Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Mengenal Beragam Ritual Terkait Subak

23 Mei 2019, 18: 49: 19 WIB | editor : Nyoman Suarna

Mengenal Beragam Ritual Terkait Subak

PROSESI : Sebelum panen, berbagai prosesi ritual harus dilakukan petani, agar hasil panen melimpah. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

Kehidupan Subak berdasarkan sistem yang dianut saat ini di bidang sosial keagamaan, masih berjalan sesuai tradisi. Kegiatan ini umumnya dapat dilihat lewat  kegiatan upacara keagamaan.


UPACARA yang dilakukan  anggota Subak pada garis besarnya dapat dibagi dua,  yaitu upacara yang dilakukan secara perorangan dan upacara yang dilakukan secara berkelompok (tempekan / subak).
Upacara yang dilakukan secara perorangan diantaranya Ngendagin/Mamungkah/Nuasen Tesun. Upacara ini dilakukan pada saat memulai kegiatan di sawah untuk bertanam. Tujuannya sebagai permakluman pada Tuhan atau Dewa Dewi yang berada di sawah.
Kemudian ada Ngawitwit yang dilaksanakan pada waktu petani menabur benih di pembibitan. "Petani memohon kepada Tuhan agar bibit yang disemai segera tumbuh," ujar  Kepala UPT Museum Subak Tabanan, Ida Ayu Ratna Pawitrani kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) di Tabanan, kemarin. Selanjutnya ada upacara Nuasen Nandur yang dilaksanakan pada saat akan menanam padi.  Tujuannya memohon kepada Tuhan agar proses penanaman padi berjalan lancar. Lalu, upacara Ngulapin dilakukan setelah selesai menanam padi atau ada padi yang rusak. "Tujuannya memohon agar padi yang ditanam tumbuh dengan baik dan tidak ada yang rusak," imbuhnya.
Selanjutnya ada upacara Ngeroras dilakukan saat padi berumur 12 hari. Mubuhin saat padi berusia 15 hari. Neduh saat padi berusia satu bulan. Nyungsung/Ngiseh saat padi berusia 42 hari. Lalu Mabiukukung saat padi mulai bunting atau biasanya berusia 70 hari. Tujuannya sama, adalah memohon agar padi tumbuh dengan baik dan terhindar dari serangan hama.
Upacara selanjutnya adalah Nyangket atau Mabanten Manyi yang dilakukan saat panen. Selanjutnya Mantenin yang dilakukan pada saat padi disimpan di lumbung sebelum diolah menjadi beras.
Sedangkan untuk upakara secara berkelompok ada Mapag Toya yang dilakukan oleh Subak pada saat mengalirkan air untuk pertama kali. Biasa dilakukan pada lokasi sumber air. Kemudian Nedun yang biasa dilakukan Subak di Pura Bedugul atau Ulunsuwi dengan tujuan meredam serangan hama tanaman. Ada juga Ngusaba Nini, dimana upacara ini dilakukan Subak menjelang panen dengan mengumpulkan Nini sebagai perwujudan Dewi Sri sebagai Dewi Kesuburan dengan maksud mengucapkan terima kasih dan syukur atas segala karunia dan memohon keselamatan.
Di samping itu, banyak sekali simbolis kearifan hidup yang diperlihatkan oleh Tuhan kepada umat manusia, khususnya petani. Salah satu dari sekian simbolis tersebut adalah pelaksanaan Nyepi di Sawah yang perlu direnungkan, diinterpretasikan kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nyepi sebagai simbolis pembersihan buana agung dan buana alit dengan unsur-unsur pertiwi, apah, teja, bayu, dan akasa. Sekali dalam seminggu buana agung dan buana alit perlu dibersihkan dan disucikan, yang nantinya akan menghasilkan untuk kehidupan. Secara sekala, Nyepi di sawah sangat bermanfaat bagi keseimbangan hidup.
Tak hanya itu, dalam pertanian musuh petani adalah hama. Salah satu sarana yang dipakai untuk menolak hama (nangkluk merana) adalah melalui sarana kesenian. Dalam Usadha Sawah juga disebutkan cara penanggulangan hama tanaman padi dengan melaksanakan upacara atau upakara yang dilakukan pada beberapa pura yang diyakini memiliki hubungan atau sebagai penguasa terhadap hama tersebut, seperti Pura Masceti sebagai penguasa tikus, Pura Sakenan sebagai penguasa walang sangit. Selain sarana upakara untuk mengatasi padi yang terserang wereng, dapat diatasi dengan menanam pohon kelapa yang tersambar petir pada pengalapan (saluran air masuk) sawah dan disertai dengan mantra khusus.

(bx/ras/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia