Selasa, 12 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Menjajal Alam Mistis Eks RSU Bangli

Getaran Gaib Makhluk Kasat Mata, Ada Ibu Gendong Bayi Menangis

26 Mei 2019, 22: 14: 29 WIB | editor : Nyoman Suarna

Getaran Gaib Makhluk Kasat Mata, Ada Ibu Gendong Bayi Menangis

IBU GENDONG BAYI: Lorong bekas ruang persalinan di pojok kanan RSU Bangli saat siang hari, Minggu (26/5). Di sini kerap muncul sosok ibu menggendong bayi. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Bangunan bekas Rumah Sakit Umum (RSU) Bangli di Jalan Kusuma Yudha, Kelurahan Kawan, Kota Bangli, sudah tak terawat. Keberadaan gedung itu membuat masyarakat sekitar kian resah. Lama tak berfungsi, tempat tersebut mulai bernuansa mistis.

 

"Ya, silakan. Kalau mau masuk, gak apa-apa. Asal ajak teman, ya! Titiang (saya) gak jamin kalau masuknya sendiri," seru I Nengah Sujena, kepala Lingkungan Banjar Kawan, Kelurahan Kawan, Bangli, ketika Bali Express (Jawa Pos Group) menghubunginya, pekan lalu. Maklum, koran ini berencana bermalam di bangunan bekas Rumah Sakit Umum (RSU) Bangli. Sujena baru mengizinkannya beberapa hari lalu.

Pak Ngah, sapaan Nengah Sujena, memberi izin untuk melakukan aktivitas di dalam gedung, dengan catatan tak mengganggu warga sekitar. Dia tahu tujuan kami untuk mengetahui kehidupan dimensi lain. Pak Ngah ingin kami mengulas keaslian cerita warga yang simpang siur soal keberadaan penghuni di gedung tersebut.

"Ada beberapa yang sudah izin dengan saya. Memang ada warga kami yang mengatakan ada penampakan. Karena itu, sudah dua kali tempat ini dipakai ajang untuk uji nyali," kata pria yang juga pengusaha kuliner itu. Lantas Pak Ngah menyarankan kami mengajak ahli spiritual untuk memandu.

Bali Express sebenarnya sudah beberapa kali meninjau gedung tersebut. Bahkan saat ada kabar akan digelar uji nyali oleh kelompok spiritual yang berdomisili di Tabanan, koran ini ikut memantau perkembangannya.

Warga Bangli berbondong-bondong menggerebek gedung eks RSU Bangli, pekan lalu. Beberapa kelompok spiritual juga hadir. Salah satunya Ikatan Kesepuhan Nusantara (IKN) Denpasar. Koran ini bertemu dengan Muhammad Fino Akbar, Achmad Yunus, Neneng Yusniati, Ari Nugroho, dan Nita Liswati, yang datang saat warga sudah mulai pulang.

Komunikasi berjalan intens. Kami sepakat, pendeteksian alam gaib di gedung angker bekas rumah sakit itu dilakukan. Sabtu (25/5), sekitar pukul 23.00, kami sampai di halaman depan gedung. Sepintas gedung itu tampak biasa saja. Hanya ditumbuhi tanaman rambat dan semak, juga mobil warga yang diparkir di sana.

 "Saya buka pintu dulu," ujar Fino Akbar, meyakinkan kami bahwa dia sedang membuka pintu alam gaib. Kemudian kami serta rombongan diizinkan masuk. "Tapi ingat kulonuwun (ucap salam)," kata dia mengingatkan kami.

Kami menelusuri gedung paling depan. Setelah dicek, dahulu jadi gedung perkantoran rumah sakit. Kata Fino, energi di sana sangat kuat. Fino dan rekan seperguruannya memutuskan melakukan kontemplasi atau merenung untuk mengumpulkan energi. Sebetulnya, kontemplasi pernah dilakukan beberapa waktu lalu. Lokasinya di lantai dua ruang rawat inap gedung tengah.

Yunus, Nita, Yusni, dan Rizal menjadi mediator pertama. Mereka bersila sembari memejam mata. Sisanya hanya bisa memperhatikan keadaan sekitar. Kami pikir barangkali ada wanita cantik yang memperhatikan dengan tatapan tajamnya. Setelah beberapa menit, mediator tak menunjukkan gejala apapun.

"Ya karena kami hanya mengumpulkan energi. Memang kita pilih di tempat yang jadi titik kumpul energi. Jadi dianggap cocok," jelas Fino yang beberapa kali pernah melakukan ekspedisi hingga ke hutan-hutan Pulau Jawa.

Kami naik ke lantai dua bekas kantor bagian keuangan itu. Papan nama dan sejumlah rak arsip diselimuti debu tebal. Sebagian atap runtuh. Pecahan ubin, triplek, dan kayu yang masih ditancapi paku masih berserakan.

 "Yang lain jangan mendekat. Dari tadi ada yang mengganggu," ungkap Yunus, salah seorang mediator. Rupanya, sosok wanita berambut panjang berdiri di ruang sebelah kanan. Ada dua bilik ruangan di sana. Sosok itu, kata Fino, sudah menguntit ketika kami menginjakkan kaki di ruang itu.

Mediator lainnya, Rizal yang sudah lama menunggu, mencoba berkomunikasi. Secepat kilat tubuhnya meronta. Beberapa orang di sekitarnya tak mampu menahan. "Dia gak mau ngomong. Kalau dia kalah, ada kemungkinan dia mau ngomong," kata Fino yang menyebut makhluk tersebut tidak bersedia berkomunikasi.

Kami terus mencoba menggali informasi. Kami turun ke lorong di sudut kanan gedung itu. Menurut informasi, ruang tersebut bekas ruang persalinan. Tidak ada tanda. Kami lantas teringat perkataan Pak Ngah, kepala Lingkungan Kawan. Menurut warga sekitar, pernah melihat sosok wanita menggendong bayi. Ada juga cerita tentang orang yang melintas, melahirkan di gedung itu. Bahkan wanita itu mengira rumah sakit masih aktif. Ada juga yang menyebut beberapa perawat tak kasat mata membantu persalinan. Wanita itu baru mengetahui rumah sakit sudah lama tidak beroperasi setelah persalinan selesai. Meski booming, kata Pak Ngah, cerita tersebut sulit dibuktikan kebenarannya karena berkembang dari mulut ke mulut.

Hari makin larut. Nita Liswati, satu di antara dua mediator perempuan, mencoba berinteraksi. Wajahnya seketika pucat pasi. Lama-lama dia menangis beberapa menit sambil menggambar sosok di atas kertas gambar. Apa yang dirasakan Nita, rupanya menjawab mitos keberadaan sosok wanita tersebut.

 "Sudah diterawang. Dulu ada beberapa wanita yang melahirkan. Tapi ibu dan anaknya tidak selamat. Wajar karena ini rumah sakit, kan. Mungkin ini yang dilihat warga, ada sosok ibu nggendong anak di lorong-lorong," ungkap Ari Nugroho, yang mewanti-wanti supaya kami tetap fokus. 

Nita sempat berkomunikasi dengan makhluk penghuni lorong ruang persalinan itu. "Mereka sedih. Katanya dulu pelayanan lambat. Banyak pasien yang lambat pertolongan. Tapi kembali lagi, yang namanya gaib. Boleh percaya boleh tidak," kata Fino.

Kami bergulat dengan beberapa makhluk di ruangan itu cukup lama hingga pukul 01.12. Di ruang itu pula, salah seorang peserta asal Denpasar, Gede Putra Sanjaya, menjadi mediator. Dia merasakan aura panas, terutama di empat bilik ruang rawat di ujung lorong. "Ada tarikan panas, kadang juga dingin. Rasanya  ada yang menarik (kuat)," beber Gede yang mengaku termotivasi karena ingin tahu kondisi riil di gedung tersebut.

Terakhir, kami melakukan pendeteksian di ruang jenazah, sekitar pukul 03.03 wita. Kami masuk melalui lorong kiri gedung rumah sakit. Kami menyusuri belasan bilik ruang rawat yang gelap. Tanpa cahaya sedikit pun. Suasana mencekam mulai terasa ketika melintasi toilet yang berbatasan langsung dengan kamar jenazah.

Koran ini mendapat kesempatan merasakan langsung energi yang terpancar di sekitar ruang itu. Rasanya panas dan pengap, meski berada di lorong terbuka.

Kami hanya ditemani Mas Fino, sedangkan teman lainnya memantau dari beberapa titik dekat lorong halaman depan. Alasannya, mereka ingin kami tahu secara langsung kemungkinan adanya interaksi. Di sini bulu kuduk tak berhenti berdiri. Langkah kaki dipaksa lebih cepat. Kami merasakan ada sosok besar yang berdiri di sepanjang lorong. "Rasanya berat? Ya karena memang ada yang menghalangi (makhluk). Anak-anak, jangan tanya. Ya banyak. Ada juga yang tubuhnya hancur karena kecelakaan. Saat kita balik ke halaman, mereka juga ngikut kita," pungkas Fino Akbar.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia