Rabu, 21 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Bali

PDAM Buleleng Naikkan Tarif Dasar Air

24 Mei 2019, 11: 33: 04 WIB | editor : Nyoman Suarna

PDAM Buleleng Naikkan Tarif Dasar Air

Direktur Utama PDAM Buleleng, Made Lestariana. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Tarif dasar air minum yang dikelola Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Buleleng dipastikan naik per tanggal 1 Juni 2019 mendatang. Kenaikannya mencapai 10 persen. Dari  sebelumnya senilai Rp 2.130 per meter kubik,  kini naik menjadi Rp 2.343 per meter kubik. Itu berarti terjadi kenaikan sebesar Rp 213 per meter kubik. 

Direktur Utama PDAM Buleleng, Made Lestariana ditemui Kamis (23/5) mengatakan, kenaikan tarif air minum ini sejatinya rutin dilakukan setiap tahun. Hal tersebut telah tercantum dalam peraturan Bupati Buleleng tahun 2014, yang sebelumnya sudah disosialisasikan, dan telah mengantongi surat keputusan dari DPRD Buleleng Nomor 7 tahun 2014, tentang rekomendasi tarif air minum. 

Tarif air yang pada 1 Juni mendatang sebesar Rp 2.343 per meter kubik itu diklaim Lestariana sudah memenuhi asas keterjangkauan atau sesuai dengan standar kebutuhan pokok air minum. Tarif yang diberlakukan, khususnya bagi pengeluaran rumah tangga, tidak melampaui 4 persen.

"Kami mengacu pada Upah Minimun Provinsi, di mana pada 2019 ini UMK Buleleng sekitar Rp 2.3 juta. Apabila diasumsikan satu keluarga terdiri dari lima orang, pemakaian air rata-rata 18 meter per kubik, maka setiap kepala keluarga membayar rekening air per bulannya Rp 72.920," jelasnya.

Diungkapkan Lestariana, ada tiga alasan mengapa pihaknya menaikan tarif air minum. Pertama karena biaya operasional dan pemeliharaan mengalami kenaikan, lantaran harga barang dan materialnya meningkat.

Kedua karena keterbatasan dana perusahaan dalam rangka investasi pengembangan kapasitas produksi. Dan yang ketiga untuk memperluas jaringan pipa guna meningkatkan cakupan pelayanan.

Di samping itu, selama ini imbuh Lestariana, ada anggapan bahwa PDAM Buleleng mendistribusikan air dengan sistem gravitasi saja. Sejatinya, kapasitas produksi PDAM saat ini 749 liter per detik yang berasal dari 16 mata air dan 37 sumur dalam. 

Artinya, 81.95 persen menggunakan sistem perpompaan dengan listrik PLN. Dan sebesar 18.05 persen menggunakan gravitasi, sehingga besarnya rekening listrik harus dibayar oleh PDAM Buleleng setiap bulannya pun mencapai Rp 957 juta. 

Sementara untuk wilayah Kecamatan Busungbiu, akan mendapatkan perhatian lebih dari pihak PDAM Buleleng. Pihaknya akan memberikan tarif yang lebih murah, yakni Rp 1.760 per meter kubik, mengingat pelayanan yang diberikan belum maksimal. 

"Ini juga dilakukan agar pemakaian air lebih efisien. Air tanah dari waktu ke waktu semakin berkurang. Inilah yang sangat spesifik sehingga air harus dikelola sebaik-baiknya. Sesuai dengan UUD, air dikuasai negara, dan digunakan untuk kemakmuran masyarakat," tutupnya.

(bx/dik/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia