Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Jaga Keselamatan Siswa, Denpasar Rancang Penambahan ZOSS

07 Juni 2019, 22: 18: 58 WIB | editor : Nyoman Suarna

Jaga Keselamatan Siswa, Denpasar Rancang Penambahan ZOSS

ZOSS: Salah satu titik zona selamat sekolah (ZOSS) yang ada di depan salah sebuah sekolah di Denpasar. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Untuk mendukung pelayanan publik yang ramah,  kali ini Pemkot Denpasar melalui Dinas Perhubungan merancang penambahan zona selamat sekolah (ZOSS). Tujuan dari penambahan ZOSS tersebut guna mendukung keamanan dan keselamatan bagi siswa, baik saat menuju atau pulang sekolah.

Kadis Perhubungan I Ketut Sriawan saat dikonfirmasi menjelaskan, secara berkelanjutan Dishub akan terus melaksanakan survei, terkait menetapkan di mana sekolah yang menjadi prioritas untuk pemasangan ZOSS.

Ada empat lokasi yang menjadi prioritas pada tahun 2019, yakni kawasan SDN 2 Penatih di Jalan Nagasari, kawasan SDN 3 Penatih di Jalan Trenggana, SDN 3 Sanur di Jalan Hang Tuah, dan TK Eka Dharma di Jalan Imam Bonjol. Pemasangan ZOSS menggunakan anggaran APBD Denpasar 2019 sebesar Rp 200 juta.

“Pemilihan lokasi ini dilaksanakan sesuai dengan survei skala prioritas. Tentunya seluruh sekolah yang berlokasi di pinggir jalan kota, jalan provinsi dan jalan nasional akan dilaksanakan pemasangan ZOSS secara bertahap,” terangnya.

Sampai saat ini, di Denpasar sudah memiliki 36 titik ZOSS. Seluruhnya akan dilengkapi secara bertahap. Pemasangan ZOSS ini dilakukan karena lalu lintas di Kota Denpasar kian ramai. Penerapan ZOSS disertai dengan marka kejut, marka pengingat, dan zebra cross, diharapkan dapat mendukung keamanan dan keselamatan menuju atau pulang sekolah di Kota Denpasar.

 “Kami berharap sekolah yang dilengkapi dengan ZOSS, dapat mendukung upaya keamanan dan keselamatan sekolah di Kota Denpasar,” jelasnya

Sementara itu, Ayu, salah satu orang tua murid menyambut baik rencana itu. Namun dia menilai,  sosialisasinya masih kurang. “Saya sebagai orang tua murid sekaligus pengguna jalan menilai, tidak semua orang tahu untuk apa ZOSS tersebut. Apakah kalau ada gambar di zona tersebut, kita harus berhenti atau hati-hati, atau kecepatan maksimal berapa? Itu yang kurang disosialisasikan. Jadi, butuh publikasi dan sosialisasi lagi,” terang ibu dua anak tersebut.

(bx/wid/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia