Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Bupati Mahayastra Pimpin Apel Hari Kebangkitan Nasional

20 Mei 2019, 19: 47: 38 WIB | editor : Nyoman Suarna

Bupati Mahayastra Pimpin Apel Hari Kebangkitan Nasional

APEL : Pelaksanaan apel Hari Kebangkitan Nasional di Lapangan Astina Gianyar, Senin (20/5). (HUMAS PEMKAB GIANYAR FOR BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Bupati Gianyar  I Made Mahayastra memimpin apel peringatan ke-111 Hari Kebangkitan Nasional di Kabupaten Gianyar yang dilaksanakan di Lapangan Astina Gianyar, Senin, (20/5). Apel tahun ini juga dirangkai dengan peringatan ke-23 Hari Otonomi Daerah dan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2019.

Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Rudiantara, dalam sambutan yang dibacakan Bupati Mahayastra mengatakan, dalam naskah Sumpah Palapa yang ditemukan di Kitab Pararaton tertulis: “Sira Gajah Mada patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.”

Menurutnya, memang ada banyak versi tafsiran atas teks tersebut, terutama tentang apa yang dimaksud dengan "amukti palapa". Namun meski sampai saat ini masih belum diperoleh pengetahuan yang pasti, umumnya para ahli sepakat bahwa amukti palapa berarti sesuatu yang berkaitan dengan laku prihatin sang Mahapatih Gajah Mada.

Artinya, ia tak akan menghentikan mati raga atau puasanya sebelum mempersatukan Nusantara. Peringatan yang ke-111 Hari Kebangkitan Nasional pada tanggal  20 Mei 2019, sangat relevan jika dimaknai dengan teks Sumpah Palapa.

“Kita berada dalam situasi pasca pesta demokrasi yang menguras energi dan emosi sebagian besar masyarakat kita. Kita mengaspirasikan pilihan yang berbeda-beda dalam pemilu, namun semua pilihan pasti kita niatkan untuk kebaikan bangsa. Oleh sebab itu tak ada maslahatnya jika dipertajam, dan hal ini justru mengoyak persatuan sosial kita. Sampai sekarang, tahap-tahap pemilihan presiden dan wakil presiden serta anggota legislatif berlangsung dengan lancar. Kelancaran ini juga berkat pengorbanan saudara-saudara kita yang menjadi anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara, bahkan berupa pengorbanan nyawa. “

Dikatakan pula, telah lebih satu abad Indonesia menorehkan catatan penghormatan dan penghargaan atas kemajemukan bangsa yang ditandai dengan berdirinya organisasi Boedi Oetomo. Dalam kondisi kemajemukan bahasa, suku, agama, kebudayaan, di tingkat bentang geografis yang merupakan salah satu yang paling ekstrem di dunia, Indonesia membuktikan bahwa mampu menjaga persatuan sampai detik ini.

Hari Kebangkitan Nasional kali ini juga dilangsungkan dalam suasana bulan Ramadan. Bagi umat Muslim, bulan suci ini menuntun kita untuk mengejar pahala dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dibenci Allah SWT seperti permusuhan dan kebencian, apalagi penyebaran kebohongan dan fitnah. Hingga akhirnya, pada ujung bulan Ramadan nanti, kita bisa seperti Mahapatih Gadjah Mada, mengakhiri puasa dengan hati dan lingkungan yang bersih berkat hubungan yang kembali fitri dengan saudara-saudara di sekitar kita.

Dengan semua harapan tersebut, kiranya sangat relevan apabila peringatan Hari Kebangkitan Nasional, disematkan tema "Bangkit Untuk Bersatu". Kita bangkit untuk kembali menjalin persatuan dan kesatuan dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia.

Ditambahkan, sebagaimana diserukan oleh Bapak Presiden Joko Widodo pada pidato di Depan Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tahun 2018 lalu, dari tanah Minang kita diimbau dengan petuah ‘Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang’ . Kita juga diwarisi pepatah Sunda yang berbunyi 'Sacangreud pageuh, sagolek pangkek’.

Dari Bumi Anging Mamiri, kita bersama-sama belajar ‘Reso temma-ngingi, nama-lomo, nale-tei, pammase dewata’. Dari Bumi Gora, kita diminta: ‘Bareng bejukung, bareng bebose’. Dari Banua Banjar kita bersama-sama menjunjung ‘Waja sampai kaputing’. Semua menganjurkan bekerja secara gotong-royong.

Meski digali dari kearifan nenek-moyang kita yang telah dipupuk selama berabad-abad, sejatinya jiwa gotong-royong bukanlah semangat yang sudah renta. Sampai kapan pun semangat ini akan senantiasa relevan, bahkan semakin mendesak sebagai sebuah tuntutan zaman yang sarat dengan berbagai perubahan.

Dengan bertumpu pada kekuatan jumlah sumber daya manusia dan populasi pasar, Indonesia diproyeksikan akan segera menjemput harkat dan martabat baru dalam aras ekonomi dunia. Bersama negara-negara besar lainnya seperti Tiongkok, Amerika Serikat, India, ekonomi Indonesia akan tumbuh menjadi sepuluh besar, bahkan lima besar dunia, dalam 10 sampai 30 tahun mendatang. Kuncinya terletak pada hasrat  untuk tetap menjaga momentum dan iklim yang tenang untuk bekerja.

Seusai apel, Bupati Mahayastra bersama Muspida Gianyar serta pejabat di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Gianyar melaksanakan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Kertha Kertya Mandala.

(bx/ade/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia