Kamis, 22 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Cintya Widhi, Lontar Antivirus Berusia 149 Tahun Ditemukan di Buleleng

28 Mei 2019, 21: 24: 22 WIB | editor : Nyoman Suarna

Cintya Widhi, Lontar Antivirus Berusia 149 Tahun Ditemukan di Buleleng

LONTAR : Penyuluh Bahasa Bali saat menunjukkan lontar berjudul Pangawisesan Bagawan Cintya Widhi yang berusia 149 tahun. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Penyuluh Bahasa Bali kembali mengidentifikasi puluhan cakep lontar milik keluarga Sastrawan Bali, Made Pasek di Kelurahan Paket Agung, Kecamatan Buleleng. Lontar-lontar tetamian berusia ratusan tahun tersebut memuat beragam genre seperti puja mantra, sesana, wariga dan usadha.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) di lokasi, terlihat ratusan helai lontar itu mulai dibersihkan oleh puluhan anggota Penyuluh Bahasa Bali. Pembersihan hanya menggunakan tisu dan tidak menggunakan minyak kemiri.

Penyuluh Bahasa Bali, Ida Bagus Ari Wijaya, mengatakan, pihaknya baru berhasil mengidentifikasi sekitar 78 cakep. Proses identifikasi berlangsung sejak Senin (27/5) hingga Selasa (28/5) sore. Namun, Ari Wijaya tak menampik masih banyak lontar milik keluarga Almarhum Made Pasek yang belum teridentifikasi

Dikatakan Ari Wijaya, jika mengacu sitem katalog Gedong Kirtya, puluhan lontar yang berhasil diidentifikasi dipastikan masuk kategori I sampai kategori IV. “Misalnya kalau romawi satu meliputi puja dan mantra, sedangkan romawi dua meliputi sesana pasuara, romawi tiga meliputi wariga, usadha. Sedangkan di romawi empat meliputi karya sastra seperti kekawin berupa kidung dan karya sastra,” tuturnya Selasa (28/5) siang, di sela proses identifikasi.

Lanjutnya, saat identifikasi, pihaknya menemukan sebuah naskah lontar tertua. Lontar berusia 149 tahun tersebut berjudul Pangawisesan Bagawan Cintya Widhi. Lontar ini membahas tentang perlindungan diri secara niskala. “Ya seperti antivirus orang Bali lah secara niskala,” imbuhnya.

Lalu apa yang menarik dalam identifikasi lontar ini? Dikatakan Ari Wijaya pihaknya juga menemukan jenis Lontar Purwadigama Sesana. Konon lontar jenis itu tergolong langka ditemukan. “Di tempat lain belum pernah kami temukan. Ini sangat jarang kami temui. Sebab berisi teks berbahasa Jawa Kuna dan bahasa Bali dan terjemahannya berbahasa Bali,” jelasnya.

Sementara itu, perwakilan keluarga Almarhum Ketut Pasek, yakni Ketut Putu Astita, 71 mengatakan, selama ini tetamian lontar yang berusia ratusan tahun tersebut tak pernah ia ketahui isinya. Hanya saja perawatan dengan membersihkan tetap dilakukan setiap hari raya Saraswati.

Pembersihan pun dilakukan tidak menyeluruh. Namun penyimpanan dilakukan di tempat khusus. “Dulu kami tidak pernah tahu apa isinya. Beruntung dibantu adik-adik dari Penyuluh Bahasa Bali. Sehingga setelah identifikasi jadi tahu,” tutur Astita kepada Bali Express.

Dengan identifikasi ini, ia berharap dapat mempelajari usadha taru premana yang ada di lontar tersebut. Terlebih, selama ini dirinya sudah mengembangkan obat herbal yang bersumber dari taru premana.

“Nah setelah tahu ini, nanti saya ingin pelajari lontar tentang usadha Bali untuk membuat obat herbal. Sehingga apa yang ada di dalam isi lontar, bisa diaplikasikan untuk orang banyak,” tutupnya.

(bx/dik/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia