Jumat, 21 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Di Rumah Berdaya, ODGJ Juga Bisa Produktif

21 Mei 2019, 08: 41: 37 WIB | editor : I Putu Suyatra

Di Rumah Berdaya, ODGJ Juga Bisa Produktif

BERNILAI EKONOMI: Salah seorang anggota Rumah Berdaya membuat barang kerajinan yang merupakan salah satu dari beragam kegiatan lain ODGJ di Rumah Berdaya. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Dari kejauhan, tampak seseorang tidur pulas dekat pepohonan yang rindang. Saat pandangan terlempar ke tempat lain, ada pula yang sedang bernyanyi. Tangannya telah lama menguasai gitar. Mereka adalah para penghuni Rumah Berdaya, Jalan Raya Sesetan, Denpasar. Ini adalah tempat rehabilitasi para orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) atau orang dengan skizofrenia (ODS). Yang bernaung di bawah Dinas Sosial Kota Denpasar.

Rumah Berdaya beberapa waktu silam sempat menjadi perhatian publik. Saat itu, Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek hadir dan mengapresiasi terobosan yang dicapai Rumah Berdaya.

Dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.Kj, sebagai salah satu pendiri Rumah Berdaya, yang ditemui Bali Express menunjukkan beberapa hasil karya dari anggota Rumah Berdaya. Tampak sususanan rapi baju yang berisi tagline Rumah Berdaya dan pesan moral lainnya. Selain itu, juga terdapat totebag yang berisi tulisan #alumni rumah sakit jiwa, #nostigma, dan tagline dengan pesan moral lainnya. Mata tidak terhenti pada hasil karya tersebut, di pojok ruangan, terlihat dupa-dupa wangi berjejer. Terbungkus dengan rapi. “Ini semua buatan orang di sini,” jelas lelaki yang akrab disapa Dokter Rai, saat ditemui belum lama ini.

Ia mengarahkan Bali Express (Jawa Pos Group) untuk melihat-lihat lukisan karya ODGJ atau ODS yang sudah pulih, satu lagi, sangat berdaya. Lukisan-lukisan berjajar rapi. Permaianan warna merepresentasi rasa dan jiwa seni dari pasien tersebut. Tidak hanya itu, Rai juga menunjukkan lokasi pembuatan sablon, shoes clening, juga rombong atau gerobak jualan yang berwarna-warni.

 “Gagasan itu ada di kami, kalau sejarahnya panjang. Ada saya, almarhumah Bu Ayu dari Dinas Kesehatan, dan seorang seniman Pak Gede. Ketika itu, kami mulai empat tahun lalu. Keadaan saat itu, kesehatan jiwa bukan menjadi prioritas. Artinya, ada masalah. Seperti waktu itu, ada yang dipasung di Padangsambian. Masuk media sebentar, ramai selama dua minggu. Salah ini salah itu, setelah itu reda,” jelasnya.

Ia menambahkan dalam situasi seperti itu, tetap saja sebenarnya tidak usah dipungkiri kalau memang kegiatan atau usaha untuk kesehatan jiwa itu belum ada. “Jadi wajar dan sebenarnya seluruh Bali, Indonesia juga seperti itu kondisinya,” terangnya ditemui sesaat setelah kembali dari tugasnya di RSUD Wangaya.

Lebih lanjut, ia menceritakan bahwa sebenarnya di seluruh Bali, Indonesia, seperti itu adanya. “Dulu ada, Bali bebas pasung 2005, mundur lagi, Indonesia bebas pasung 2010. Artinya, hal-hal itu masih menjadi wacana. Akan tetapi, waktu itu kami melakukan apa yang kami bisa. Jadi waktu itu, saya tamat dan bekerjanya di RSUD Wangaya. Saya sendiri tidak punya minat khusus terhadap Skizofrenia karena stigmanya besar. Kalau orang gangguan jiwa pasti gila atau skizofrenia. Justru pada awal-awalnya saya ingin menangani yang lain.  Tidak mau juga terstigma kalau psikiater ngurusin orang yang gangguan jiwa berat,” jelasnya.

Ia menceritakan saat calon founder bertemu. “Kebetulan yang pegang program jiwa itu dulu Bu Komang Ayu itu, Lucunya dia sarjana ekonomi. Sudah rahasia umum, biasanya kalau bagian jiwa itu orang yang dibuang lah. Akan tetapi, ia punya passion, semangat. Untuk itu, perlahan-lahan, saya tunjukkan ada pasien yang saya tangani waktu itu. Saya tinggal di Monang-Maning. Di gang sebelah rumah saya ada yang dipasung,” jelasnya.

Waktu itu, ia ditunjukkan data. Terdapat sekitar 150 orang atau tidak lebih dari 200 orang di Kota Denpasar pada saat itu mengalami gangguan jiwa. “Itu kan baru data yang melapor saja. Akhirnya kami bergerak, saya ajak beliau untuk homecare. Jadi, ajak kerja sama. Home visit ke rumah-rumah karena kalau kita nunggu di rumah sakit atau puskesmas rasanya tidak maksimal. Sambil kemudian ada juga pelatihan kader jiwa. Jadi, ada masyarakat umum yang dilatih untuk mengenali gangguan jiwa dan cari ke rumah-rumah. Ada yang polanya pakai jumantik, kan masuk ke rumah-rumah,” kenangnya.

Ia menjelaskan melalui program seperti itulah, Dokter Rai dkk menemukan kasus-kasus pasung. “Sebab kalau pertanyaan program kesehatan, itu jangan bertanya, ada tidak di rumah yang mengalami gangguan jiwa? Biasanya pertanyaan itu bias, keluarga gak akan bilang. Akan tetapi kalau dicari, ada ga yang gak bisa kerja, tidak mau keluar rumah, jarang mandi? Nah, pertanyaan seperti itu yang akhirnya membuka,” terangnya.

Di sela obrolan, ia menambahkan bahwa akhirnya saat ini, sudah dua puskesmas dengan kader jiwa. “Di samping dia mencari, juga mengawasi minum obatnya. Kadang satu puskesmas ada sekitar 100 yang ditangani. Tidak mungkin petugas puskesmas yang menangani semua. Masing-masing desa mempunyai lima kader yang mengecek obat. Artinya, dari sini ada kemajuan. Pernah sampai 500-an orang. Sekarang yang tercatat 450 gangguan jiwa berat, skizofrenia sekitar 360 orang tambah yang lain. Misalnya, epilepsi yang lama sehingga jadi ganguan jiwa. Itu tersebar di 11 puskesmas, kemudian kami sekarang mengawasi,” jelasnya.

Ia sempat menyesali pengalaman dengan media. “Kalau dulu kan orang gampang saja orang bikin berita. Berdasarkan riset, ada berita 9000 orang di Bali mengalami gangguan jiwa. Tapi siapa dan mana datanya? Kami berusaha mencari, minimal kami dapat 400-an orang. Lengkap ada nama, alamat, obat dan kapan habisnya. Sehingga tidak menunggu kambuh, ngamuk baru dibawa,” jelasnya.

Sebenarnya ia telah membuat tim penanganan. Mereka merasa kadang-kadang keluarga merasa pasien benar-benar tidak ada bantuan. “Ketika dia ngamuk, tetangga malah musuhin, dilempar, orang perlu bantuan kok. Makanya, kami usul ada tim bersama. Daripada orang hanya videoin atau apa, itu ada penangannya. Sekarang digabung di 112. Jadi ada dokter yang menangani dll kemudian dirujuk,” jelasnya.

Kadang malah ada yang datang dari daerah sebelah, dari Tabanan, tambahnya. “Cuma kendalanya sudah kami tangkap, sudah diobati dan kembalikan lagi. Di sana tidak punya kekuatan kesehatan yang sama seperti di sini. Ada yang dirawat 3 kali, 4 kali. Itu gratis, orang tidak perlu ribut jika ada apa. Telepon 112. Ada yang datang. Tetapi program-program itu tidak terlalu menarik. Kalau masyarakat masih pesimis kalua ODGJ atau ODS ya paling tidak ngamuk,” keluhnya

Ia menjelaskan bahwa posisi mereka tidak punya kekuatan apa. Hanya dokter jiwa di Wangaya. “Akhirnya kami membuat Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) cabang Bali. Empat tahun lalu sudah dibuat. Di FB kami memiliki sampai 2000-an anggota. Nanti orang komen sebagai ODS. Nasehatin ODS lain. Dokter, keluarga, semua bebas berbicara,” terangnya.

Ia menerangkan bahwa pertemuannya dengan teman-teman, pasien di sana pada intinya ini bukan panggilan kemanusiaan atau aksi heroik. “Sebenarnya untuk melindungi diri saya sendiri. Saya jadi dokter ketemu mereka karena BPJS tiap minggu atau tiap bulan. Sebagian besar ODS, gejalanya sudah pulih tapi belum bisa berfungsi kembali. Artinya, ada sesuatu yang diperlukan setelah berobat, obat tetap keharusan,” jelasnya.

“Kami awalnya bertemu di ruang tamu rumah saya, di garasi. Melakukan apa yang kami bisa. Mau nyanyi, presentasi, seperti itu. Setiap dua minggu waktu itu. Akhirnya setelah setahun jalan, kami ketemu seniman. Pak Budi Agung ini seniman komunitas. Biasa bekerja dengan korban pemerkosaan, suku Aborigin, kemudian pindah ke Bali. Dan tanya, saya bisa kerja dengan komunitas apa,” serunya.

Ia menyampaikan bahwa ada komunitas. Akan tetapi, ia sekaligus memberi saran. “Siap-siap ya kamu. Kalau ga tahan, nanti kamu yang putus asa. Sebab ini kan tidak menariklah seperti proyek disabilitas lainnya. Artinya ini boleh dibilang pilihan terakhir untuk berkegiatan sosial,” kenangnya kembali.

Ternyata respons yang didapatkan positif. Seniman tersebut merasa tertantang. Ia juga belajar menangani ini. “Akhirnya kebetulan ada project mabesikan jadi menggabungkan aktivis sosial dengan seniman. Skizofriends art movement tiap minggu waktu itu. Kebetulan momennya, program kesehatan dari Kota Denpasar ada yang bebas pasung. Kami jadikan momen waktu itu, karena kami tidak punya link dengan pemerintah daerah. Tidak memungkinkan kami terus-terusan mandiri,” jelasnya.

Dari berbagai proyek yang pernah dicoba. Ada beberapa yang masih bertahan hingga sekarang. Misalnya, membuat dupa, sablon baju. “Awalnya dari project dengan seniman itu. Akhirnya berlanjut hingga sekarang. Konsepnya berbeda, bukan kami yang mengajarkan mereka tetapi kami berekplorasi bersama. Misalnya, ada projeknya Hindu Pratama berupa sablon baju. Satu ODS yang namanya Hindu Pratama yang dieksplorasi oleh Gede Agung,” jelasnya.

Hindu Pratama diajarkan untuk menuangkan gambarnya menjadi sablonan lalu kemudian membikin workshop. “Yang bikin si Hindu dan dia mengajari teman-temannya. Nah, kan dia bangga bisa melatih,” terangnya. Untuk ODGJ atau ODS butuh pemberdayaan. Kalau barang-barang yang sudah disumbangkan, silakan, katanya. Akan tetapi ODGJ atau ODS tidak bisa hanya lewat sumbangan. Rumah Berdaya salah satunya yang bisa memberikan penyaluran yang tepat.

Waktu itu, ia sempat berbincang dengan Walik Kota Denpasar, Rai Mantra. “Saya bilang kendalanya pada transportasi. Ini gimana saya bayar teman-teman yang antarjemput. Akhirnya beliau mulai bantu dengan memberikan mobil kijang.  Termasuk antarjemput satu mobil ditambah sopirnya dari Kodya. Dengan begitu, jadi lebih banyak yang bisa ikut,” terangnya.

Sampai saat ini, Rumah Berdaya yang baru Januari kemarin pindah ke Sesetan dari Hayam Wuruk Denpasar semakin menunjukkan taringnya. Salah satu anggotanya, Gus Moyo sudah berhasil membuat buku. “Ada pesanan tas jazz untuk event jazz. Selain itu, yang sudah teratur itu produksi dan distibusi dupa. Kami sudah masukkan ke instansi pemerintah di Denpasar. Kami berlobi ke instansi pemerintah untuk ganti merek dupanya dengan merek kami,” terangnya.

Melalui perhatian pemerintah, kerja sama dengan berbagai pihak dan juga semakin berdaya anggotanya, untuk makan siang sudah dapat bantuan dari Dinas Sosial. “Apapun yang dikerjakan di sini, akan kembali kepada yang mengerjakan. Jadi tidak ada lagi kas. Hanya saja, kami kan baru pindah dari Januari. Sewaktu di Hayam Wuruk, usaha cuci motor sudah ramai. Sehari bisa sampai 12-14 motor. Dulu kami membuka Rumah Soto Joss (RSJ). Teman-teman juga yang melayani. Hasilnya lumayan juga. Kami ingin masyarakat berpartisipasi aktif ikut terlibat,” jelasnya.

Mengenai kebutuhan, ia menjelaskan bahwa transportasi masih menjadi kendala. “Kendalanya satu jemput ke Denpasar utara atau Denpasar lainnya, bisa bolak-balik, tapi kan siang. Habis di jalan. Solusinya, punya gak nih masing-masing kelurahan atau pakai dana desanya, yang punya angkot daerah itu. Angkot yang antar pagi hari dan sorenya jemput. Selain ingin trasnportasi yang baik, kami berharap ada di tiap puskesmas punya yang berbasis seperti ini. Bisa kan mereka berdaya di rumah masing-masing atau di bale banjarnya. Tanpa harus datang jauh-jauh kemari. Kami siap melatih. Jadi lebih banyak hal yang kita kerjakan,” harapnya.

Di Rumah Berdaya sendiri jumlah pasien reguler yang tergabung berjumlah 26 orang. Syarat untuk bisa masuk harus skizofrenia dan sudah berobat. Syarat berikutnya keluarga harus mau datang untuk pertemuan tiap dua minggu sekali. “Supaya tidak hanya ODS-nya saja yang berubah lebih akif, tapi keluarganya gak mau. Kan istilahnya dibuang. Kami juga tidak menerima menginap. Itu hanya alasan supaya mereka (keluarga) tidak mengurus. Kami membantu, pagi sore pulang. Banyak orang yang berpikir, begitu kumat, ngamuk, bawa saja ke Rumah Berdaya. Tidak begitu, kami bukan fasilitator kesehatan. Nanti kalau sudah lebih tenang, boleh ke Rumah Berdaya. Kami bukan panti. Kalau panti untuk yang terlantar,” tutupnya.(akd)

(bx/aim/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia