Selasa, 15 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Features
Sosok Sastrawan Bali Modern, I Made Pasek (1)

Sebagai Mantri Guru Pertama di Bali, Karya Tersebar hingga Australia

09 Juni 2019, 14: 24: 38 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sebagai Mantri Guru Pertama di Bali, Karya Tersebar hingga Australia

SASTRAWAN BALI MODERN: Cucu almarhum Made Pasek, Ketut Putu Astita (membawa foto almarhum Made Pasek) bersama peneliti asal Unud, Gede Gita Purnama. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

Tak banyak yang tahu jika Buleleng pernah memiliki Sastrawan kondang dan menjadi tonggak lahirnya Sastra Bali Modern. Beliau adalah almarhum I Made Pasek. Karya sastranya di era 1910-an pun seolah “mematahkan” teori jika Sastrawan Bali Modern pertama lahir pada era 1931-an, lewat  roman karya I Wayan Gobyah, berjudul Nemoe Karma (Ketemu Jodoh). Seperti apa?

 

I PUTU MARDIKA, Singaraja

SASTRA Bali baru (modern) adalah sastra yang ditulis dengan bahasa Bali dengan bentuk-bentuk yang bebas. Penulisannya pun tidak terikat oleh berbagai aturan sebagaimana pengertian pupuh, geguritan dalam sastra klasik.

Awalnya, muncul semacam mitos bahwa Sastra Bali Modern lahir pada tahun 1930-an, ditandai dengan terbitnya novel Nemoe Karma karya I Wayan Gobiah yang diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1931. Pendapat ini dikemukakan I Gusti Ngurah Bagus tahun 1969 dalam makalah “Situasi Sastra Bali Modern dan Masalahnya”.

Sesudahnya, pendapat Ngurah Bagus ini diikuti para cendekiawan dan peneliti Sastra Bali Modern tanpa memeriksa ulang kesahihan dari pendapat tersebut. Bahkan, klaim ini seolah-olah telah menjadi mitos dalam dunia Sastra Bali Modern.

Namun siapa sangka, rupanya Sastra Bali Modern sudah ada sejak tahun 1910-an. Berkat ketekunan mengumpulkan data, Prof. I Nyoman Darma Putra, M.Litt meruntuhkan mitos mengenai awal kelahiran Sastra Bali Modern itu pada tahun 1999 hingga tahun 2000-an.

Akademisi Universitas Udayana inipun menemukan fakta bahwa sebelum roman Nemoe Karma, yakni pada tahun 1910-an, sudah muncul karya Sastra Bali Modern dalam bentuk cerpen. Darma Putra menunjukkan bukti cerpen-cerpen I Made Pasek.

Sebut saja cerpen berjudul ‘Ayam Mepalu’, ‘I Keliud tekèn I Teragia’, ‘Keneh jujur dadi mujur’, ‘pemadat’, dan ‘Jelèn anakè demen nginum inuman anè mekada punyah, luirè: jenèwer, berandi tekèn anè lèn-lènan’

Cerpen-cerpen karya I Made Pasek dimuat dalam buku Catur Perenida, Tjakepan kaping doea papeladjahan sang mamanah maoeroek mamaos aksara Belanda yang terbit tahun 1913 di Semarang-Brukerij en Boekhandel H.A. Benjamins. Temuan itu pun seolah “mematahkan” sosok I Wayan Gobyah yang kerap dinarasikan sebagai Sastrawan Bali Modern pertama di Bali dalam kurun waktu 1969 hingga 1999.

Klaim Nemoe Karma sebagai tonggak kelahiran Sastra Bali Modern sejak 1969 hingga 2000 bukan karena pengaruh politik kolonial lantaran melihat novel itu diterbitkan penerbit resmi pemerintah Hindia Belanda, Balai Pustaka. Munculnya klaim Nemoe Karma itu tampaknya lebih karena memang belum ditemukan karya Sastra Bali Modern sebelum Nemoe Karma hingga akhirnya Prof Darma Putra menemukan karya-karya I Made Pasek.

Seperti diungkapkan Gede Gita Purnama, Dosen Bahasa Bali Universitas Udayana yang tengah meneliti karya dan persebaran I Made Pasek. Gita yang ditemui di rumah cucu almarhum Made Pasek, di Kelurahan Paket Agung, belum lama ini mengatakan sosok almarhum Made Pasek adalah penulis yang produktif di jamannya.

Sejumlah buku itu ditemukan oleh Prof Darma Putra di Australia dalam bentuk micro film sekitar tahun 1999-2000. Nah dari sanalah terungkap jika Made Pasek adalah orang pertama yang menulis Sastra Bali Modern.

“Sebelumnya sejarah lahirnya sastra bali modern memang bertahan dari tahun 1969 hingga 1999 dimana dinarasikan ketokohan I Wayan Gobyah sebagai tokoh pertama yang menulis satsra Bali Modern. Nah, Prof Darma Putra inilah yang meruntuhkan bahwa ada orang yang lebih dulu dari I Wayan Gobyah yang menulis sastra bali modern, dan belaiu adalah Made Pasek,” ujarnya,

Kemudian Gita melanjutkan penelitian dari Prof. Darma Putra. Ia pun menelusuri karya Made Pasek ke koleksi buku Perpustakaan Gedong Kertya, koleksi buku Perpustakaan Nasional hingga Koleksi Buku di Perpustakaan Leiden, Belanda. Akhirnya berkat kegigihannya, Gita berhasil menemukan sekitar 13 buku karya almarhum I Made Pasek yang diprediksi terbit dari tahun 1913 hingga 1922.

Menariknya sambung Gita, selain aktif sebagai penulis Sastra Bali Modern, besar kemungkinan jika almarhum Made Pasek adalah seorang guru pertama di Bali yang menjadi Mantri Guru (tutor). Bahkan, almarhum Made Pasek sempat mengenyam pendidikan di Bandung.

Almarhum bersekolah di Bandung bersama beberapa orang Bali lainnya. Seperti Ranta, Ketut Nasa dan Kadjeng.“Cuman yang paling aktif menulis dibandingkan yang pernah belajar ke Bandung hanya Made Pasek. Termasuk juga menulis tata cara mengajar Bahasa Bali di Sekolah, ya semacam diktat bagi guru-guru yang mengajar Bahasa Bali di Sekolah. Bukunya saya temukan di Arsip Perpustakaan nasional,” ungkap Gita.

Gita menambahkan, sebagian karya Almarhum Made Pasek diprediksi ditulis di Singaraja, yang notabene tanah kelahirannya. Sebagian lagi ditulis di Gianyar. Mengingat Made Pasek adalah Mantri Guru yang bertugas di Gianyar.“Percetakannya kala itu di Batavia dan Semarang. Ada dua percetakan. Keduanya merupakan percetakan resmi milik kolonial Benlanda,” tuturnya.

Lalu bagaimana karakreristik cerpen karya sastrawan Made Pasek? Dikatakan Gita, karya Made Pasek kerap menceritakan kejadian di masyarakat Bali kala itu, kemudian dituangkan ke dalam cerpen (cerita pendek). Bahkan bisa disebut modern saat itu. Mengingat pada umumnya masyarakat Bali kala itu lazim menuangkan karyanya melaluigeguritan, satua.

“Made Pasek membuat konflik di cerpennya sangat menarik, kontemporer. Dan ceritanya sangat modern. Karyanya menggunakan Bahasa Bali kepara tetapi ejaannya bergaya Belanda. Sekarang kata-katanya sudah tidak bisa pahami dengan baik. Karena itu bahasa di jaman Belanda,” imbuhnya.

Rata-rata buku karya almarhum Made Pasek bisa dikategorikan bahan pelajaran bagi siswa. Salah satunya terjemahan cerita Ni Diah Tantri dari berbahasa Jawa Kuno menjadi Bahasa Bali. Bahkan cerita Ni Diah Tantri juga kerap menjadi rujukan bahan ajar mata pelajaran Bahasa Bali.

Bahkan almarhum juga membuat buku terjemahan tentang pengobatan penyakit mata yang sumbernya dari usadha lontar.“Beliau menerjemahkan isi lontar usadha, khususnya tentang pengobatan mata. Kebetulan lontar itu kan diwarisi dari leluhurnya” jelasnya.

Sementara Ketut Putu Astita, 71 yang merupakan cucu dari Sastrawan Made Pasek mengatakan jika Made Pasek lahir pada tahun 1889. Ia pun awalnya tidak tahu betul kiprah sang kakek dalam dunia sastra Bali Modern.

Ia hanya tahu jika sang kakek Made Pasek mengoleksi lontar yang cukup banyak, dan merupakan warisan dari pendahulunya. “Tulisan tangan kakek (almarhum Made Pasek, Red) beberapa kami masih simpan. Dalam bentuk kamus. Tapi kalau buku-buku yang berisi cerpen kami tidak menyimpannya,” ujar Astita kepadaBali Express (Jawa Pos Group).

Atas jasanya dalam dunia sastra, Pemkab Buleleng juga pernah menganugerahkan Anugrah Seni Wija Kusuma kepada almarhum Made Pasek, pada tahun 2009 lalu. Tentunya penghargaan itu diberikan setelah kiprah Made Pasek dinobatkan sebagai sastrawan Bali Modern pertama di Bali.

“Penghargaannya dari Bupati Buleleng yang saat itu dijabat oleh Bapak Putu Bagiada. Karena kakek saya dianggap berjasa dalam bidang sastra utamanya sebagai pelopor Sastra Bali Modern,” tutupnya.

Lalu, bagaimana penuturan secara langsung dari peneliti Prof I Nyoman Darma Putra, M.Litt, dalam menelusuri jejak karya Sastrawan Made Pasek?simak ulasan berikutnya. (bersambung)

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia