Selasa, 12 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali
Kasus Penganiayaan Siswi

Hasil Visum Dan Keterangan Saksi Nyaplir, Rencanakan Pra Rekonstruksi

22 Mei 2019, 22: 54: 01 WIB | editor : Nyoman Suarna

Hasil Visum Dan Keterangan Saksi Nyaplir, Rencanakan Pra Rekonstruksi

Kasat Reskrim Polres Klungkung AKP Mirza Gunawan (I MADE MARTAWAN/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, KLUNGKUNG - Polres Klungkung terkesan gamang menangani kasus penganiyaan siswi SMA Pariwisata Saraswati Klungkung, yang diduga dilakukan I Gusti Made Suberata, kepala SMA tersebut. Buktinya, penyidik belum berani menetapkan tersangka.

 

Kasat Reskrim Polres Klungkung AKP Mirza Gunawan kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (22/5) menjelaskan, belum berani menetapkan tersangka atau menutup kasus dugaan penganiayaan  yang dilaporkan siswa SMA Pariwisata Saraswati Klungkung, Ni Komang Putri, 18 beberapa hari lalu.

Putri melaporkan kepala sekolahya, I Gusti Made Suberata. Setelah menerima hasil visum korban yang dilakukan RSUD Klungkung dan meminta keterangan saksi, penyidik berencana menggelar pra-rekonstruksi di tempat kejadian, yakni sekolah setempat.

Pra-rekonstruksi dianggap penting karena belum ada kecocokan hasil visum dengan keterangan saksi, yakni guru I Gusti Ngurah Sanjaya, I Wayan Aristana, serta Kepala Sekolah (Kepsek) Suberata sebagai terlapor.

Hasil visum menerangkan, ada satu luka di bibir bagian dalam korban. Hanya saja, hasil visum tidak merinci penyebab lukanya. “Baru korban saja bilang luka itu karena gurunya. Saksi lain dari guru-guru , tidak menerangkan penyebab lukanya,” jelas Mirza.

Dengan demikian, lanjut dia, perlu dilakukan pra-rekonstruksi.  Semua pihak yang sekiranya mengetahui kejadian akan dilibatkan. Sebab keberadaan CCTV di sekolah itu juga tidak merekam  semua kejadian. Rekaman CCTV sebatas merekam adegan saat siswa dipegang kepalanya oleh Suberata.

 “Apakah gara-gara dipegang dia luka, kan kami belum tahu. Nanti lihat di pra-rekon. Jadwal masih diagendakan,” jelas perwira dengan tiga balok di pundak tersebut.

Selain itu, polisi juga akan meminta keterangan dokter yang memeriksa luka korban. Hal itu dilakukan untuk mengetahui kemungkinan penyebab luka. “Kalau tambahan keterangan dari guru, sepertinya tidak,” tandas perwira asal Aceh tersebut.

Dugaan penganiayaan terjadi saat  pelepasan siswa kelas XII SMA Pariwisata Saraswati Klungkung, Kamis (9/5). Kejadian berawal saat Putri ditegur salah seorang gurunya karena tidak menggunakan pakaian adat sebagaimana siswa kelas XII lainnya.

Saat itu Putri menggunakan celana panjang, baju putih dan pakai jas. Gara-gara itu, dia ditegur seorang guru. Tidak diperkenankan berada di barisan. Putri sempat bersitegang dengan seorang guru, akhirnya datang Suberata.

Suberata mengajak Putri ke ruang Tata Usaha (TU) karena malu ada ribut-ribut ketika acara akan dimulai. Saat mengajak ke ruang TU, Putri mengaku ditarik-tarik oleh kepala sekolahnya. Bahkan didorong ke ruang TU hingga jatuh yang kebentur lantai hingga mulutnya luka dan berdarah.

(bx/wan/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia