Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Mata Air Pura Beji Selati Bertuah Obati Penyakit dan Pelebur Karang

22 Mei 2019, 08: 58: 58 WIB | editor : I Putu Suyatra

Mata Air Pura Beji Selati Bertuah Obati Penyakit dan Pelebur Karang

MELUKAT: Pamedek malukat di Pancuran Tri Mala dan Panca Mala, Pura Beji Selati, Bangli, ramai berdatangan, apalagi saat hari penting umat Hindu. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Beberapa sumber mata air di Bali sangat disucikan.  Umat Hindu  mempercayai sumber air menjadi tempat pembersihan untuk para dewa. Beberapa sumber air yang diyakini membawa tuah kini dikembangkan menjadi objek wisata spiritual.

Warga Banjar Selati, Desa Bunutin, Kecamatan Bangli, kini mengelola sumber air yang terletak di sisi Sungai Sangsang itu menjadi tempat malukat (membersihkan jasmani dan rohani).
Menurut warga di Banjar Selati, sumber mata air di Pura Beji Selati ini menjadi tempat patoyan atau pasucian bagi Ida Bhatara Pura Pusering Dalem Pingit, Banjar Selati.

Dijelaskan mantan Bendesa Adat Selati, I Ketut Nada, dahulu hanya terdapat satu pancuran yang mengucur di dinding tebing. Lama kelamaan, beberapa titik air muncul hingga menciptakan lima sumber mata air baru. "Suatu ketika, saya pernah sakit keras. Sudah dibawa berobat medis, nonmedis juga sudah. Saya tidak bisa bangun. Saya sendiri yang mengalami," ujar  I Ketut Nada kepada Bali Express (Jawa Pos Group), kemarin di Pura Beji Selati, Bangli.

Suatu malam Ketut Nada mengaku bermimpi aneh. "Tukad (sungai) Sangsang bersih. Tidak seperti kenyataan yang banyak batu. Pas saya bangun, dan melihat sungainya memang  bersih. Persis seperti mimpi. Saya berjanji, kalau saya sembuh, saya akan menata pancuran yang ada," tutur Ketut Nada.

Setelah berjanji bakal menata dan membangun lokasi malukat, kondisi fisik Ketut Nada berangsur membaik. Sejak saat itu dia mengajak warga lainnya melakukan gotong royong. Menata akses jalan untuk kendaraan maupun jalan setapak. Di tengah perjalanannya, kata Nada, rencana itu mendapat penolakan dari sejumlah warga. Hal itu diketahui ketika warga bersiap melakukan penataan, tapi air di pancuran tiba-tiba tidak mengucur.


"Mungkin di pikiran warga ada yang tidak setuju dengan rencana penataan.  Mungkin itu sebab airnya tidak mengalir. Tapi, setelah diyakinkan, ada salah satu mangku mengimbau warga untuk kerja bakti, beberapa hari kemudian airnya kembali mengucur," terang pria bertubuh kurus ini.

Ketut Nada yang kini ditunjuk sebagai pengelola Pura Beji Selati mengungkapkan, sumber mata air itu sudah ada sejak dulu. Namun, akses untuk menuju ke sumber mata air terbilang terjal. Warga sempat membersihkan area tersebut agar mudah dilalui.


Usaha untuk mengembangkan wisata spiritual sudah tercetus 10 tahun lalu. Namun, karena mengalami banyak kendala, warga baru bisa memulainya setahun terakhir. Dari lima sumber mata air yang ada, kini dipecah menjadi beberapa pancuran.


Ada enam pancuran, yakni Pancuran Tri Mala, Panca Mala, Asta Pungku, Dasa Mala, Tirta Pingit, dan Tirta Bangkwanta. Secara niskala air dari semua tirta dipakai untuk melebur (membersihkan)  karang (pekarangan), memohon keturunan, hingga mengobati berbagai penyakit medis dan nonmedis. "Masing-masing nama itu didapat berdasar sabda. Kami tidak pernah menanyakan soal nama pancuran itu ke orang-orang pintar atau pedanda. Kami semua sama mendapat wahyu kalau nama pancuran itu atas kehendak beliau yang berstana di sini," pungkasnya.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia