Selasa, 12 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pahami Beda Kamar Suci dengan Gedong Suci Agar Keturunan Tak Sengsara

21 Mei 2019, 08: 53: 53 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pahami Beda Kamar Suci dengan Gedong Suci Agar Keturunan Tak Sengsara

KHUSUS : Pinisepuh Pasraman Sastra Kencana, Jro Wayan Budiarsa meritual khusus umat yang datang ke Pasraman Sastra Kencana di Banjar Tegak Gede, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Jembrana. (PASRAMAN SASTRA KENCANA FOR BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, JEMBRANA - Belakangan jumlah penekun spiritual kian banyak. Polah dan caranya pun beragam untuk menunjukkan eksistensinya. Untuk memantapkan praktiknya, tak sedikit dari mereka membuat Kamar Suci dan Gedong Suci. Dua tempat ini dianggap maknanya sama, padahal sangat beda.

Pinisepuh Pasraman Sastra Kencana, Jro Wayan Budiarsa menjelaskan, Kamar Suci adalah salah satu kamar dari rumah tinggal yang disucikan untuk menyimpan benda bertuah dan alat - alat suci. Di samping juga menjadi  tempat menenangkan diri, belajar dan segala kegiatan yang suci. Sedangkan Gedong Suci adalah suatu rumah yang didirikan secara khusus untuk menyimpan benda-benda bertuah, peralatan suci dan sembahyang serta menenangkan diri secara khusus.
Pada tingkat dasar, Kamar Suci digunakan untuk menyimpan busana suci, banten, atau alat upacara sejenisnya. Pada tingkat lebih tinggi, fungsi Kamar Suci sebagai tempat sembahyang, semedi, dan belajar tentang ilmu kesucian atau agama. Dan, pada puncaknya, fungsi Kamar Suci adalah tempat pelayanan spiritual.

Menurut tatwa sastra dalam toleransi kemanusiaan yang berketuhanan, lanjut pria 52 tahun yang akrab disapa Guru Nabe Budiarsa ini, umat Hindu Bali khususnya membentuk tatanan tempat suci yang bisa selaras dan serasi dengan toleransi antarumat beragama dalam tatanan satu rumah. Hal ini terwujud dalam konsep berketuhanan yang berimbang, yang bisa memberi ruang dan waktu bagi umat lain untuk melakukan kegiatan berketuhanan di rumah sendiri. Semua itu  terlihat seperti adanya tempat khusus untuk keluarga yang disebut  Merajan. Tidak boleh orang di luar anggota Merajan, karena terkait trah atau darah keleluhuran.


"Di halaman rumah dibangun tempat suci, baik Surya maupun Taksu Geginan, merupakan tempat bagi sesama umat Hindu apapun warna dan darah keturunannya, disinilah tempat pemujaannya," papar Guru Nabe Budiarsa yang tinggal di Banjar Tegak Gede, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Jembrana.


Di Kamar Suci, lanjutnya, adalah tempat sembahyang lintas agama atau Tuhan yang bersifat universal. "  Umat apapun mau datang minta tolong pada orang yang paham dan menjalankan spiritual, dilaksanakan di Kamar Suci," ujarnya.


Ditegaskan Jro Wayan Budiarsa, sesungguhnya tempat suci umat Hindu Bali terbagi dalam tiga fungsi, yaitu  Merajan untuk intern keluarga, kemudian bangunan suci di halaman rumah untuk sesama umat, dan Kamar Suci untuk lintas agama. "Inilah pertanda umat Hindu Bali memahami toleransi antar-manusia, namun tidak melepaskan identitas kehinduannya," ujarnya kepada Bali Express pekan lalu di Jembrana.


Dari paparan yang telah dijelaskan, lanjutnya, sesungguhnya umat Hindu Bali wajib punya Kamar Suci, agar bisa menyimpan benda-benda bertuah dan sarana suci lainnya.
Benda bertuah perlu Kamar Suci, lanjutnya, karena  memiliki kekuatan gaib, baik berupa gelombang energi maupun roh gaib dalam benda.

"Agar energi dan rohnya tidak mengganggu kehidupan kita, maka perlu dimasukkan dalam Kamar Suci, kemudian diritual agar kekuatan negatifnya tidak liar mengganggu pemiliknya," ulasnya.


Ditambahkannya, kekuatan gaib yang liar dari benda-benda bertuah paling cepat menciptakan suasana tidak nyaman di rumah, apalagi tidak bisa meritual, hanya bisa merawat dan naruh saja.

"Bila asal main taruh saja, maka benda-benda bertuah itu akan memancarkan berbagai energi yang tak terkontrol serta gaib penghuni yang liar. Pada tingkat yang lebih tinggi, benda bertuah bisa menjadi penghancur nomor satu bila tidak paham merawat sesuai sifatnya," katanya.
Disarankan Jro Wayan Budiarsa, kalau punya banyak benda gaib wajib punya Kamar Suci, supaya bisa dikumpulkan lalu diberi ritual, agar kekuatan dalam benda itu tidak mengganggu kehidupan diri sendiri.

"Hasil survei kami, 70 persen orang pecinta benda-benda gaib berakhir memprihatinkan," ujarnya.

Lalu, apa perbedaan Kamar Suci dengan Gedong  Suci? Menurut Jro Wayan Budiarsa, Kamar Suci adalah salah satu kamar yang disucikan secara khusus untuk fungsi sesuai keinginan. "Apabila si pemilik Kamar Suci itu adalah seorang spiritual, maka ketika kelak sudah tidak bisa lagi melakukan tugas spiritualnya atau setelah meninggal, keturunannya bisa dengan mudah mengembalikan fungsi Kamar Suci itu sebagai kamar biasa. Maka, anak keturunan tidak diikat untuk ngiring taksu leluhur, pelangkiran bisa disomya atau antukang karena keturunannya tidak mampu ngiring taksu leluhur. 

"Leluhur waliang ke Merajan, Bhatara sasuhunan antukang ke Sunia. Kemudian sentana bebas mau pergi bekerja sesuai profesinya," bebernya.

Sedangkan Gedong Suci adalah sebuah bangunan yang dibentuk secara khusus dijadikan tempat dan Kamar Suci. "Karena dibentuk menjadi tempat suci, sesungguhnya kita sama dengan membangun tempat suci sejenis gedong," ujarnya.


Dampak kedepan adalah ketika orang bersangkutan tidak mampu lagi atau meninggal, maka akan mewariskan taksu secara permanen yang wajib disembah sungsung oleh sentana keturunan seterusnya.

"Apabila ditinggal pergi, maka akan dituntut kembali pulang untuk ngiring taksu leluhur. Kalau kondisinya sudah seperti itu, lanjutnya, akhirnya nasib sentana sangat berat. Ditinggal pergi kerja tidak diizinkan, ditungguin di rumah iringang tidak bisa 'makan' karena tidak bisa dan kurang ngerti ngiring taksu. Jadi, seluruh karma yang diperbuat oleh leluhur harus ditanggung sentana.

"Pratisentana dilematis  ketika leluhur punya Gedong Suci, seketurunan harus ngiring taksu, tak bisa kerja sembarangan dan tak bisa pergi jauh. Apapun bentuk taksu yang diiring, maka itu yang diwarisi sekarang. Bahkan, banyak yang menjadi miskin karena tak diizinkan kerja jauh. Karena itu, Jro Wayan Budianta meminta agar  berhati-hatil kalau menjadi pelaku spiritual, agar anak (sentana) tidak mewarisi masalah di kemudian hari.

"Berbahagialah kalau leluhur ngiring taksu bisnis, maka semua sentana mewarisi bakat jadi pebisnis," paparnya.

Kalau leluhur ngiring taksu yang hanya sibuk sembahyang, tapi tidak ada apa-apa,  lanjutnya, maka seketurunan akan mewarisi itu semua.


"Bapaknya jadi dukun, anaknya akan tertuntut jadi dukun. Bapaknya jadi mangku, anaknya dituntut jadi mangku. Bapaknya jadi pengusaha, anaknya punya bakat jadi pengusaha. Bapaknya punya taksu ilmu hitam, maka anaknya bisa akan mewarisi itu semua.Begitulah, sesungguhnya nasib generasi kita ada di-tangan kita," pungkasnya.

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia