Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Features
Sosok Sastrawan Bali Modern, I Made Pasek (2)

Telusuri Hingga ke Australia, Cerpen Dinilai Masih Relevan hingga Kini

10 Juni 2019, 18: 10: 39 WIB | editor : I Putu Suyatra

Telusuri Hingga ke Australia, Cerpen Dinilai Masih Relevan hingga Kini

I Made Pasek (repro)

Share this      

Kiprah Made Pasek sebagai Sastrawan Bali Modern di era 1910-an diketahui berkat kejelian akademisi Universitas Udayana, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt yang menelusuri jejak karyanya. Pada tahun 2000 Darma Putra menerbitkan sebuah buku berjudul Tonggak Baru Sastra Bali Modern. Buku ini dianggap penting, tidak saja karena mengisi kekosongan literatur mengenai sejarah dan kajian sastra Bali modern tetapi karena keberhasilannya mematahkan pendapat lama mengenai awal kelahiran Sastra Bali Modern.

I PUTU MARDIKA, Singaraja

SAAT dikonfirmasi Bali Express (Jawa Pos Group) melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu, Darma Putra menyempatkan berbagi cerita saat dirinya menelusuri jejak karya Made Pasek. Menurutnya cerpen karya I Made Pasek yang sempat ia temukan dalam sejumlah buku pelajaran (text books) sekolah dasar yang terbit tahun 1910-an telah memberinya inspirasi untuk meninjau kembali sejarah Sastra Bali Modern.

Darma Putra menyebut sejauh ini sastra Bali modern dianggap lahir tahun 1931 yaitu tahun terbitnya novel Nemoe Karma karya Wayan Gobiah. Pendapat ini pertama kali disampaikan oleh Prof Dr I Gusti Ngurah Bagus dan terus diikuti sarjana-sujana lainnya.

Setelah menemukan cerpen-cerpen Made Pasek dan karya penulis lain dari tahun 1910-an, Darma Putra pun menyimpulkan bahwa sastra Bali modern sudah lahir tahun 1910-an. Untuk meyakinkan pembaca sudi mengubah pendapat lama ini, kemudian menulis buku Tonggak Baru Sastra Bali Modern (2000).

Ada sejumlah cerpen karya Made Pasek disertakan ke dalam Buku Tonggak Baru Sastra Bali Modern. Diantaranya ‘Ayam Mepalu’, ‘I Keliud tekèn I Teragia’, ‘Keneh jujur dadi mujur’, ‘pemadat’, dan ‘Jelèn anakè demen nginum inuman anè mekada punyah, luirè: jenèwer, berandi tekèn anè lèn-lènan’.

Dari segi bentuk dan tema, karya Made Pasek sebut Darma Putra sangat bermutu. Meskipun cerpen-cerpen Pasek ditulis tahun 1910-an, namun temanya masih relevan sampai sekarang. Terutama cerpen tentang pemadat (narkoba), pemabuk, dan ketidaksetaraan gender dalam dunia pendidikan (cerpen ‘Ayam Mepalu’). Cerpen-cerpen ini memiliki nasehat yang dalam dan nada penyampaian yang riang dan jenaka.

Menurutnya, cerpen-cerpen Made Pasek mendidik sekaligus menghibur, menghibur sekaligus mendidik. Banyak cerpen yang pantas dicetak ulang dan dijadikan buku pelajaran bahasa dan sastra Bali dewasa ini. Selain memberikan pesan moral, cerpen-cerpen mereka juga memberikan gambaran sosial dan aspirasi masyarakat Bali tempo doeloe.

Dalam cerpen ‘Ayam Mepalu’, misalnya. Darma Putra mengaku seolah mendapat kesan bahwa masyarakat zaman itu hanya mendorong anak laki-laki untuk bersekolah, pendidikan dianggap tidak perlu buat anak perempuan.

Unsur modernitas juga tercermin dalam cerpen ini. Khususnya bagian yang melukiskan ketika tokoh cerita berhias dengan menggunakan bedak (mapupur) dan mematut diri di depan cermin (mameka).

“Ketika membaca cerpen ini saya berfikir, wah waktu itu sudah ada pupur ya? Kapan pupur mulai masuk Bali tidak jelas. Tapi yang jelas pada tahun cerpen ini ditulis pupur sudah dipakai remaja wanita,” imbuhnya.

Lalu bagaiaman kisahnya menelusuri cerpen-cerpen Made Pasek? Darma Putra pun bercerita. Penelusuran ini bermula ketika tahun 1998. Saat itu, dirinya tengah melakukan penelitian untuk disertasi di perpustakaan The University of Queensland, Australia.

Kala itu dirinya tengah mencari karya sastra pengarang Bali dalam bahasa Indonesia. Saat itu ia sudah menemukan beberapa syair, pantun dan drama yang ditulis penulis Bali dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan dalam surat kabar Surya Kanta dan Bali Adnjana. Keduanya terbit di Singaraja, tahun 1920-an. “Saya ingin mencari apakah ada karya lain di luar yang terbit di kedua media massa tersebut,” kenangnya.

Di perpustakaan The University of Queensland ada koleksi Victor Emmanuel Korn dalam bentuk microfilm yang berisi awig-awig desa adat dan beberapa buku pelajaran sekolah. Korn (1892-1969) adalah pamong praja dan sarjana Belanda yang menekuni hukum adat Bali.

Ketika di Bali Korn sebut Darma Putra sempat mengumpulkan banyak materi penelitian terutama awig-awig dari berbagai desa (adat) di seluruh Bali. Setelah Korn meninggal, koleksi itu diselamatkan dan menjadi Korn Collection.

Koleksi Korn terdiri dari puluhan lembar microfiche semacam kelisè ukuran postcard yang hanya bisa dilihat lewat kamera baca. Nah, dalam koleksi Korn itulah Darma Putra menemukan beberapa buku pelajaran sekolah dasar yang disusun oleh para guru seperti I Ranta, Ketut Nasa, Made Pasek, dan lain-lain.

Kebanyakan buku itu adalah buku pelajaran bahasa Bali, baik dalam huruf Bali maupun dalam huruf Latin. Selain di Bali, buku-buku itu juga digunakan di sekolah-sekolah di Lombok, daerah yang waktu itu masih bernaung dalam satu keresidenan Belanda.

Isi buku pelajaran tersebut utamanya cerita-cerita. “Beberapa cerita berbahasa Bali dari buku mereka saya fotokopi dan jadikan titik tolak untuk menelusuri karya sastra berbahasa Bali lainnya,” tuturnya,

Berbekal dari petunjuk microfiche, itulah ia bertekad untuk mencari buku aslinya. “Pikiran saya melayang dari Brisbane ke Gedong Kirtya dan Pusdok Kebudayaan Bali di Renon. Judul-judul buku Made Pasek dan pengarang lainnya saya fotokopi (print) dari microfiche dan bawa ke Bali dengan harapan dan keyakinan buku-buku itu ada di Kirtya atau di Pusdok,” jelasnya.

Kerja kerasnya Darma Putra pun berbuah manis. Ia akhirnya mendapat sejumlah buku karya Made Pasek dari Gedong Kirtya dan Pusdok Bali, yaitu Tjatoer Perenidana (Semarang: Drukkerij en Boekhandel, 1913), Aneka Roepa Kitab Batjaan (Batavia: Landsdrukkerij, 1916), Aneka-warna Tjakepan Kaping Kalih, Pepaosan Bali Kesoerat Antoek Aksara Belanda (Batavia: Landsdrukkerij,1918), dan Aneka Warna Peratamaning Tjakepan, Pepaosan Bali Kesoerat Antoek Aksara Belanda (Batavia: Landsdrukkerij, 1918). Buku-buku ini dicetak penerbit Belanda di Semarang dan Batavia. Dari sini kita bisa mengatakan bahwa waktu itu di Bali belum ada percetakan.

Setelah buku berhasil diperoleh, ia pun memperhatikan secara seksama tahun terbit buku Pasek dan judul-judulnya. Sebut saja Buku Ni Dyah Tantri yang terbit pertama tahun 1916. Ternyata buku ini sudah beberapa kali dicetak ulang. Yaitu oleh Parisada Hindu Dharma Pusat tahun 1977 dan oleh Yayasan Dharma Sastra tahun 1999.

“Ada banyak versi cerita Tantri tetapi kenyataan bahwa karya Pasek yang dipilih oleh lembaga ini untuk dicetak ulang menunjukkan buku susunannya memiliki kelebihan dan kualitas. Cetak ulang ini menunjukkan bahwa apa yang ditulis Pasek tempo doeloe berguna sampai sekarang,” katanya.

Menurutnya, Buleleng merupakan gudang intelektual Bali tempo doeloe. Ia pun berpesan agar intelektual menggali karya dan pemikiran sastrawan. Dengan harapan siapa tahu bisa memberikan inspirasi bagi kita untuk memajukan dunia pendidikan dan pengetahuan.

“Kalau dunia pengetahuan adalah candi, maka dasar-dasar yang diletakkan Made Pasek dan guru-guru lain tempo doeloe semestinya dilanjutkan dengan menumpukan dan mengukir batu-batu pengetahuan baru sehingga terus meninggi, mejadi pegangan kehidupan kita di Bali dan Nusantara ini,” tutupnya (habis).

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia