Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Ada 51 Palinggih dan Sumur Misterius di Pura Desa dan Puseh Samayaji

25 Mei 2019, 14: 37: 42 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ada  51 Palinggih dan Sumur Misterius di Pura Desa dan Puseh Samayaji

LUAS : Areal Jeroan Pura Desa sekaligus Pura Puseh Desa Pakraman Beratan Samayaji di Kelurahan Beratan, Kecamatan Buleleng sangat luas. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Pura Desa sekaligus Pura Puseh Desa Pakraman Beratan Samayaji di Kelurahan Beratan, Kecamatan Buleleng, sangat unik. Selain memiliki palinggih yang sangat banyak, mencapai 51 buah,  di  jeroan pura terdapat sumur misterius yang diyakini tembus hingga ke areal Pura Labuhan Aji, Desa Temukus, Kecamatan Banjar.

Puluhan palinggih yang ada di Pura Desa dan Pura Puseh Desa Pakraman Beratan Samayaji,
disungsung oleh keturunan krama dari soroh Pande. Menariknya, seluruh palinggih yang ada di Pura Desa tersebut posisinya nyatur bhuwana. Palinggih tidak hanya menghadap ke Utara maupun Barat saja. Namun, ada juga palinggih yang posisinya menghadap ke Timur dan Selatan.
Kelian Desa Pakraman Beratan Samayaji, Ketut Benny Dirgariawan  mengatakan, hingga kini krama Desa Pakraman Beratan Samayaji, belum mengetahui secara pasti kapan pura tersebut dibangun. Namun, dari pengamatan beberapa ahli, baik dari Balai Arkeologi Denpasar dan akademisi yang pernah nangkil (berkunjung) ke pura desa itu, disebut-sebut dibangun sekitar abad kesebelas.


Hal teresebut dikuatkan dengan tatanan palinggih yang ada dan dibuat nyatur bhuwana yang berorientasi kepada empat arah mata angin. Dari puluhan palinggih yang ada di pura itu, disebutkan bahwa ada sembilan palinggih yang diduga dibangun pertama oleh leluhur krama setempat. Sedangkan sisanya disesuaikan dan dibangun secara bertahap.


Sembilan palinggih tersebut adalah Palinggih Gesong Aun-Aun, yang merupakan stana keris pajenengan yang memiliki luk sebelas dengan gagang berlapis emas. Dikatakan Ketut Benny, jika Keris yang dibuat Krama Pande Emas itu sempat digunakan oleh Ki Barak Panji Sakti untuk berperang. Setelah memenangkan pertempuran, Keris itu kembali distanakan di pura tersebut. “Setiap pujawali bertepatan Tumpek Landep, keris keramat itu dikeluarkan. Saat itu harus digunakan untuk memotong tenggorokan babi. Kami yakini itu sebagai tumbalnya. Kalau tidak seperti itu, khawatir makan korban manusia,” ujar Benny kepada Bali Express (Jawa Pos Group) saat ditemui di Pura Desa Beratan Samayaji.


Benny menambahkan, ada pula Pelinggih Luhur Ring Akasa. Pelinggih ini merupakan stana manifestasi Tuhan tertinggi berwujud Siwa, yang juga melambangkan Purusa. Ada pula Palinggih Klepa yang berhadapan dengan Palinggih Luhur Ring Akasa, yang melambangkan simbol Pradana stana Dewi Durga. Di Palinggih Klepa tersebut ada sebuah sumur kramat sebagai tempat pakelem di pura tersebut.


Selanjutnya ada pula Palinggih Dewa Bagus Manik Wayan, Palinggih Ida Bhatara Dalem Sagening, Palinggih Gunung Beratan, Palinggih Ida Batara  Sakti, Palinggih Mutering Jagat, Palinggih Ida Batara Gunung Agung.


Sembilan palinggih tersebut memiliki pangamong masing-masing dari krama. Dimana setiap kali piodalan yang bertanggung jawab atas banten aturan, kelengkapan wastra dan keperluan lainnya, ditanggung oleh keluarga yang bersangkutan.


Banyaknya palinggih di Pura Desa dan Puseh membuat eedan (prosesi) pujawali di pura desa Pakraman Beratan Samayaji berlangsung cukup panjang. Dimulai sejak Sasih Karo yang dimulai dari Palinggih Paakan di Tubung. Saat itu diwajibkan menggelar upacara Medah Wada, yang merupkan upacara menghilangkan kemalangan.


Selanjutnya pada Sasih Katiga odalan dilanjutkan di Palinggih Ida Batara Dalam Segening dengan menghaturkan upacara Usaba Asuji. Upacara terus dilanjutkan pada Sasih Kapat di Palinggih Klepa, dengan upacara Dangsil Suun, menghaturkan pakelem bebek putih jambul dan ayam putih tuulus yang dilakukan tepat pada tengah malam.


Pada sasih tersebut juga dilakukan Usaba Sambah di Palinggih I Ratu Taman, dengan menghadirkan satu Ayunan Jantra. Dua ayunan gantung yang seluruh prosesi dilakukan di jaba tengah pura.


Pada Sasih Kalima dilakukan upacara Usaba Dangsil Mategen di Palinggih I Ratu Gunung Agung, Palinggih I Ratu Batara Sakti, Palinggih Karang Wisnu, dan Palinggih Pasar Agung. Piodalan pun masih berlanjut pada Sasih Kaenem dengan piodalan Palinggih I Ratu Sakti, dengan menggelar Tabuh Rah Keklecam. Selanjutnya pada Sasih Kapitu piodalan di Palinggih I Ratu Taman dengan upacara Ngusaba Ngawolu.


Pada Sasih Kasanga dilakukan aci piodalan di Palinggih Ratu Pakandi Tegal, yang juga dilaksanakan Nyepi Desa yang jatuhnya bersamaan dengan Nyepi Tahun Baru Saka. Dalam panyepian tersebut akan dilaksanakan upacara pacaruan dan upacara Magpag, bersarana perahu atau rakit.


Dan, terakhir pada Sasih Kadasa. dilakukan piodalan di Palinggih I Ratu Gunung Agung dan I Ratu Bukit Tegeh. Seluruh prosesi tersebut pun memiliki keunikan tersendiri. Desa Pakraman Beratan Samayaji  hanya melangsungkan Melasti ke segara sepuluh tahun sekali, itu pun jika datang piodalan di Palinggih Ida Batara Muter yang jatuh pada Sasih Kapat. Sedangkan menjelang panyepian, krama hanya melakukan pamelastian di Beji yang ada di pojok tenggara pura.


Keunikan lainnya? Ada sumur tua nan misterius yang tedapat di dalam Pura Desa Pakraman Beratan, tepatnya di bawah Palinggih Klepa. Bahkan, saking keramatnya, tidak ada yang berani membuka sembarangan lubang keramat yang berdiameter tidak lebih dari 25 sentimeter itu. Sebab, hanya diperkenankan membuka jika ada pakelem saat pujawali.


Benny  menjelaskan,  tidak diketahui pasti kapan lubang keramat itu dibuat. Bahkan, lubang keramat itu diceritakan para tetuanya sudah ada sejak abad kesebelas. Konon, dari penuturan para pendahulunya, karena keberadaan sumur misterius itulah Pura Desa dan Puseh didirikan.
Benny menjelaskan, sumur yang digunakan sebagi tempat pakelem itu terakhir dibuka sebelas tahun lalu. Kala itu mantan wakil Bupati Buleleng, Putu Wardana tangkil ke pura dan menghaturkan pakelem.


“Saat itu terakhir kali, karena penasaran ada krama yang bawa senter dan kamera, maunya ingin mendokumentasikan apa sih yang ada di dalam. Tetapi setelah di buka, hanya gelap pekat yang terlihat,” ujar dia.


Tidak ditemukan pantulan cahaya senter berkekuatan 500 watt dipantulkan oleh air yang katanya ada di dasar sumur. Ia juga mengatakan, ketika itik putih jambul dan sarana pakelem lainnya dilepaskan, hanya terdengar bunyinya sekali, dan langsung menghilang.


Selang beberapa hari, krama setempat pun tidak mencium bau busuk dari sekitar Palinggih Klepa, karena diyakini lubang keramat tersebut tembus hingga ke daerah Labuan Aji, Desa Temukus, Kecamatan Banjar Buleleng. Meski kepercayaan itu belum dapat dipastikan hingga saat ini, namun krama setempat meyakininya hingga sekarang.


Keramatnya lubang pakelem itu dibuktikan saat seorang krama yang saat itu ikut ngayah bersih-bersih di pura. Saking penasarannya membuka tutup lubang dari batu itu diam-diam. Selang beberapa hari setelah kejadian, tangan krama itu pun sempat bengkok tiba-tiba tanpa sebab yang pasti.


Setelah ditanyakan ke orang pintar, krama itu disebut telah menyalahi aturan dengan berani membuka tutup lubang pakelem. Namun, setelah yang bersangkutan menghaturkan upacara Guru Piduka, sakit tangannya  langsung sembuh secara ajaib.


Selain itu, ada satu palinggih lagi yang diyakini krama setempat memiliki kekuatan yang dahsyat. Yakni Palinggih Ida Batara Sakti. Di palinggih tersebut biasanya difungsikan krama setempat untuk meminta anugerah, baik untuk kelancaran mengikuti lomba ataupun yang lainnya.


Kemahakuasaan beliau yang berstana di palinggih Ida Batara Sakti, lanjut Benny, sudah sering dibuktikan. “Setiap mengikuti lomba, krama setempat selalu meminta anugerah kelancaran dan selalu diberkati dengan hasil yang memuaskan dan keluar sebagai juara,” tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia