Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Warga Terunyan Gelar Upacara Ngaben, Bade Diusung Empat Perahu

23 Mei 2019, 21: 26: 17 WIB | editor : Nyoman Suarna

Warga Terunyan Gelar Upacara Ngaben, Bade Diusung Empat Perahu

BADE: Bade pengusung sawa ke kuburan diangkut dengan empat perahu untuk menyusuri Danau Batur, Kamis (23/5). (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Untuk pertama kali warga dadia Gajah Para di Desa Terunyan, Kintamani, Bangli, melaksanakan ngaben secara massal, Kamis (23/5). Upacara ini tergolong langka, karena diadakan setiap sasih desta dan disepakati berdasarkan tanda-tanda alam.

Lebih unik lagi, warga membawa bade melalui Danau Batur dengan empat perahu yang dirapatkan. Ratusan warga yang terdiri atas keluarga satu keturunan atau trah itu, saling bahu-membahu dalam setiap rangkaian prosesi.

Panitia upacara I Ketut Jaksa menjelaskan, ngaben massal tersebut hanya diikuti warga yang masih dalam satu keturunan atau trah, yakni dadia Gajah Para. Perbedaan antara ngaben massal desa dengan dadia, yakni tidak semua warga Terunyan mengikuti ngaben. “Kalau dadia, masih satu keturunan. Dalam satu desa ada 17 dadia,” kata Jaksa.

Ada 20 kepala keluarga (KK) yang melaksanakan ngaben. Mereka yang memiliki kerabat yang sudah meninggal, dan belum diaben bisa mengikutinya. Warga menggunakan sarana upacara yang disebut sawa sebagai simbol badan kasar atau jenazah. Sawa dibagi dua, yakni dewasa sebanyak 14 sawa dan anak-anak termasuk bayi sebanyak 27 sawa.

Tak heran kalau jenazah disimbolkan dengan sawa. Sebab ketika warga Terunyan meninggal dunia, jenazahnya hanya diletakkan di atas tanah dengan ditutupi anyaman bambu. Prosesi itu sudah berlangsung berabad-abad. Jenazah juga tidak menimbulkan bau, karena di kuburan terdapat pohon besar yang menjadi penawarnya. Pohon itu disebut Taru Menyan yang jadi asal-usul nama Desa Terunyan.

 “Karena jenazah belum diaben. Inilah kesempatan kami untuk membayar utang budi kepada leluhur atau orang tua. Mengembalikan badan kasar ke lima asal yang disebut Panca Maha Butha,” terang Jaksa.

Sebelum ngaben digelar,  krama (warga) berembug menentukan hari baik. Penentuan hari baik pun tidak sembarang. Selain harus bertepatan sasih desta atau setahun sekali, para sesepuh atau orang suci biasanya menggunakan tanda alam, seperti letak bintang untuk menentukan hari baik. “Walaupun sudah bertepatan sasih desta, belum tentu bisa dilaksanakan,” sambungnya.

Saat puncak acara, berbagai ritual dilaksanakan. Sawa-sawa yang sebelumnya ditempatkan di tempat khusus, selanjutnya diletakan di atas bade (tempat jenazah). Setelah siap, bade dibawa menuju kuburan Terunyan menggunakan perahu yang dirapatkan. Krama pria ikut di atas perahu. Bertugas menggotong bade, dan mengangkatnya menuju kuburan. Sedangkan warga lainnya mengikuti dari perahu lainnya.

Sesampainya di kuburan, sawa-sawa itu dibasuh layaknya jenazah yang dimandikan. Setelah dimandikan, barulah diupacarai lengkap. Sawa tidak dibakar, melainkan diletakan di atas tanah, serta ditutup ancak saji (semacam daun).

Bagi warga Terunyan, ngaben adalah prosesi wajib sebagai wujud bakti kepada terhadap leluhur. Bahkan mendiang yang sudah meninggal berpuluh tahun silam wajib diaben. “Termasuk orok yang gugur, atau bayi baru lahir tapi meninggal, wajib diupacarai supaya mendapat tempat yang layak,” pungkasnya.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia