Selasa, 15 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Features

Tiga KK di Bangli Tidur dalam Tenda, Mandi Andalkan Air Hujan

22 Mei 2019, 17: 09: 04 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tiga KK di Bangli Tidur dalam Tenda, Mandi Andalkan Air Hujan

TINGGAL DI TENDA: Keluarga Ketut Bulat tinggal bersama dalam satu tenda. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

Tidak ada rumah. Hanya ada bangunan berdinding kayu peninggalan leluhur yang tak begitu luas. Juga ada dapur tua yang dindingnya miring seperti mau ambruk. Dapur itu berhadapan dengan tenda berbahan terpal. Di dalam tenda, tiga kepala keluarga (KK) biasanya tidur berhimpitan.

AGUS EKA PURNA NEGARA, Bangli

MESKI tinggal di atas lahan seluas 76 are, Ketut Bulat, 47, dan keluarga tetap tidur di bawah tenda. Mereka memang tidak punya balai atau rumah di atas lahan itu sejak lama. Sebab status tanah milik desa.

Mereka yang tinggal di sana juga wajib mengikuti aturan adat dan membayar “upeti” berupa beras 2 kilogram per are tiap tahun. Jadi tiga KK tersebut wajib menyerahkan 152 kilogram beras kepada pihak desa adat.

Rabu (22/5) siang, koran ini mengunjungi Ketut Bulat ke rumahnya, di Dusun Penaga, Desa Yangapi, Tembuku, Bangli. "Nggih, kanggeang, tidak ada tempat duduk," sapa Ketut Bulat, jadi orang pertama yang menyambut tamu.

Ketika mulai masuk pekarangan, tamu disambut balai kayu yang sudah usang. Balai berwarna coklat berukuran 3 x 4 meter itu ditempati ayah Ketut Bulat, Wayan Mudia, 80 dan istri, serta anjing putih yang diikat. Sedangkan Ketut Bulat tidur di dalam tenda bersama istri dan dua keluarga lainnya. Yakni sang anak Nengah Rusman, 23, beserta keluarga, dan adiknya, Wayan Sutama, 39, beserta keluarga. Jika ditotal ada tujuh orang dalam satu terpal. 

Ketut Bulat adalah satu dari tiga KK kurang mampu. Ketiganya merupakan satu keluarga. Mereka tinggal dalam satu pekarangan. Sebelum tinggal di lahan yang ditempati sekarang, tiga KK tersebut pernah tinggal di Desa Bonyoh, Kintamani. Ayah mereka yang memulai merantau selama puluhan tahun.

Mereka bekerja sebagai petani jeruk. Saat itu keluarga Bulat belum punya pekerjaan tetap sehingga memutuskan pergi ke Desa Bonyoh. Di sana, mereka diberikan izin tinggal di satu rumah beserta lahan yang digarap. Mereka juga dikenakan aturan adat. Puluhan tahun di sana membuat Bulat dan keluarga makin menyatu dengan warga lokal.

Namun belakangan situasi makin sulit. Kebutuhan ekonomi kian mendesak membuat dirinya dan keluarga memutuskan kembali ke tanah asal di Dusun Penaga, Desa Yangapi. Dengan harapan mengurangi beban kehidupan. "Saya baru balik ke sini (Dusun Penaga) sekitar 1,5 bulan lalu," ujarnya.

Namun setelah balik, tiga keluarga ini kebingungan karena tak ada bangunan yang bisa ditempati. Lama berselang, mereka terpaksa mengandalkan bantuan orang-orang. Beruntung, atas perhatian para warga sekitar dan relawan, tenda itu dapat berdiri. Dananya berasal dari para donatur. Ketut Bulat dan keluarga dapat tidur nyenyak. Ada dua kasur besar, dilengkapi meja, dan perabotan lainnya.

Setelah tenda berdiri, bukan berarti masalah tuntas. Saat malam atau menjelang hujan, mereka dibuat waswas. Kalau sudah hujan, jangan tanya. Airnya bisa masuk ke dalam. "Kalau hujan pasti panik," kata adik Ketut Bulat, I Wayan Sutama. Pria bertubuh tambun itu lantas menunjuk ke arah bak penampungan air. Dia ingin memberitahu kalau mereka kesulitan mencari air bersih. Ironis, bukannya menampung air bersih, justru yang ditampung adalah air hujan.

Kalau mandi, Sutama menggunakan air hujan yang sebelumnya sudah ditampung. Kalau tidak hujan, mungkin bisa dibayangkan. Di samping itu, keluarga tersebut belum memiliki toilet. "Terpaksa mandi di luar. Tidak ada ruangan. Tapi ditutup pakai kain. Biar tidak kelihatan, mandinya malam saja," tutur istri Sutama yang tak berkenan menyebut nama.

Nengah Rusman, anak sulung Ketut Bulat mengaku waswas setiap bolak-balik masuk dapur. Itu karena dindingnya sudah miring nyaris ambruk. Atapnya juga sudah tak beraturan. "Takut runtuh," sambung Rusman.

Kepala Dusun Penaga I Nengah Rijasa sempat berkoordinasi dengan Dinas Sosial Bangli soal bantuan bedah rumah. "Desa sudah mengajukan ke kabupaten, dijanjikan bedah rumah melalui anggaran perubahan 2019. Bebebrapa relawan juga berencana membantu supaya pembangunan rumah lebih cepat dilakukan," tegas Rijasa. (*)

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia