Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Mengurai Subak dari Aspek Keagamaan

23 Mei 2019, 18: 45: 03 WIB | editor : Nyoman Suarna

Mengurai Subak dari Aspek  Keagamaan

INDAH : Sawah tak hanya memberikan hasil yang berlimpah, tapi juga suguhkan alam yang indah. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

Tidak sekadar menjadi sistem perairan sawah di Bali. Subak sudah menjadi identitas umat Hindu di Bali. Selain  dianggap  menjadi bagian tradisi, juga  cenderung sakral karena ada berbagai prosesi  upakara.

SUBAK   tak bisa terlepas dari aspek Tri Hita Karana. Yakni hubungan  harmonis manusia dengan Tuhan (Parhyangan), hubungan manusia dengan sesamanya (Pawongan), dan hubungan harmonis manusia dengan alam (Palemahan).
Tri Hita Karana juga dapat dikatakan sebagai tiga unsur pokok yang membangun sistem Subak. Dimana unsur Parhyangan berupa Pura Subak atau Pura Ulunsuwi, Pura Bedugul atau Pura Ulun Empelan. Kemudian unsur Pawongan yaitu seluruh anggota Subak dan yang terikat dalam kesatuan masyarakat. Serta unsur Palemahan, yaitu wilayah Subak sebagai satu kesatuan sumber air dan tempat para anggotanya melakukan aktivitas.
Berdasarkan temuan dalam prasasti yang ditulis di atas daun lontar dan lempengan tembaga, sistem perladangan dan sistem persawahan yang teratur sudah ada di Bali pada tahun 882 Masehi.
Dalam prasasti Sukawana Al tahun 882 Masehi terdapat kata 'huma' yang berarti sawah dan kata 'perlak' yang berarti tegalan. Sedangkan dalam prasasti Raja Purana Klungkung yang berangka tahun 994 (1072 M) itu, disebutkan kata 'Kasuwakan' yang kemudian menjadi 'Suwak' atau 'Subak'. Keaslian sistem ini juga diperkuat dengan lontar Markandya Purana yang berisi  bahwa yang mengurus sawah seperti menggarap sawah dan sebagainya dinamakan Subak. Sedangkan yang diberikan tugas untuk mengurus dan menyelenggarakan pembagian air di sawah dan di ladang disebut Pekaseh.
Sebagai suatu organisasi, Subak juga memiliki struktur organisasi yang terdiri dari prajuru Subak atau pengurus Subak, dan anggota Subak. Prajuru Subak terdiri dari Pekaseh atau pemimpin Subak, penyarikan atau sekretaris, juru raksa atau bendahara, juru arah atau saya atau kasinoman atau penyalur informasi dan pembawa pesan.
Di samping itu, Subak memiliki piranti atau perlengkapan berupa awig-awig Subak atau peraturan subak sebagai aturan yang dibuat dan disepakati oleh anggota melalui rapat Subak. Kemudian Kulkul atau kentongan yang akan dipukul untuk memanggil anggota agar segera hadir di Bale Subak. Pemasih atau daftar anggota Subak, dimana pada zaman dulu anggota Subak akan mendapatkan 'cane' atau gulungan sirih sebagai tanda kehadiran mereka. Lalu, ada Janggi atau pengukur waktu yang dipersiapkan untuk menentukan besaran sanksi bagi yang terlambat hadir. Serta ada Wurak atau bambu kecil sebagai identitas petugas ronda. "Hal ini lah aspek Pawongan dalam Subak dimana semuanya harus berjalan seimbang, sehingga tercipta hubungan harmonis antaranggota subak," ujar Kepala UPT Museum Subak Tabanan, Ida Ayu Ratna Pawitrani.
Ditambahkannya, untuk aspek Palemahan dapat dilihat dalam hal air. Air merupakan salah satu kebutuhan manusia. Maka dari itu kita patut bersyukur dan berbakti kepada Tuhan atas karunia tersebut. Sebagai wujud syukur dan bakti kepada Tuhan, anggota Subak yang beragama Hindu melakukan Yadnya di tempat sumber-sumber air seperti danau, sungai, laut, dan lainnya yang memiliki daya sakral. "Upacara ini biasanya disebut Mapekelem atau Mapelabuh," ujar
Ida Ayu Ratna Pawitrani kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) di Tabanan, kemarin.
Dalam hal ini, lanjutnya,  berbagai benda hingga binatang digunakan sebagai sarana upakaranya. Yadnya dihaturkan untuk memohon agar sumber air tetap lestari dan memberikan kemakmuran, sekaligus  menunjukkan aspek Parhyangan. "Sebagaimana kita ketahui keberadaan air merupakan kunci dari sistem Subak itu," imbuhnya.
Dan, dalam melakukan kegiatan persawahan, petani di Bali senantiasa berpedoman pada iklim dan hari yang dipandang baik menurut perhitungan Kalender Bali atau biasa disebut Duwasa Ayu. Kalender Bali biasanya disebut Tika. "Semua kegiatan di sawah mulai dari mengairi sawah, membajak sawah, menanam, itu semua menggunakan pedoman Kalender Bali untuk menentukan hari baiknya, tentu dengan harapan mendapatkan hasil yang maksimal," terangnya.
Setelah sawah beberapa hari digenangi air, maka petani akan memulai mengolah tanah. Pekerjaan pertama yang dilakukan adalah Ngendag amacul, yaitu tanah dicangkul atau digemburkan menggunakan tambah atau cangkul, kemudian diratakan  menggunakan tulud atau peed. Kemudian untuk membersihkan rumpur diteras sawah digunakan sorok, dan untuk pematang sawah menggunakan penampad.
Sedangkan untuk sawah yang luas dapat menggunakan tenggala, lampit, dan pemelasah. Tenggara  berfungsi untuk membalikkan tanah, dilanjutkan dengan ngelampit, menggemburkan tanah dan diakhiri dengan melasah menggunakan alat yang disebut Pemelasah. "Sebenarnya untuk membajak sawah, petani juga biasa menggunakan kerbau, ada yang satu ekor kerbau atau sapi digunakan untuk sawah bertingkat, atau dua ekor kerbau atau sapi untuk sawah datar," sambung Pawitrani.
Sementara untuk sawah terasering, setelah tanah dicangkul dan dibersihkan, maka tanah digemburkan atau dihaluskan menggunakan grinding dan diratakan menggunakan tulud.
Kemudian kegiatan petani dilanjutkan dengan pembibitan padi. Setelah benih ditabur di salah satu sudut petakan sawah. Saat  melakukan kegiatan di sawah, untuk melindungi diri dari terik matahari dan hujan, petani biasa menggunakam capil klukuh, capil upih, capil bambu, maupun capil yang dibuat dari anyaman daun kelapa. "Setelah pengolahan tanah selesai, petani  menanam padi. Kemudian nantinya juga menyiangi dan memupuk," paparnya.
Saat menunggu padi siap dipanen, petani biasanya memasang lelakut atau orang-orangan sawah untuk menakut-nakuti burung serta membuka kepuakan. Kepuakan dibunyikan disertai teriakan agar burung-burung tidak memakan padi.  Di Bali panen masih menggunakan peralatan tradisional seperti anggapan dan arit untuk memotong padi, penatapan untuk merapikan ikatan padi, pengeretan untuk mengencangkan ikatan padi.Sebelum panen, petani membuat Dewa Nini dari padi sebagai sarana memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kemudian nantinya padi disimpan di Lumbung yang dimiliki petani di masing-masing rumah," tandasnya.

(bx/ras/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia