Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Tak Mau Permisi dan Haturkan Sesaji, Pemancing Tewas di Tukad Bangka

10 Juni 2019, 21: 59: 07 WIB | editor : Nyoman Suarna

Tak Mau Permisi dan Haturkan Sesaji, Pemancing Tewas di Tukad Bangka

SUNGAI: Kawasan Tukad Bangka di Banjar Perangsada, Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR – Belum lama ini, warga di sekitar Tukad Bangka, Banjar Perangsada, Desa Pering, Blahbatuh, Gianyar digegerkan penemuan seorang pemancing asal Tasikmalaya, Jawa Barat yang tewas di kawasan itu.

Tukad Bangka memang sering memakan korban. Karena itu, tukad (sungai) ini dikenal angker. Selain diapit dua kuburan, tukad ini juga digunakan untuk prosesi nganyud abu jenasah setelah ngaben atau membakar mayat di kuburan.

Mantan Bendesa Adat Perangsada, I Nyoman Kamariayasa, saat ditemui di rumahnya, Senin (10/6), juga mengakui bahwa lokasi tersebut memang dikenal angker oleh warga setempat. "Tukad ini memang angker. Jika tidak mengganggu yang menghuni di sana, tidak akan terjadi apa-apa," jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group). 

Pria berumur 57 tahun itu pun mengatakan, Tukad Bangka merupakan aliran  Tukad Petanu yang datang dari hulu Desa Perangsada. Tetapi di utara dan di selatan desa setempat nama sungai itu pun berbeda. Di utara Perangsada disebut dengan Tukad Sada, sedangkan di selatan disebut Tukad Saba.

"Nama sungainya berbeda-beda, tetapi masih dalam satu aliran.  Saya tidak begitu tahu asal-usulnya. Tetapi para tetua saya bilang, nama Tukad Bangka karena dari zaman dulu dipakai tempat nganyud habis prosesi pengabenan. Setelah membakar mayat, abunya dihanyutkan di aliran sungai itu, makanya disebut dengan Tukad Bangka," tandasnya.

Seperti diketahui, bangka dalam bahasa Bali berarti mati. Orang yang mati setelah diaben, abunya  dilarung ke  sungai tersebut. Warganya setempat pun mempercayai bahwa kawasan itu memang merupakan kawasan mistis. Apalagi lokasinya diapit kuburan atau disebut negen setra, yakni di sebelah barat kuburan Desa Adat Perangsada dan di timur kuburan Desa Adat Tojan.

"Selain kejadian ditemukannya pemancing yang tewas bersama hasil tangkapannya berupa julit ini, dulu juga sempat ada kejadian yang serupa. Pernah ada warga di sini menyeberang melalui jembatan bambu, tetapi jatuh ke sungai dan langsung meninggal," ungkapnya.

"Kalau kita di sini, pasti minta izin kalau melakukan aktivitas, mulai bawa canang atau sekedar bilang permisi. Kalau sungai di sana memang sering untuk mancing, warga sini malah hampir setiap hari. Mungkin yang tewas ini sudah niat sekali dapat ikan besar dengan cara masang patok, dan mungkin saja tanpa bilang permisi dengan yang jaga  secara niskala di areal itu," terangnya.

Pria yang juga pernah menjabat sebagai bendesa adat selama 10 tahun itu juga mengaku telah membuat pararem, yakni berupa aturan yang disepakati oleh krama banjar. Ketika ada orang meninggal akibat kecelakaan atau disebut salah pati maupun ulah pati di wilayah Desa Adat Perangsada, pihak keluarga korban harus melakukan upacara pembersihan desa. Jika tidak, menurutnya,  akan membuat leteh desa.

"Menurut informasi yang saya dengar, kasus penemuan pemancing yang tewas katanya sudah diupacarai. Mungkin keluarganya sudah  berkoordinasi dengan prajuru saat kejadian, memang biayanya tidak seberapa namun yang penting adalah maknanya itu untuk pembersihan secara niskala," pungkas pria yang juga sebagai pematung tersebut.

(bx/ade/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia