Kamis, 20 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Sidak Makanan Buka Puasa, BPOM Temukan Takjil Mengandung Zat Berbahaya

22 Mei 2019, 20: 50: 21 WIB | editor : Nyoman Suarna

Sidak Makanan Buka Puasa, BPOM Temukan Takjil Mengandung Zat Berbahaya

SIDAK TAKJIL: Kepala BPOM Denpasar IGA Adhi Aryapatni didampingi Ketua TP PKK Buleleng, IGA Aries Sujati saat sidak takjil di Jalan Jeruk, Rabu (22/5) siang. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Denpasar menemukan tiga jenis takjil yang dijual di ruas Jalan Jeruk, Singaraja terbukti mengandung zat berbahaya. Dari ketiga jenis makanan tersebut, dua di antaranya mengandung Rhodamine B di sirup es serta mutiaranya dan satu jenis makanan di kerupuk yang mengandung Boraks.

Pengawasan terhadap kudapan berbuka puasa ini dilakukan langsung Kepala BPOM Denpasar IGA Adhi Aryapatni. Ia didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Buleleng, I Gusti Ayu Aries Sujati. Terlihat juga Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Dagprin) Buleleng, Ketut Suparto dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan drh. Surya Temaja.

Saat dilakukan pengawasan di sepanjang Jalan Jeruk, BPOM meneliti sebanyak 20 sampel makanan yang dicurigai. Puluhan sampel itu pun diuji oleh BPOM. Dari 20 sampel itu, hanya tiga sampel makanan atau 15 persen yang terbukti mengandung zat berbahaya.

“Rhodamin B dan Boraks ini sifatnya karsinogenik. Jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama, pasti akan memicu kanker. Selain itu berpengaruh terhadap pencernaan, ginjal dan hati. Efeknya jangka panjang,” ujar Adhi Aryapatni.

Pihaknya sudah mencoba berbagai strategi untuk mengantisipasi penggunaan Rhodamine B dan Boraks yang digunakan di bahan pangan. BPOM, sebut Adhi, mengklaim telah mengedukasi masyarakat agar tidak lagi menggunakan bahan berbahaya tersebut.

“Kami ketemunya kan di hilir. Di jajan sudah jadi. Kami sudah intervensi peredaran dan investigasi pengedarnya. Ini karena ada suplay, ada demand. Masyarakat harus cerdas, jangan tertarik dengan makanan yang warnanya mencolok,” imbuhnya sembari mengingatkan kepada penjual takjil untuk berhenti menggunakan zat berbahaya dalam produk olahannya.

Selain melakukan pengawasan terhadap takjil, BPOM juga melakukan pengawasan terhadap sejumlah toko, supermarket dan warung yang menjual parcel Lebaran di Singaraja. Hasilnya, BPOM menemukan 22 kemasan produk makanan yang dianggap tak layak edar. Penyebabnya, kemasan produk yang dijual sudah rusak, bahkan ada makanan yang sudah kadaluarsa.

“Dari pengawasan, sekitar 85 persen produk itu kami temukan dalam kondisi kadaluarsa. Ini kami temukan di warung dan toko. Alasannya sih, itu produk yang terselip, karena mereka tidak rutin cek barang. Untuk itu kami lakukan pembinaan dan produknya kami sita,” tegas Adhi.

(bx/dik/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia