Senin, 09 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Koster Canangkan Pemberlakuan Perda Desa Adat

Perkuat Warisan Ida Bhatara Mpu Kuturan

04 Juni 2019, 15: 25: 15 WIB | editor : Chairul Amri Simabur

Koster Canangkan Pemberlakuan Perda Desa Adat

Koster Canangkan Pemberlakuan Perda Desa Adat (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR – Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi mencanangkan pemberlakuan Perda Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Provinsi Bali. Pencanangan itu dilakukan Wantilan Pura Samuhan Tiga, Desa Bedulu, Gianyar, Selasa (4/6).

Pencanangan itu ditandai dengan pembubuhan tanda tangan pada prasasti yang dilakukan Gubernur Koster. Momen itu disaksikan ribuan undangan yang terdiri dari sulinggih dan pinandita (pendeta Hindu).

Sementara dari kalangan pejabat, momen itu disaksikan Wagub Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, Wakapolda Bali Brigjen Pol Wayan Sunartha, Ketua DPRD Bali Adi Wiryatama, para bupati dan wali kota.

Kemudian Majelis Utama dan Majelis Madya Desa Pekraman, Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), Parisada Hindu Dharma Indonesia, para kepala desa dan lurah, serta para bendesa pekraman dari 1.493 desa pekraman di Bali.

Pencanangan Perda Desa Adat ini merupakan momen historis karena untuk pertama kalinya desa adat, lembaga kultural terpenting di Bali, diakui sebagai subyek hukum dengan posisi dan kewenangan yang jelas.

Selain itu, pencanangan ini juga merupakan momen bersejarah karena merupakan kelanjutan dari tonggak sejarah yang dibangun Ida Bhatara Mpu Kuturan pada seribu tahun lalu.

Dalam posisinya sebagai penasehat utama Raja Udayana Warmadewa dan Ratu Gunapriya Dharmapatni, Mpu Kuturan dalam pertemuan-pertemuan di Pura Samuhan Tiga dengan tokoh agama dan masyarakat telah melahirkan struktur-struktur fundamental bagi masyarakat Bali, termasuk Desa Adat, Kahyangan Tiga, dan sanggah Rong Tiga.

“Legislasi ini dibuat untuk melestarikan apa yang sudah dirancang oleh Ida Bhatara Mpu Kuturan. Tujuannya agar Desa Adat lebih kokoh dan kuat, sekaligus mampu mengakomodasi tantangan dan peluang jaman,” kata Koster.

Dia juga mengungkapkan, rancangan perda itu sudah disusunnya sejak 2014 lalu. Saat masih bertugas sebagai anggota DPR RI. Selama itu pula Ida Bhatara Mpu Kuturan selalu dipujanya dalam doa-doanya.

“Selalu saya ingat Ida Bhatara Mpu Kuturan. Saya mohon bimbingan Beliau. Kalau yang saya lakukan benar agar diberi jalan. Kalau salah agar dihentikan,” kenang Koster.

Pencanangan pemberlakuan Perda Desa Adat ini juga menjadi peristiwa sarat simbol. Lantaran perda tersebut bernomor empat. Kemudian dicanangkan pada tanggal empat.

Harinya, sesuai kalender Bali, Anggara Kasih Kulantir, sebuah hari suci yang diyakini sebagai saat beryoganya Ida Bhatara Siwa. Koster sendiri lahir pada Anggara Kasih Tambir.

“Tabik pekulun Ida Bhatara Mpu Kuturan sendiri adalah putra keempat,” ujar Koster.

Sebelum dimulainya upacara pencanangan, Koster bersama para pejabat melakukan persembahyangan di utama mandala Pura Samuhan Tiga.

“Saya melapor dan nunas penugrahan kepada Ida Bhatara Mpu Kuturan. Ini perdanya sudah selesai. Kami mohon kepada Ida Bhatara agar dibimbing dan dibantu selama pelaksanaannya,” katanya.

Perda Nomor 4 Tahun 2019, yang terdiri dari 18 bab dan 104 pasal, tersebut menurut  Koster adalah pelaksanaan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru.

“Konsep dasarnya tidak boleh menyimpang dari kearifan lokal. Harus tegak lurus fundamentalnya dengan kearifan lokal,” tegasnya.

Perda bersejarah ini memuat sejumlah ketentuan baru dan progresif. Dan secara substansi, perda ini tidak mengacu pada Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Acuannya utamanya pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Khususnya pada Pasal 236 ayat (4), yang menegaskan bahwa perda dapat memuat materi muatan lokal sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Karena itu pengertian desa adat dalam Perda Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali ini secara khusus. Berbeda dengan pengertian Desa Adat dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Karena mengacu pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, maka Desa Adat dalam perda ini memiliki wilayah, hak asal usul, hak-hak tradisional, susunan asli, serta otonomi asli untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.

Melalui perda ini pula untuk pertama kalinya desa adat diakui secara resmi dan eksplisit sebagai subyek hukum dengan kedudukan hukum yang jelas dan tegas. Selain itu, perda ini menetapkan bahwa desa adat berkedudukan di wilayah Provinsi Bali.

Dasar pertimbangannya adalah realitas desa adat sebagai satu kesatuan kosmologis alam Bali yang secara sosio-religius terikat pada kahyangan jagat terutama Pura Agung Besakih sebagai purusa, Pura Batur sebagai pradana. Selain itu, beberapa wilayah desa adat berada di lintas wilayah kabupaten/kota.

Adat Bali harus dikelola dalam satu kesatuan wilayah Bali, tidak bisa dikelola secara parsial per wilayah kabupaten/kota. Sehingga adat Bali menjadi satu-kesatuan identitas yang kuat bagi masyarakat Bali.

Perda juga memuat pengaturan yang jelas mengenai kategori krama beserta swadharma (kewajiban) dan swadikara (hak) masing-masing. Seperti termuat pada Pasal 8. Di situ diterangkan bahwa Krama Desa Adat, yaitu warga masyarakat Bali beragama Hindu yang Mipil dan tercatat di Desa Adat setempat.

Kemudian krama tamiu, yaitu warga masyarakat Bali beragama Hindu yang tidak mipil tetapi tercatat di desa adat setempat; dan tamiu, yaitu orang selain krama desa adat dan krama tamia yang berada di wewidangan desa adat untuk sementara atau bertempat tinggal dan tercatat di desa adat setempat.

“Di Bali itu kewajiban yang dilaksanakan terlebih dahulu baru minta hak. Kalau minta hak dulu pasti akan ribut, makanya di Bali kan Karma Pala. Melakukan karma lebih dulu baru kemudian minta pahala,” ujar Koster.

Perda yang sudah disahkan DPRD Bali ini juga menegaskan dan memperluas tugas serta wewenang desa adat. Termasuk kewenangan lokal bersakala desa adat.

Kemudian perubahan status hak dan fungsi atas tanah desa adat harus dilakukan berdasarkan kesepakatan melalui paruman desa adat/banjar adat bersangkutan.

Dan rencananya, Pemprov Bali akan segera membentuk perangkat daerah yang secara khusus akan menangani urusan desa adat.

(bx/hai/hai/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia