Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Bali

PKB Ke-41 Angkat Sekeha Sebunan Berbasis Desa Adat

10 Juni 2019, 20: 56: 12 WIB | editor : Nyoman Suarna

PKB Ke-41 Angkat Sekeha Sebunan Berbasis Desa Adat

PKB: Gubernur Koster didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Wayan Adnyana saat memberikan pengarahan terkait pelaksanaan PKB Ke-41 di Wiswa Sabha, Senin (10/6). (CHAIRUL AMRI SIMABUR/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-41 tahun ini siap digelar, pada 15 Juni 2019. Menjelang pelaksanaannya, Gubernur Bali Wayan Koster mengeluarkan beberapa penegasan lagi.

Salah satunya, dia meminta pelaksanaan ajang seni dan budaya itu harus sesuai konsep utamanya, yakni pelestarian tradisi, budaya, dan seni sesuai visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, serta menampung dimensi perkembangan zaman saat ini.

“Dimensinya memperkuat upaya pelestarian. Dan karena substansinya pelestarian, maka materi PKB harus diangkat dari seni atau tradisi yang mengakar di masyarakat,” tukas Koster saat memberikan pengarahan di Wiswa Sabha, Senin (10/6).


Karena itu, sambung dia, lembaga yang dilibatkan dalam pelaksanaan PKB tentunya mengakar di masyarakat. Basis utamanya desa adat. “Dulu dikenal istilah sekeha sebunan yang berbasis di desa adat,” sebutnya.

Menurut dia, ikatan kelompok sekeha sebunan itu lebih kuat. Dalam keseharian, anggota yang tergabung memiliki komitmen yang sama, yakni melakukan upaya pelestarian tradisi, seni, dan budaya. “Ini bagian dari penguatan desa adat, khususnya pelestarian,” sambung Koster.

Selain itu, Koster mengingatkan soal upaya membangkitkan corak atau ciri khas masing-masing kabupaten/kota yang ada di Bali, khususnya yang terlupakan atau nyaris terancam punah.

 
“Ini momentum untuk menggali, kemudian membangkitkan dan mengembangkan, lantas melestarikan apa yang ada di tengah masyarakat Bali yang selama ini tertinggal luput dari perhatian masyarakat,” sebutnya.

Sejatinya, kata Koster, dia ingin pelaksanaan PKB kali ini berlangsung meriah dan gagah, karena PKB merupakan event seni budaya bernilai sejarah. Karena itu, tahun depan, dia berjanji akan menaikkan anggaran pelaksanaan PKB.

Dia mengaku tidak ragu menaikkan anggaran untuk urusan kebudayaan. Alasannya, untuk urusan kebudayaan tidak bisa menggunakan hitung-hitungan dagang, untung rugi.


“Kalau urusan budaya jangan hitung-hitungan untung rugi. Urusan budaya itu menyangkut investasi jangka panjang. Bukan biaya,” ujarnya waktu memberikan pengarahan.


Apalagi Bali, sambung dia, budaya sudah menjadi nafas kehidupan masyarakat. Di situ letak keunggulan Bali dibandingkan daerah lain, baik di dalam maupun luar negeri.

“Unteng-nya, keunggulannya, keunikannya, hidupnya, nafasnya, ada di situ (kebudayaan). Jangan demit di sini. Kalau ada yang bilang ngutang-ngutang pis dogen, ini salah fatal. Karena yang bawa rezeki itu budaya,” tukasnya.

Tanpa budaya, lanjutnya, aktivitas pariwisata di Bali tidak akan bergerak seperti sekarang. Terlebih bila dibandingkan dengan obyek wisata modern yang ada di beberapa negara.

“Kalau ngomong jalan bagus, di luar negeri sana tidak kurang jalan yang bagus. Tapi di Bali ada budaya. Kita mempertandingkan konten budaya. Sebetulnya kita nggak perlu bertanding. Cukup dijaga dan dilestarikan saja,” tegasnya.

Terkait kehadiran Presiden RI, Koster memastikan Presiden Joko Widodo akan hadir pada dua gelaran hari pertama, 15 Juni 2019, baik saat pelepasan pawai di Renon, serta pembukaan di Panggung Terbuka Ardha Chandra, Art Center.  “Sampai saat ini (Presiden) terjadwal melepas pawai dan membuka PKB di Ardha Candra,” tukasnya.

(bx/hai/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia