Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Features

Konsultasi Pranikah, Kenali Potensi Masalah Agar Tak Sia-sia Menikah

07 Juni 2019, 10: 54: 33 WIB | editor : I Putu Suyatra

Konsultasi Pranikah, Kenali Potensi Masalah Agar Tak Sia-sia Menikah

Sri Wiraswati (kiri) dan Galang Dharma (ISTIMEWA)

Share this      

Kekerasan dalam rumah tangga masih sering terjadi di Bali, baik secara fisik, psikis, verbal, emosional, dan lainnya.  Puncak dari ketidaktahanan terhadap perlakuan yang tidak senonoh itu, berujung pada  perceraian. Ada cara menanggulanginya?

NI KETUT ARI KESUMA DEWI, Denpasar

KEKERASAN rumah tangga, perceraian dan bentuk lainnya jadi sorotan beberapa psikolog yang memfokuskan diri pada psikologi keluarga. 


Pekan kemarin, Bali Express (Jawa Pos Group) berkunjung ke tempat praktik psikologi Galang Dharma dan Sri Wiraswati  di Jalan Dewi Madri VIII No. 5 Renon, mendiskusikan soal kecenderungan
konsultasi pranikah bagi pasangan yang ingin menikah, khususnya bagi warga di Denpasar dari sisi psikolog.


I Putu Galang Dharma Putra S, M.Psi., menjelaskan, pada dasarnya masih banyak stigma negatif yang muncul ketika ada orang yang pergi ke psikolog. “Kalau orang datang konsultasi ke psikolog, orang akan langsung beranggapan bahwa orang tersebut bermasalah, bahkan dituding gila. Stigma di masyarakat tentang orang yang datang konsultasi, ada masalah, itu yang sudah jelek sekali," ujar Galang.


Padahal, lanjutnya, konsultasi bisa saja, memang jadi ada masalah dan memang bisa jadi tidak ada masalah. "Mereka datang  ingin menjadi sesuatu lebih baik. Meningkatkan potensi dari yang baik menjadi lebih baik,” ungkap  Galang.


Diakuinya, soal konsultasi pranikah, selain Muslim dan Katolik, konsultasi pranikah  jarang terjadi. “Bagi Muslim, difasilitasi oleh KUA. Sedangkan bagi Katolik, itu diimbau. Konsultasi pranikah ini sebenarnya juga untuk mencegah perceraian,” tegasnya.


Galang menjelaskan lebih detail, bahwa selain untuk mencegah perceraian, konsultasi pranikah juga memiliki banyak tujuan. “Tidak hanya mencegah perceraian. Kalau kita bisa 'kasarnya' secara garis besar, iya memang. Akan tetapi, pertama kita bisa melakukan identifikasi potensi masalah. Jadi, dari strangers kemudian pacaran dan memutuskan untuk menjadi pasangan hidup selamanya, aka n ada loncatan yang besar dari yang tidak kenal apa-apa yang akhirnya memutuskan menjadi perkawinan. Itu kan loncatannya lumayan,” terangnya.


Loncatan yang besar itu, lanjut Galang,  ada masalah-masalah yang mungkin akan muncul. “Tujuan konsultasi pranikah tersebut untuk mengindentifikasi masalahnya. Jadi, ketakutan-ketakutan apa yang akan terjadi ketika menikah nanti. Saat pacaran, tidak peduli amat. Komitmen semasa pacaran itu, ketika kamu melanggar komitmen, bisa putus. Akan tetapi, ketika kawin, kan sudah diatur oleh negara, agama, adat, dan lain sebagainya. Kalau pacaran, kan tidak hitam di atas putih,” jelasnya.


Ditegaskannya, jika sudah melangsungkan perkawinan, komitmen saat pacaran dilegalisasi hitam di atas putih. Selain itu, ada kaitannya dengan  identifikasi nilai. “Nilai-nilai atau value orang kan berbeda, si perempuan dan si laki-laki memiliki value yang berbeda. Bagaimana cara menyatukan nilai itu. Cari tengah-tengahnya bagaimana? Itu potensi masalah," urainya. Permasalahan berikutnya adalah soal keyakinan tertentu. Selain nilai, ada keyakinan tertentu. Artinya, suami keturunan dokter. Ia berkeinginan agar anaknya menjadi dokter. "Nanti ketika sudah besar, si anak dinasihati agar kawin dengan dokter agar seperti orang tuanya. Itu keyakinan tertentu, bukan nilai,” jelasnya. 


Problem berikutnya adalah soal harapan terhadap pasangan. Jika kawin, orang saling menginginkan pasangannya seperti harapannya. Problem terakhir terkait kebutuhan. “Kebutuhan sandang, pangan, papan, emosi, biologis, psikis harus diidentifikasi. Kan saya bilang tadi, identifikasi potensi masalah. Itu adalah salah satu potensi masalah yang jika di dunia perkawinan bisa menjadi sumber masalah dalam perceraian," urainya. 


Yang paling penting dari identifikasi masalah dalam konsultasi pranikah adalah komunikasi dengan pasangan. "Orang selingkuh karena tidak komunikasi dengan pasangan. Bila ada diskusi dua arah yang baik, ketemu titik tengah, tidak akan ada orang ketiga yang masuk,” tegasnya.


Galang menambahkan, bahwa tujuan dari konsultasi pranikah juga memberikan pemahaman terkait konsep perkawinan. “Beda pacaran dengan kawin, seperti apa. Konsep-konsep mengenai perkawinan itu harus tahu sebelum menikah. "Istilah konsultasi pranikah berfokus pada masalah, kalau psikologi dari buku dan jurnal, fokus kepada kekuatan masing-masing pasangan,” jabarnya.


Mengenai kekuatan masing-masing pasangan, contohnya identifikasi konsep diri dan harga diri. “Konsep diri mengenai bagaimana ia melihat dirinya. Bagaimana ia menilai dirinya sendiri. Itu yang kita kuatkan dan tingkatkan. Bukan berfokus pada masalah, apa ketakutan, potensi masalah, kebutuhan dan lainnya. Itu kan problem semua. Kalau kita di psikologi membahas tentang positifnya," terangnya.


Selain itu, lanjut Galang, mempersiapkan emosi kedua pasangan biar lebih matang untuk mencegah dan mengatasi masalah.


" Tapi kita tidak fokus kepada masalahnya, tetapi orangnya. Dan, psikolog berfokus pada alat-alat ketika berkeluarga. Contohnya, mempersiapkan kemampuan berhubungan sosial. Kemampuan sosialisasi hubungan sosial karena yang kawin juga adalah keluarga si laki-laki dengan keluarga si perempuan. Sosialisasi hubungan sosial misalnya bisa manyama braya,” jelas alumni Universitas Udayana itu.


Selain itu, informasi mengenai pola asuh, juga dianggap penting oleh Galang. Tujuannya agar anak tidak menjadi korban. “Jika misalnya bercerai, biar anak tidak jadi korban. Kalau berselisih paham, agar anak tidak menjadi korban. Rasa percaya dan komitmen, penting,” jelasnya.


Alat berikutnya adalah manajemen konflik. Ketika berbicara tentang menejemen konflik, ada beberapa yang umum yang menyebabkan terjadinya perceraian. Dikatakannya,  masalah perempuan bekerja saja bisa menjadi masalah. Ada artikel tentang digugatnya perempuan bercerai oleh pihak laki-laki karena keinginan perempuan tersebut melanjutkan S3. Yang laki-laki S2, mulai cekcok yang awalnya adem ayem dan tidak ada masalah. Akan tetapi, setelah si istri apply S3, si suami merasa tersinggung. Manajemen konfliknya bagaimana nanti? "Singkat cerita, perempuan mengalah tidak mengambil S3, akhirnya hubungan kembali membaik. Artinya, kan harus ada yang dikorbankan dalam kasus ini. Itu manajemen konflik. Selain manajemen konflik, yang lain adalah masalah ekonomi.

“Kedua ini yang menjadi masalah utama,” terangnya.


Untuk masyarakat Hindu di Bali sendiri, lanjut Galang, konsultasi pranikah merupakan sesuatu yang awam atau tidak biasa. “Paling konsultasi pranikah itu saat detik-detik akan kawin. Saat ritual tertentu ngaraos (diskusi) saat proses ngidih (meminang). Saat itu baru ada wejangan dari tetua. 


Psikolog Anak Agung Ketut Sri Wiraswati, M. Psi., menambahkan,  banyak masyarakat yang merasa tidak perlu untuk persiapan menikah atau pranikah tersebut. “Merasa tidak perlu untuk mencari tahu seperti apa kemungkinan-kemungkinan yang muncul. Hal-hal apa saja yang perlu diperjuangkan ketika menikah. Itu tidak menjadi beban pikiran. Merasa tidak perlu dianalisis semuanya karena jalan saja, pokoknya beranikan saja. Begitu yang terjadi,” terangnya.


Sri Wiraswati menyampaikan,  jangan-jangan kesiapan secara mental itu dirasa tidak penting akhir-akhir ini oleh orang pada umumnya. “Bahkan yang paling menakutkan adalah pemikiran yang penting siap secara materi dengan menampikkan kesiapan secara mental. Yang penting umur, sudah bekerja, punya penghasilan, dan calon sudah ada. Jadi, banyak yang merasa tidak perlu awarness diri, awareness menjalin hubungan dianggap tidak perlu dipikirkan,” keluhnya.


Galang menimpali bahwa sebelum menikah, seorang harus siap secara fisik, psikis, ekonomi, dan mental. “Masyarakat di luar sana hanya fokus kepada dua, yaitu fisik dan ekonomi. Fisik misalnya umur, dengan menyasar kasihan rahim perempuan. Kemudian, secara ekonomi, orang awam menyampaikan bahwa dengan sudah ada uang kenapa tidak menikah? "Mereka lupa yang paling penting adalah mental. Kalau seandainya mereka tidak siap mental, tidak tahu seperti apa pasangannya di rumah,  interaksi di keluargnya, ya hal ini akan menjadi masalah. Masalah itu muncul dari ekonomi dan komunikasi. Kalau masalah komunikasi itu datang dari mental berupa kemampuan psikis,” jelasnya.


Dikatakannya, orang lebih cenderung datang ke layanan kesehatan mental, misalnya psikolog atau psikiater dalam keadaan sudah merasakan masalah. “Sudah merasakan masalah dari yang paling ringan hingga paling berat. Si pemberi layanan kesehatan mental jadilah pahlawan kesiangan. Jadilah membereskan masalah yang  sudah buat. Itu jadinya karena sering datang sesudah masalah terjadi. Kalau masalahnya masih ringan, masih bisa kita latih skill-nya. Akan tetapi, jika kasusnya sudah seperti di ujung tanduk, itu berat jadinya,” imbuh psikolog yang akrab disapa Gek Sri. 


Salah satu masyarakat yang baru saja menikah, Yulia menyampaikan bahwa sebelumnya ia tidak tahu  ada psikolog untuk konsultasi pranikah. “Saya baru tahu ada psikolog untuk pranikah. Itu penting sekali, apalagi yang menikah sekarang bukan hanya usia 25 tahun ke atas. Bahkan, banyak dari mereka yang hamil duluan, hamil di luar nikah. Jadi, penting sekali peranan psikolog ini karena melihat banyak kekerasan rumah tangga tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga psikis," ujarnya.

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia