Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Di Pura Dalem Pengerubungan, Kapten Mudita Susun Strategi Perang

09 Juni 2019, 20: 11: 13 WIB | editor : Nyoman Suarna

Di Pura Dalem Pengerubungan, Kapten Mudita Susun Strategi Perang

MONUMEN: Jero Mangku Sofa berada di Monumen Pahlawan Kapten Mudita di depan Pura Dalem Pengerubungan, Banjar Yoh, Desa Pengotan, Bangli. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Pura Dalem Pengerubungan, Banjar Yoh, Desa Pengotan, Bangli, jadi saksi bisu pergerakan pahlawan Kapten AA Gede Anom Mudita bersama para pejuang Bangli dalam menyusun strategi pertempuran. Pura tersebut bahkan dibangun kala para pejuang Bali Timur berkumpul di sana. Seperti apa suasananya kini?

Hamparan kebun jeruk ‘mengobati mata yang haus’ dengan suasana khas pedesaan. Cuacanya sejuk dan bersih. Kendaraan yang melintas tidak sebanyak di kota. Hingga sampailah kita di Banjar Yoh, wilayah paling barat di desa tersebut.

Banjar Yoh, Desa Pengotan, Kecamatan Bangli, berjarak sekitar dua kilometer dari Jalan Raya Bangli-Kintamani. Warga masuk ke arah barat, melalui jalan kecil dekat Pura Penataran Agung Desa Pengotan. Setelah itu, bisa menyusuri jalan berliku ke arah barat.

Pada masa lalu, Banjar Yoh ternyata menjadi tempat peraduan bagi para pejuang lintas kabupaten. Mereka berkumpul di tempat itu untuk menyatukan pendapat, dan mengatur strategi perang. Di tempat yang sama, warga setempat juga sedang membangun pura. Di sana kedua kelompok berbaur, bahkan ada juga pejuang yang membantu proses pembangunan pura.

Pura Dalem Pengerubungan diperkirakan dibangun sekitar tahun 1940-an. Menurut Pemangku Pura Dalem Pengerubungan, Jero Mangku Sofa, para pejuang datang ke tempat tersebut untuk berlindung. Mereka awalnya sekadar melintas sebelum bertempur melawan penjajah.

Lokasi yang menjadi pura itu, dulu merupakan hutan belantara. Karena dianggap aman, maka pejuang lintas kabupaten ini memilih tinggal sementara selama tiga bulan. Oleh karena itu, musuh-musuh tak mampu menemukan pejuang Indonesia yang sedang bersembunyi.

Berdasarkan penuturan tetua desa, kata Mangku Sofa, Kapten Mudita adalah pionir bagi semua pejuang di Desa Pengotan. "Ida Agung (Kapten Mudita) sempat tinggal di sini (Pura Dalem Pengerubungan). Saat pembangunan pura ini, beliau ikut membantu. Warga kami juga sempat memberikan beliau makanan untuk sementara tinggal di hutan. Jadi, beliau tahu pembangunan pura ini," titur Mangku Sofa kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Minggu (9/6).

Dikatakannya, pura semula bernama Pura Penghubung. Namun, karena pelafalan yang cepat, warga lambat-laun menyebutnya Pengerubungan. Penghubung diartikan sebagai kata yang merujuk pada cara pejuang lintas kabupaten menyatukan diri. Wilayah Banjar Yoh ibarat sebagai penghubung veteran dari Buleleng Timur, Gianyar, hingga Karangasem. 

Mangku Sofa juga mereka-reka ingatannya terhadap ucapan para tetua, bahwa di sebelah barat pura juga terdapat goa yang berfungsi sebagai banker (tempat sembunyi). Letaknya 60 meter dari pura. Koran ini tak bisa menjelajahnya karena alasan keamanan. Mangku Sofa juga tidak memberi izin karena jalanannya sangat curam. "Saya ke sana waktu kecil. Sudah lama. Makanya kalau ke sana sudah tidak kelihatan, di samping itu juga bet (rimbun)," kata Mangku Sofa.

Keberadaan Kapten Mudita dan beberapa pejuang Bali Timur, membuat hati warga Desa Pengotan tergugah. Sebagian besar warga sepakat untuk melanjutkan perjuangan Kapten Mudita. Pergerakan itu menjadi warisan, bahwa hampir 80 persen warga Pengotan adalah veteran. Tak heran kalau masyarakat Bangli menyebut wilayah Pengotan adalah basis para pejuang kemerdekaan.

Pejuang asal Pengotan sampai-sampai melakukan sumpah, menggunakan darah sebagai tanda kesepakatan. "Tujuannya untuk melanjutkan perjuangan beliau (Kapten Mudita). Jika suatu saat perjuangan beliau terhenti," ujar Mangku Sofa.

Benar saja, suatu ketika Kapten Mudita balik ke wilayah Kota Kerajaan Bangli. Di tengah perjalanan, tokoh Puri Kilian Puri Agung Bangli itu gugur usai diserang tentara Belanda. Wilayah itu kini dikenal dengan Desa Penglipuran.

Untuk mengenang jasa Kapten Mudita dan pejuang Desa Pengotan, pihak desa, khususnya warga Banjar Yoh mengusulkan pembangunan monumen pahlawan di depan Pura Dalem Pengerubungan, beberapa tahun kemudian. Bangunan itu akhirnya berdiri dengan ketinggian sekitar tujuh meter. Foto Kapten Mudita muda, mengenakan pakaian kebesaran, terpampang di atas monumen. Namun sayang, rumput liar tak juga dipangkas.

Cerita mistis juga mewarnai pembangunan monumen. Berdasarkan permintaan mendiang Kapten Mudita, setiap 17 Agustus, warga desa wajib melaksanakan upacara bendera. Tak lupa, warga biasanya menghaturkan sesaji atau kelengkapan upacara agama setiap perayaan HUT RI. "Itu diketahui setelah nunas baos (minta petunjuk secara niskala). Beliau minta upacara bendera terus digelar tiap tahun," pungkas Mangku Sofa.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia