Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Jadi Skala Prioritas, Perbaikan Tanggul Munduk Bebengan Butuh Rp 3,4 M

22 Mei 2019, 20: 07: 43 WIB | editor : Nyoman Suarna

Jadi Skala Prioritas, Perbaikan Tanggul Munduk Bebengan Butuh Rp 3,4 M

TAK SURUT: Meski pasokan air sedikit, tak menyurutkan semangat petani di Subak Jelekungkang, Desa Tamanbali, tetap membajak sawah, (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Sudah dua bulan tanggul Munduk Bebengan di Banjar Tegalalang, Kelurahan Kawan, Bangli, ambrol. Ini tak terlepas dari efek hujan deras yang mengguyur Bangli, Maret 2019 lalu. Akibat hujan deras, air sungai Anakan Dedari membludak dan membuat tanggul penahan air jebol.

Petani di delapan subak di bagian hilir terancam mengalami kekurangan pasokan air. Air tidak mengalir optimal ke beberapa subak yang sebagian besar berada di wilayah Kelurahan Bebalang dan Desa Tamanbali. Akibatnya petani saling berbagi air.

Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Kawasan Pemukiman (PUPRKim) Bangli sudah mengusulkan Dana Alokasi Khusus (DAK) ke Kementerian PU sebesar Rp 3,4 miliar. Dana ini dipakai untuk memperbaiki tanggul, termasuk mengganti saluran irigasi di sekitarnya.

Sebelumnya, kalangan DPRD Bangli mendesak perbaikan ini masuk skala prioritas. "Kami sudah usul ke pusat (kementerian), tapi belum tahu kapan (dana) turun. Yang jelas, perbaikan ini masuk skala prioritas," jelas Sekretaris Dinas PUPRKim Bangli I Made Soma, saat ditemui Rabu  (22/5).

Soma menyebut, rencana perbaikan saluran irigasi dialihkan dengan pembuatan terowongan. Pembangunan terowongan dianggap tidak membutuhkan dana terlalu besar jika dibanding dengan membuat saluran irigasi terbuka. "Karena kita pasti bangun bendungan lagi, jadi dananya double," ucap birokrat asal Singapadu Tengah, Gianyar, itu.

Dia berharap para petani bisa memaklumi. Dengan keterbatasan anggaran yang dimiliki, Pemkab Bangli belum bisa melakukan perbaikan cepat. "Karena kita memohon dana ke pusat dan pengerjaannya mulai tahun 2020, terpaksa petani menunggu lumayan lama untuk pemulihan pasokan air," kata Soma.

Tanggul Munduk Bebengan yang jebol membuat ratusan hektar lahan pertanian di Subak Tampa Deha dilanda kekeringan. Subak Tampa Deha terdiri atas Subak Pecala, Talibeng, Umatai, Siladan, Umanyar, Jelekungkang, Sidawa, dan Gancan.

I Nengah Mendra, kelihan Subak Tampa Deha mengaku pasrah dengan kondisi saat ini. Dia memaklumi keterbatasan pemerintah soal dana, sehingga perbaikan belum bisa dilakukan segera. "Ya, pemerintah provinsi juga diharapkan membantu. Kalau mengandalkan daerah, sudah tidak mungkin karena pendapatan daerah sudah sedikit," ujar Mendra.

Untuk sementara, petani di Subak Jelekungkang, di Desa Tamanbali, Bangli, masih bisa bagi-bagi air. Meski tergolong sedkit, bagi petani, sudah dianggap cukup untuk sementara waktu. "Yang penting tidak kering seperti di subak lain. Kami di sini masih bisa atur," timpal salah seorang petani subak Jelekungkang Nyoman Retig.

Retig mengatakan, pasokan air yang sedikit, memang mempengaruhi kualitas padi. "Padi jadi kurang sehat. Nanti pengaruhnya ke panen. Kalau nanti tidak ada hujan, air irigasi sedikit, padi bisa kering," pungkasnya.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia