Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Alit Dilimpahkan Ke Kejati Bali, Minta Laporannya Ditindaklanjuti

21 Mei 2019, 19: 52: 55 WIB | editor : Nyoman Suarna

Alit Dilimpahkan Ke Kejati Bali, Minta Laporannya Ditindaklanjuti

BARANG BUKTI : A.A Alit Wiraputra saat akan dilimpahkan ke Kejati Bali menunjukkan barang bukti yang dikantonginya. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Berkas perkara kader Partai Gerinda A.A Alit Wiraputra yang kini berstatus tersangka, resmi dilimpahkan Dit Reskrimum Polda Bali ke Kejati Bali pada Selasa (21/5) sekitar pukul 10.00. Alit terjerat kasus penipuan pengurusan izin pelebaran kawasan Pelabuhan Pelindo Benoa, Bali, yang merugikan korban Sutrisno Lukito Disastro hingga mencapai Rp16 miliar.

Tersangka yang juga mantan ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bali ini digiring dari ruang pemeriksaan menggunakan kemeja putih dan rompi tahanan berwarna orange. Ia masuk ke dalam mobil tahanan Polda Bali dengan pengawalan ketat, menuju ke Kejaksaan Tinggi Bali dengan berkas dan barang bukti lengkap.

 "Jadi ini yang baru terungkap tahun 2018. Namun masih banyak yang akan kami ungkap pelan-pelan. Yang pertama bahwa perizinan sudah selesai, dan semua izin diambil Pak Lihadnyana pada 15 Februari 2018. Apa maksudnya mengambil izin,  ini yang kami belum tahu," terang Alit.

“Saat itu I Ketut Lihadnyana menjabat Plt Bapedda. Dan ini disembunyikan, tidak disampaikan ke kami, sehingga  proses ini bisa berjalan. Dan penyidik juga tidak tahu ini. Ini baru ketemu  2 sampai 3 minggu yang lalu,” lanjutnya. 

Barang bukti surat pernyataan tersebut, menurut Alit, cukup menunjukkan bahwa proses kerja sama ini sudah selesai. Namun justru menyeret Alit ke balik jeruji besi. Hal inilah, menurut Alit, salah satu bentuk kriminalisasi izin pengembangan Pelabuhan Benoa atas nama PT BSM.

"Teman-teman, dalam sidang saya, aktif  ya... Hadir. Dan juga teman - teman mahasiswa S1 dan S2 Universitas Udayana, Saraswati dan Warmadewa untuk aktif ikut. Karena di sidang ini akan muncul banyak hal-hal yang disembunyikan, dihilangkan. Dan intrik-intrik di sini akan muncul semua, bagaimana mereka semua berbohong terhadap ini," ucapnya.

Menurut Alit, hal ini tidak lain bertujuan untuk menjatuhkan, mendiskreditkan dan mengorbankan dirinya. "Dan terlihat seperti sekarang. Ini luar biasa. Ini pembunuhan karakter dan juga untuk menjatuhkan saya. Saya minta laporan saya  ditindaklanjuti," tegasnya.

Untuk diketahui, kasus ini bermula dari kesepakatan kerjasama antara tersangka dan korban Sutrisno Lukito Disastro dab Abdul Satar selaku pengembang dan pemilik dana untuk mengurus proses perizinan ke Pemprov Bali terkait izin pelebaran kawasan Pelabuhan Pelindo Benoa, pada 26 Januari 2016.

Antara tersangka dan korban lantas membentuk PT Bangun Segitiga Mas (BSM) yang rencananya bekerjasama dengan PT Pelindo III, dimana tersangka yang akan membuat drafnya untuk diajukan ke PT Pelindo III.

Dalam kesepakatan itu, korban akan mengeluarkan uang Rp 30 miliar untuk biaya operasional sampai izin itu keluar dari Gubernur Bali saat itu. Namun pembayaran pertama diberikan korban kepada tersangka Rp 6 miliar untuk audiensi dengan Gubernur Bali saat itu. Pembayaran tahap kedua Rp 10 miliar, juga diterima tersangka untuk mendapatkan izin rekomendasi dari Gubernur.

Sampai kucuran dana mencapai Rp 16 miliar, ijin rekomendasi dari Gubernur Bali saat itu tidak kunjung keluar. Sehingga korban melaporkan kejadian tersebut.

(bx/afi/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia