Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

160 Anggota PKK dan WHDI Ikuti Pelatihan Tari Rejang Renteng

24 Mei 2019, 12: 21: 32 WIB | editor : Nyoman Suarna

160 Anggota PKK dan WHDI Ikuti Pelatihan Tari Rejang Renteng

SOSIALISASI: Sebanyak 160 anggota PKK mengikuti sosialisasi dan pelatihan Tari Rejang Renteng, di Ruang Sidang Utama Kantor Bupati Gianyar, Kamis (23/5). (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR – Sebanyak 160 anggota TP PKK dan WHDI se-Kabupaten Gianyar mengikuti sosialisasi dan pelatihan Tari Rejang Renteng,  Kamis (23/5). Sosialisasi yang digelar di Ruang Sidang Utama Kantor Bupati Gianyar itu, menghadirkan narasumber Ida Ayu Made Diastini dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Dalam kesempatan itu, Diastini mengatakan, Tari Rejang Renteng sebenarnya termasuk tarian sakral. Namun saat ini bisa dilombakan, jika berkaitan dengan piodalan.

Dipaparkan olehnya, cikal bakal Tari Rejang Renteng terinspirasi dari Tari Renteng, yang merupakan tari sakral sangat tua di Banjar Adat Saren, Desa Pakraman Mujaning Tembeling, Desa Dinas Batumadeg, Dusun Saren Satu, Nusa Gede. Kemudian tahun 1999, tarian ini berhasil dikembangkan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, dalam upaya pemerintah melestarikan tarian langka.

 “Kini Tari Rejang Renteng berfungsi sebagai tari wali. Artinya dapat ditarikan pada saat piodalan di pura. Namun tarian ini juga dapat dilombakan, asal berkaitan dengan piodalan atau wali di pura,” jelasnya.

Ditambahkan olehnya, koreografi dari Tari Rejang Renteng sudah merupakan pengembangan dari gerakan-gerakan asli Tari Renteng. Digabungkan dengan beberapa elemen gerakan yang ada pada Tari Mendet pada saat piodalan di pura-pura di Bali. Sehingga Tari Rejang Renteng kini berfungsi sebagai tari wali saat piodalan di pura, baik piodalan alit, madya dan ageng.

Lebih lanjut dipaparkan, untuk busana para penari, katanya, memang diharuskan memakai kebaya putih polos lengan panjang. Kemudian selendang kuning, dan kain cepuk tenunan kuning. Warna putih pada kain kebaya mengandung filosofi, badan manusia itu sakral perlu dijaga dari hal-hal yang tidak baik.

Sementara itu, Ketua TP PKK Gianyar Ny Surya Adnyani Mahayastra mengatakan, Tari Rejang Renteng sudah mulai menggeliat di Gianyar dua tahun terakhir. Pihaknya sendiri sudah mulai mensosialisasikan tarian ini melalui PKK hingga ke banjar-banjar. Namun tak dipungkiri, selama ini hanya bisa menarikan, tanpa mengetahui sejarah dan makna tarian tersebut.

 “Sekarang saatnya kita sama-sama belajar, bagaimana sejarah dan makna dari Tari Rejang Renteng. Apakah tarian ini harus ditarikan ibu-ibu saja, dan busana apa saja yang boleh digunakan, dan sebagainya,” imbuhnya.

(bx/ade/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia