Kamis, 20 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Nelayan Hilang Belum Ditemukan, Keluarga Korban Tempuh Jalur Niskala

25 Mei 2019, 08: 39: 19 WIB | editor : Nyoman Suarna

Nelayan Hilang Belum Ditemukan, Keluarga Korban Tempuh Jalur Niskala

BERDOA: Tim Basarnas Buleleng berdoa sebelum melakukan proses pencarian nelayan yang hilang di wilayah Kecamatan Tejakula. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, TEJAKULA - Sudah empat hari Ketut Suwiana, 51, dinyatakan hilang. Pos SAR Buleleng pun terus melakukan upaya pencarian terhadap pria asal Banjar Dinas Kawanan, Desa Penuktukan, Kecamatan Tejakula, tersebut. Sayangnya, hingga Jumat (24/5) siang, Suwiana belum juga ditemukan.

Kepala Pos SAR Buleleng Dewa Putu Hendri Gunawan menjelaskan, proses pencarian dilakukan dengan melibatkan delapan anggota Basarnas. Selain itu juga melibatkan Satuan Polair Kubu, Karangasem. Pencarian dilakukan mulai pukul 08.00 hingga pukul 11.00 di wilayah 20 Nautical Mile (mil laut), perairan Bondalem, Kecamatan Tejakula.

“Hasilnya masih nihil. Cuaca juga kurang mendukung. Arusnya kencang dan ombak tinggi. Kami mencari hingga perairan Desa Bondalem,” ujar Hendri Ginawan saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jumat (24/5) siang.

Selain pencarian oleh Tim SAR, pihak keluarga juga melakukan upaya agar korban berhasil ditemukan. Seperti diungkapkan menantu korban, Kadek Rupiantini, 30. Dikatakannya, pihak keluarga sudah menanyakan ke sejumlah orang pintar untuk mengetahui keberadaan dan kondisi mertuanya Suwiana.

“Kemarin memang sudah matuun (meminta penerawangan orang pintar, red) di Kintamani, ada juga di daerah Buleleng. Biar tahu kondisi bapak (korban, red). Apa masih hidup atau bagaimana. Katanya sih masih hidup, dan sekarang, katanya berada di arah barat laut,” ujar Rupiantini saat ditemui di pinggir pantai Penuktukan.

Proses meminta petunjuk secara niskala itu ditempuh, untuk membantu memudahkan pencarian. “Ya, percaya tidak percaya. Dengan laut luas begini, mau cari kemana. Siapa tahu benar ada petunjuk untuk memudahkan proses pencarian,” imbuh dia.

Rupiantini menceritakan, mertuanya adalah sosok pekerja keras. Korban yang sudah menjadi nelayan sejak remaja itu juga dipercaya sudah mengalami pahit dan kerasnya berjuang mencari penghidupan di tengah laut. Apalagi korban sempat mengalami tragedi terseret arus hingga ke Sulawesi, sekitar 13 tahun lalu. Korban Suwiana juga dikenal sebagai nelayan yang berani dan bandel.

Karena tuntutan ekonomi pemenuhan kebutuhan keluarganya, dia tak pandang bulu untuk pergi melaut. Tak jarang dia melaut saat kondisi gelombang pasang, tanpa menggunakan keselamatan menangkap ikan seperti life jacket.

Rupiantini juga menceritakan, sebelum mertuanya pergi melaut pada Senin (20/5) dini hari, sempat dianjurkan untuk tak melaut oleh tetangganya yang berjualan es batu.

Saat itu dia sempat akan membeli es batu untuk mengawetkan hasil tangkapan. Namun karena es batu yang dijual tetangganya belum beku penuh, Suwiana pun dianjurkan untuk tidak melaut. Hanya saja, dia lagi-lagi kekeh dan memaksakan membawa es batu yang belum beku sepenuhnya itu.

Tingkah lakunya yang dianggap janggal oleh keluarga sebelum dilaporkan hilang saat melaut, juga terjadi saat Suwiana berangkat melaut, Senin (20/5) lalu pukul 03.00. Korban, menurut istrinya Made Sugi, tumben menutup pintu pagar rumahnya saat berangkat. Padahal selama bertahun-tahun, saat hendak pergi melaut, tak pernah menutup pintu.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus nelayan hilang kembali terjadi di Buleleng. Kali ini dialami seorang nelayan bernama Ketut Suwiana. Pria ini hilang setelah melaut di perairan Desa Penuktukan, Kecamatan Tejakula,  Senin (20/5), sekitar pukul 02.30.

Korban Suwiana diketahui pergi mencari ikan di perairan Desa Penuktukan bersama anaknya Made Ardiaman, 25. Keduanya berangkat melaut dengan menggunakan jukung yang berbeda. Keduanya sampai di rumpon sekitar pukul 07.00. Setelah beberapa jam melaut, keduanya malah tidak bertemu. Namun sekitar pukul 14.00, jukung milik korban ditemukan anaknya terkatung-katung di tengah laut perairan Desa Penuktukan, dalam kondisi tanpa awak.

(bx/dik/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia