Selasa, 12 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Di Setra Adat Kesian, Upacara Ngaben Dibarengi Tabuh Rah

24 Mei 2019, 22: 55: 11 WIB | editor : Nyoman Suarna

Di Setra Adat Kesian, Upacara Ngaben Dibarengi Tabuh Rah

UNIK: Pembakaran jenazah yang dibarengi dengan pelaksanaan tabuh rah di Setra Adat Kesian, Desa Lebih, Gianyar, Jumat (24/5). (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR – Prosesi upacara pitra yadnya yang berbeda ada di Setra Adat Kesian, Desa Lebih, Gianyar, Jumat (24/5). Pembakaran jenazah yang ditempatkan di lembu hitam, dibarengi dengan ritual tabuh rah. Ritual tersebut merupakan penghormatan terakhir dari warga yang merupakan rekan-rekannya sesama penghobi atas ajaran almarhum  I Dewa Made Alit terkait tata titi tabuh rah.

  “Ini adalah penghormatan terakhir kami kepada Dewa Kak (almarhum Dewa Alit). Selama ini beliaulah guru kami untuk memberikan arahan tentang cara memelihara hingga mengadu ayam secara tradisional,” ujar I Nyoman Utik, warga setempat yang juga mengaku sebagai murid almarhum Dewa Made Alit.

Lanjut Utik, Alit adalah sosok yang semasa hidupnya serba sederhana. Namun, di balik kesederhanaannya, almarhum memiliki vibrasi untuk menongkati generasi muda penghobi pengayam-ngayaman (tentang ayam aduan).

 “Almarhum tidak serta merta bertaruh, namun lebih banyak memberikan arahan agar memetik filosofi dari ayam beradu dan banyak hal lainnya agar kita tetap kontrol diri,” tambah Utik. 

Di tempat yang sama, salah satu putra almarhum, Dewa Putu Anom menceritakan, semasa hidup, ayahnya memang memahami tata cara pengayam-ayaman secara tradisional. “Beliau juga sering mewanti agar rekannya senantiasa membatasi diri. Buktinya, almarhum tak pernah jual tanah selama menekuni tabuh rah ini. Malah, meski sebagai petani, beliau mampu menabung dan membeli sebidang lahan pertanian,” kisahnya.

 Anom menambahkan, semasa hidupnya tabuh rah selalu dijadikan tongkatan mendidik anak-anaknya. Mulai dari sikap ikhlas saat tidak mampu menghadapi cobaan hidup, namun tetap akan ada peluang untuk menang di kemudian hari. Kemudian penanaman nilai sportivitas, saling menerima keadaan tanpa irihati, melainkan harus tetap memiliki motivasi, dan terpenting adalah persaudaraan.

 “Walaupun kami anak-anaknya kadang sulit memahami, namun apabila dijalankan dalam keseharian dengan berpikir rasional, kami baru rasakan sekarang saat beliau telah pergi,” tandasnya.

Jenazah almarhum I Dewa Made Alit diupacarai di Kuburan Adat Kesian, Gianyar. Bersaranakan padma dan lembu hitam, iringan prosesi menuju kuburan pun berjalan lancar. Namun, khusus untuk pengarak lembu adalah dari kalangan petugas Damkar Gianyar, karena kebetulan salah satu putra almarhum bertugas di dinas setempat. Sedangkan penyandang bade dari anggota banjar setempat.

Sesampainya di kuburan, setelah jenazah dipindahkan ke lembu, pemandangan menarik mulai terlihat. Sekumpulan warga penghobi tabuh rah langsung menyiapkan ayam aduannya. Saat api disulut ke patung lembu, tabuh rah pun dimulai. Ayam yang kalah pun lari dan dibiarkan lepas sedangkan yang menang diamankan oleh pemiliknya.

(bx/ade/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia