Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Features

Hobi Sejak SD, Dewa Ari Gunakan Lungsuran Daksina Jadi Bonsai

07 Juni 2019, 20: 21: 04 WIB | editor : I Putu Suyatra

Hobi Sejak SD, Dewa Ari Gunakan Lungsuran Daksina Jadi Bonsai

BONSAI PUJER: Penggemar bonsai pujer, Dewa Komang Ari tengah merawat bonsainya saat ditemui di rumahnya, di Banjar Silungan, Desa Lodtunduh, Kecamatan, Ubud, Jumat (7/6). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Hobi memang tidak memandang umur, status maupun gologan. Seperti hoby yang dimiliki oleh Dewa Komang Ari, berasal dari Banjar Silungan, Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, Gianyar sudah gemar membuat dan merawat tanaman kerdis atau bonsai sejak duduk di bangku sekolah dasar. Saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) Jumat (7/6) ia tengah membuat bonsai pujer dari buah kelapa lungsuran daksina.

Dalam kesempatan itu, ia mengaku tertarik mengkreasikan tanaman kerdil sejak kelas 5 SD. Saat itu ia sudah membuat bonsai dari pohon pungut, bahkan kerap mencari ke tegalan warga hingga pinggir sungai. “Memang dari dulu punya hoby membuat bonsai, awalnya karena lihat saja di rumah teman. Rasanya bagus dan seni, makanya pulang sekolah saya sering mencari bakalan bonsai ke tegalan dan pinggir sungai,” terangnya.

Pria yang berumur 22 tahun tersebut juga mengatakan sejak dua tahun ini sudah beralih ke bonsai pujer. Yaitu yang berbahan buah kelapa, terlebih cara pembuatan dan pemeliharaannya lebih gampang dibangdingkan dengan bonsai yang lainnya. Tak jarang ia mencari bibitnya pada buah kelapa yang dikumpulkan habis digunakan upakara.

“Beralih ke bonsai pujer ini sejak dua tahun lalu, awalnya bentuknya sangat unik dan beda. Sehingga saya mencari buah kelapa yang dikumpulkan habis digunakan sesajen, biasanya digunakan daksina, itu saya cari dan gunakan bonsai,” ungkapnya.

Dewa Ari juga mengaku, selain mencari bibitnya lebih mudah perawatannya juga dirasnya tidak ribet. Lantaran hanya merawat dengan cara diberi air dan mengatur daunnya yang baru tumbuh. Begitu juga dengan batoknya, dapat dikreasikan sesuai dengan keinginan. Sehingga sampai saat ini ia telah memiliki hampir 100 pujer di rumahnya termasuk yang sudah terjual.

“Beberapa sudah saya jual kepada teman, atau ada juga yang segaja datang ke sini untuk membelinya. Sampai saat ini yang terjual sudah ada sekitar 50 pujer. Pembelinya juga ada yang dari sekitar desa ini sampai dari luar Kecamatan Ubud,” ungkap Dewa Ari.

Disinggung harganya, ia memaparkan mahal atau murahnya harga sebuah bonsai ditentukan dengan bentuk, ukuran, dan kerumitan saat pembentukan. Sehingga satu bonsai yang ia jual paling murah seharga Rp 150 hingga Rp 400 ribu. Begitu juga harganya bisa ia naikkan ketika batok bonsai pujer yang ia buat memiliki batok yang kecil.

Meski bibit buah kelapa menurutnya gampang mencarinya, namun untuk membuat sebuah bonsai yang unik dan seni membutuhkan waktu dan kesabaran. Sehingga bonsai yang akan jadi itulah menjadi kepuasannya sendiri. Hal itu juga disebutkannya dengan seni, yakni seni merangkai tanaman kerdil.

“Ini juga sebagai pemanfaatan lungsuran upacara, biasanya buah kelapa bekas daksina kan dibuang begitu saja. Bahkan tidak ternilai harganya, namun setelah dimanfaatkan dengan seni kita masing-masing  di sana akan ada nilai seni sampai ekonomisnya,” tandas dia.

Dewa Ari menambahkan, di rumahnya sendiri dia membuat bonsai dari pembibitan pertama. Mulai buah kelapa daksina yang tidak tumbuh akar sampai yang sudah berakar dan memiliki daun. “Kalau bonsai pujer ini milimal kita beri perawatan dua hari sekali. Jaga kandungan airnya dan pupuknya juga. Dengan demikian tumbuhnya pasti akan sangat bagus sekali,” pungkasnya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia