ada kendala di pengeluaran Surat Keputusan (SK) tentang regrouping. Namun kabarnya, tahun ini ada dua SD yang bakal di-regrouping.

Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2015 tentang Sistem Penyelenggaraan Pendidikan Dasar, aturan untuk pendirian, penutupan, maupun penggabungan sekolah harus ditetapkan melalui Peraturan Bupati (Perbup) Bangli.

"Kami masih konsultasi dengan bagian hukum Setda Bangli dan bagian hukum provinsi. Sebelum itu sempat diajukan regrouping tapi tidak disertai Perbup. Maka kami sudah susun Perbup dan tinggal menunggu. Perbup sebagai dasar kami untuk mengeluarkan SK penggabungan sekolah," kata Kepala Disdikpora Bangli I Nyoman Suteja melalui Kepala Seksi Kelembagaan dan Sarana Prasarana Ida Bagus Made Mahaarta, Senin (20/5).

Ada dua SD yang diusulkan untuk digabungkan. Yakni SDN 4 Abuan, Kecamatan Susut dan SDN 3 Dausa, Kecamatan Kintamani. Masalah yang terjadi di sekolah tersebut lebih pada berkurangnya jumlah siswa baru tiap tahunnya. Sedangkan masalah SDN 3 Dausa, selain kekurangan siswa, di sana juga terjadi kekurangan guru. 

Seperti yang diberitakan Bali Express (Jawa Pos Group), di SDN 3 Dausa hanya ada seorang guru yang merangkap jadi kepala sekolah dan tenaga administrasi. Ironisnya, seorang guru tersebut harus mengajar dua kelas sendiri. "Itu kan masalahnya bukan guru kelas, tapi guru Agama Hindu. Di samping itu, hanya ada kelas IV dan kelas II saja," ungkap Mahaarta.

SDN 3 Dausa direncanakan digabung ke SD 1 Dausa. Meski begitu, warga sekitar mengeluh karena jarak dari Banjar Cenigaan (SD 3) menuju SD 1 sangat jauh. "Warga juga mengeluh tidak bisa mengantar anak mereka ke pusat desa. Jadi kami serba susah. Mereka ingin bertahan di SD 3 tapi jumlah siswa sedikit. Ini kami terus bicarakan dengan pihak desa," terangnya.

Sementara itu rencana regrouping SDN 4 Abuan dengan SDN 1 Abuan sudah disepakati warga desa. Hanya saja belum ditentukan gedung mana yang akam dijadikan gedung utama. Sejak bertahun-tahun, jumlah siswa di SDN 4 mengalami penurunan. "Jarak SD 1 dan 4 juga tidak terlalu jauh," kata Mahaarta.

Berdasarkan hasil pertemuan, warga ingin memanfaatkan gedung SD 1 menjadi gedung BUMDes, gudang, dan balai rapat desa. Jika SD 4 digabung ke SD 1, dikhawatirkan tidak akan bisa dilakukan perluasan karena lahan yang terbatas. "Lahan di SD 4 lebih luas sehingga ada kemungkinan untuk perluasan lahan kalau siswa digabung. Jadi ini masih dibahas," pungkas Mahaarta.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia