Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Features

Dikira Penyakit Nonmedis, Korban Rabies Sempat Diajak ke Balian

20 Mei 2019, 20: 08: 16 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dikira Penyakit Nonmedis, Korban Rabies Sempat Diajak ke Balian

ORANG TUA KORBAN: Ayah Gung Ode, Anak Agung Gede Ngurah Yasa (kiri) berbincang dengan pegawai dari Dinas Pertanian Klungkung terkait rabies yang merenggut nyawa anaknya (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

Share this      

Anjing rabies menelan korban jiwa di Klungkung. AA Gede Rai Karyawan, 22, warga Puri Satria Kawan, Dusun Peninjauan, Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, meninggal di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Klungkung, Minggu (19/5) sekitar pukul 20.19. Sebelum meninggal, remaja yang akrab disapa Gung Ode tersebut mempunyai riwayat gigitan konyong (anak anjing) liar.

 

I MADE MERTAWAN, Semarapura

 

SUASANA duka terlihat di lobi IGD RSUD Klungkung Sabtu malam. Itu setelah Gung Ode yang sebelumnya meronta-ronta dinyatakan meninggal dunia karena rabies. Sejumlah kerabatnya berteriak histeris. Beberapa di antaranya sampai dibopong karena lemas. Tak hanya raut muka kesedihan tergambar saat Bali Express (Jawa Pos Group) berada di tengah-tengah kerumuman orang-orang yang tengah berduka itu. Beberapa dari mereka terlihat panik, khawatir ada korban susulan. Ini menyusul informasi dari pihak rumah sakit bahwa mereka yang sempat bersentuhan dengan korban sebelum meninggal, agar disuntikkan vaksin anti rabies (VAR) sebagai antisipasi virus rabies menyebar. Informasinya ada 26 teman-teman maupun keluarga Gung Ode disuntikkan VAR.

Malam itu, jenazah Gung Ode juga tidak boleh dibuka dari keranda jenazah rumah sakit. Hal itu dilakukan agar virus tak menular. Termasuk sejumlah petugas rumah sakit menggunakan pakaian khusus. Pakai sepatu boots yang biasa dipakai petani ke kebun. Lengkap dengan masker mulut. “Kami mau membawa jenazah ke kamar mayat. Pakaian khusus biar tidak tertular,” ujar seorang petugas perempuan.

Informasi dari pihak keluarga, korban digigit konyong sekitar 3 bulan lalu. Ia digigit di sekitar objek wisata Kaliunda wilayah Desa Paksebali. Gigitan kecil pada salah satu jari tangan kanan membuat korban tak langsung melakukan vaksin. Ayah korban, Anak Agung Gede Ngurah Yasa,56, menuturkan, serangan virus baru terlihat pada anak semata wayangnya Sabtu (18/5) sekitar pukul 21.00. 

Anaknya mengeluh sesak napas, susah menelan air, termasuk takut sinar sebagaimana ciri-ciri korban rabies pada umumnya. Hanya saja, pihak keluarga tidak ngeh dengan gejala itu. Lantaran Gung Ode tidak menceritakan sempat digigit anjing. Pihak keluarga langsung melarikan korban ke RSUD Karangasem malam itu. Setelah sempat diperiksa, akhirnya dia dipulangkan Minggu dini hari.

Minggu pagi, gejala rabies muncul lagi. Pihak keluarga yang sudah panik kembali ke RSUD Klungkung. Pihak rumah sakit berencana melakukan observasi termasuk kemungkinan melakukan rujukan. Namun pihak keluarga memutuskan mengajak pulang. Gung Ode sempat diajak ke balian di wilayah Banjarangkan karena diprediksi penyakit nonmedis. Lantaran terus meronta-ronta dikira kasurupan.

Ternyata di balian tidak terdeteksi penyakitknya. Baru kemudian dibawa ke seorang mantri di Tegalbesar, Kecamatan Banjarangkan. Di sana dicurigai rabies. Akhirnya kembali dibawa ke RSUD Klungkung Minggu sore. Tak berselang lama, korban dinyatakan meninggal dunia. Yasa yang didampingi istrinya Anak Agung Istri Anom Putriasih,53, tak mampu menyembunyikan kesedihannya saat ditemui di rumah duka Senin (20/5). Beberapa kali Putriasih menyeka air matanya. “Saya kira itu penyakit nonmedis,” ujar Putriasih. Proses upacara makingsan di geni akan dilaksanakan Rabu (22/5) besok. Hingga kemarin jenazah masih dititip di kamar jenazah RSUD Klungkung.

Anak Agung Oka, sepupu korban menuturkan, berdasarkan informasi dari rekan-rekannya, korban digigit konyong saat hendak menyelamatkan konyong tersebut. Katanya, konyong itu dibuang di wilayah Kaliunda. Karena nyakut, korban berusaha menyelamatkannya.

“Cerita teman-temannya, saat menolong anjing itu digigit. Gigitannya kecil,” ujarnya. Meskipun gigitan kecil, beberapa rekan-rekan korban menyarankan melakukan vaksin. Namun korban tidak mau. Korban juga tidak ada cerita dengan keluarganya. Sehingga saat mengeluh sebagaimana ciri-ciri rabies, pihak keluarga tidak ada curiga. Malah menduga penyakit nonmedis. “Sempat diantar pijat oleh pacarnya karena mengeluh lengannya sakit,” tutur Anom.

Selama ini, korban maupun keluarga besarnya memang dikenal penyayang anjing. Terlihat sejumlah anjing peliharaan di pekarangan tersebut. Termasuk seekor anjing peliharaan korban. “Memang dari dulu keluarga kami suka pelihara anjing. Korban pelihara dua ekor anjing. Tapi sudah mati sekitar sebulan lalu, bukan karena rabies. Sekarang tinggal satu,” sebut Anom seraya menunjukkan anjing peliharaan korban.  

Setelah jatuh korban, petugas Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung melakukan eliminasi di wilayah Kaliunda. Kepala Dinas Kesehatan Klungkung Ni Made Adi Swapatni meminta masyarakat yang digigit anjing agar tidak meremehakn gigitan. Sekecil apapun itu harus segara diperiksakan atau disuntik VAR.

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia