Jumat, 21 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Aliansi Mahasiswa Bali Gelar Aksi Tolak People Power

21 Mei 2019, 22: 52: 14 WIB | editor : Nyoman Suarna

Aliansi Mahasiswa Bali Gelar Aksi Tolak People Power

ORASI: Sejumlah peserta aksi penolakan people power di depan Monumen Bajra Sandhi Renon, Denpasar, Selasa (21/5). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Beberapa kelompok mahasiswa dan kelompok lain yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Bali Tolak People Power, menggelar aksi di depan Monumen Bajra Sandhi, Denpasar. Aksi yang berlangsung Selasa (21/5) itu, merupakan bentuk penolakan mereka terhadap rencana people power yang bakal berlangsung di Jakarta.

Dalam aksi tersebut, beberapa organisasi ikut ambil bagian, seperti Aliansi Mahasiswa Bali, meliputi KMHDI Bali, Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia Bali (Peradah Bali), Aliansi Pemuda Hindu Bali, dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Bali (IMM). Sementara itu, mahasiswa lainnya yang ikut tergabung, berasal dari PNB, Undiksa, Stikom, Warmadewa, Udayana, Saraswati, Ngurah Rai, UNHI, IHDN, dan beberapa kampus lainnya.

Dalam orasinya, terdapat tujuh poin sikap dan seruan, seperti penyampaian prihatin dengan kondisi kebangsaan saat ini, yang jauh dari semangat persatuan. Kemudian menolak segala bentuk upaya pecah belah kehidupan berbangsa dan bernegara. Menolak rencana people power yang kontraproduktif dengan iklim demokrasi di negeri ini.

Mereka juga menyampaikan belasungkawa atas gugurnya pahlawan demokrasi, dan mendukung penuh langkah KPU dan Bawaslu. Lalu menyerukan rekonsiliasi nasional demi tegaknya NKRI. Serta mengajak seluruh elemen bangsa untuk lebih fokus menyalurkan energi masing-masing, dalam upaya menyelesaikan problematika kebangsaan yang lebih besar.

I Wayan Dharmayasa dari Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) selaku koordinator aksi menyatakan, menolak people power yang inkonstitusional. “Maksud dari inkonstitusional tersebut, yakni melanggar beberapa aturan hukum yang berlaku. Salah satu alasan yang kami tidak terima dari gerakan people power, karena tidak menerima hasil KPU. Berikutnya, kami selalu melihat people power itu lahir dari penderitaan rakyat, seperti rakyat kelaparan, korupsi. Dan termasuk di Indonesia pernah tercatat,” jelas mahasiswa Mahasaraswati tersebut.

Dia menambahkan, sejatinya people power itu sah-sah saja (dilakukan). Terpenting alasan dari people power itu harus jelas. “Kami mahasiswa dan pemuda, sering kali juga melakukan people power atau gerakan massa. Hari ini yang ingin kami inginkan negara dapat kembali bersatu. Melakukan rekonsiliasi nasional, itu maksud kami,” paparnya.

“Jangan sampai negara ini terus-terusan terjadi disintegrasi, terpolar menjadi dua. Cebong dan kampret itu istilah yang sering dipakai. Dan kami menolak itu. Kami memilih untuk tetap menegakkan NKRI, persatuan Indonesia. Itu yang kami harapkan,” tutupnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

(bx/wid/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia