Jumat, 06 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Politik

Dapat Santunan, Keluarga hingga Anggota Bawaslu Bali Menangis

29 Mei 2019, 10: 03: 29 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dapat Santunan, Keluarga hingga Anggota Bawaslu Bali Menangis

SERAHKAN SANTUNAN: Bawaslu Bali menyerahkan santunan kepada jajaran pengawas pemilu yang meninggal maupun luka-luka akibat kecelakaan saat bertugas. Penyerahan dilangsungkan di Kantor Bawaslu Bali, Selasa (28/5) kemarin. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Keharuan mewarnai penyerahan santunan bagi aparat pengawas pemilu yang meninggal saat menjalankan tugasnya. Bahkan isak tangis pecah dalam acara yang berlangsung Selasa (28/5) kemarin, di Kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Bali, Jalan M Yamin, Renon. Terlebih di sela penyerahan santunan itu, diisi juga dengan kegiatan mengenang para pengawas pemilu yang meninggal saat menjalankan tugasnya.

Kegiatan itu dilakukan dengan penayangan slide foto dan video mereka semasa masih hidup. Mulai dari saat mereka menjalankan tugasnya. Kemudian saat mereka jatuh sakit hingga kritis. Hingga mereka menjalani proses pemakaman.
Tayangan itulah yang kemudian membuat keluarga dari para ‘pejuang demokrasi’ itu tak kuasa manahan air matanya. Kebetulan seremoni penyerahan santunan itu melibatkan pihak keluarga untuk mereka yang meninggal. Atau, petugas itu sendiri yang sempat sakit.


Saat suasana mengharu biru, Ketua Bawaslu Bali Ketut Ariyani rupanya ikut menangis juga. Dia mengusap air matanya dengan tisu, seraya ditenangkan rekannya yang juga anggota Bawaslu Bali Wayan Wirka.


Pun demikian saat Ariyani menyampaikan sambutan, suaranya sempat tertahan. “Nyawa anggota keluarga bapak ibu tidak bisa dibayar dengan uang,” ujarnya.
Dia lantas meneruskan kalimatnya. Santunan tersebut, katanya, bukan harga nyawa. “Tidak lebih dari bentuk perhatian pemerintah untuk meringankan beban yang ada,” imbuhnya. Bukan hanya Ariyani, anggota lainnya, Ketut Rudia juga sama. Dia sampai keluar ruangan. Menangis di lorong dekat ruang pertemuan Bawaslu.


Dalam keterangannya, Ariyani menyebutkan ada delapan orang jajarannya yang menerima santunan. Mereka mendapatkan nilai santunan yang berbeda. Untuk petugas yang meninggal dunia, keluarga atau ahli warisnya mendapatkan Rp 36 juta perorang.


Adapun yang mendapatkannya merupakan ahli waris dari I Nyoman Astawa (PTPS Kelurahan Peguyangan, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar), I Ketut Sucipta Astawa (PPKD Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung), Putu Sudiasa (PPKD Desa Tampekan, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng), dan I Gede Artana (Panwaslu Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem).


Kemudian yang mengalami luka berat akibat kecelakaan saat bertugas mendapatkan santunan sebesar Rp 16,5 juta. Untuk santunan ini diberikan kepada dua orang. Mereka terdiri dari I Putu Widiada (Panwascam Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar) dan Ni Nyoman Trisnawati (PTPS Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem).


Sementara, untuk korban luka masing-masing menerima Rp 8.250.000. Mereka adalah I Ketut Warna (PTPS Desa Kaliaka, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana), dan I Ketut R Putu Antara (Panwascam Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem).


Aryani merincikan, total santunan yang diserahkan kepada para pengawas pemilu yang meninggal dan mengalami kecelakaan di Bali sebanyak Rp 193,5 juta. Namun dari jumlah itu, baru satu korban asal Gianyar, yakni korban luka berat yang uangnya sudah masuk ke rekening pribadi. Sementara yang lainnya tinggal menunggu kelengkapan adiministrasi. “Kami menjamin, hari ini hingga sore nanti, uangnya sudah bisa ditransfer semuanya. Saat inipun uang santunan tersebut sudah berada di Kantor Kas Negara Bali. Jadi tinggal ditransfer saja ke masing-masing rekening. Bila seluruh kelengkapan administrasinya sudah final, maka uangnya bisa ditransfer saat ini juga,” tukasnya.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia