Selasa, 15 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Sejarah Sayan, Bermula dari Situasi Desa Sayuh dan Sayah

11 Juni 2019, 07: 57: 18 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sejarah Sayan, Bermula dari Situasi Desa Sayuh dan Sayah

REMBESAN: Di Selatan Desa Sayan banyak mata air yang muncul, sedangkan di Sayan, mata air murni tidak ada, hanya dari rembesan aliran sungai saja. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Setiap desa pakraman di Bali memiliki sejarah khusus, seperti Desa Sayan, Kecamatan Ubud, yang terletak di daerah paling barat Kabupaten Gianyar ini.

Desa Sayan lokasinya  berbatasan langsung dengan Kabupaten Badung yang dibatasi oleh Sungai Ayung  di sebelah barat desa. Jadi, di Barat Desa Sayan adalah Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung.


Desa Sayan tergolong desa yang cukup besar, karena terdiri atas dua desa pakraman. Yakni Desa Pakraman Penestanan dengan dua banjar, terdiri atas Banjar Penestanan Kelod dan Penestanan Kaja. Sedangkan Desa Pakraman Sayan terdiri atas enam banjar. Terdiri atas Banjar Kutuh, Pande, Baung, Mas, Sindu, dan Banjar Ambengan.


Salah satu tokoh Desa Sayan, I Made Tragia mengatakan, sejarah Desa Sayan secara tertulis saat ini memang tidak ada. Namun, secara gugon tuwon (cerita masyarakat) dari mulut ke mulut yang diketahui melalui lelingsirnya tergerus semakin menghilang. Tapi,  dapat dipastikan sesuai yang ia dapatkan terkait sejarah, nama Desa Sayan menjadi bagian dari  perjalanan Rsi Markandya zaman kerajaan terdahulu. “Sayan bermakna Sayuh atau lemah lesu, karena saat Rsi Markandya ke Selatan dari Desa Kedewatan (utara Desa Sayan)  kondisinya mulai dirasakan lemah dan lesu. Maka beliau balik lagi ke payogan menuju utara di daerah Taro," terangnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin.


Selanjutnya ada juga  disebutkan Sayah, yang berarti kondisi wilayahnya tidak karuan dan tidak makmur.


Pria yang juga selaku Jero Dalang mengaku  mengetahuinya dari cerita lelingsir terdahulu. Semua itu   sesuai data yang ditemukannya pada Lontar Manawa Dharma Sastra dan Bhuana Kosa yang  juga menggambarkan sekitar Desa Sayan. Dijelaskannya, lantaran kondisi wilayah yang Sayah dan Sayuh, maka ditugaskanlah seorang raja dari Puri Mengwi Badung bernama Banyu Ning dan adiknya Banyu Anyar, menempati wilayah yang Sayah tersebut. Singkat cerita selanjutnya diberikan nama Sayan.


Sejalan dengan perkembangan zaman, karena ada perebutan kekuasaan dari Kerajaan Ubud, terjadilah keadaan yang kurang kondusif. “Tepat di timur Desa Sayan ada yang membakar kubu (rumah beratap alang-alang) yang kemudian dikira ada penyerangan datang dari Kerajaan Ubud, sehingga warga  lari ke barat menuju Desa Bongkasa dan sekitarnya. Bahkan, sasuhunan berupa Rangda dibawa juga lari kesana," ujarnya.


Tragia juga mengatakan,  dulu di Pura Dalem Sayan terdapat dua sasuhunan rangda. Satu warna rambutnya putih dan satu lagi merah. " Yang berwarna putih  dibawa lari ke daerah Bongkasa tempat mengungsi, dan satunya lagi masih dilinggihkan, yang sampai saat ini nyeneng di jeroan kaja Pura Dalem Gede Sayan," urainya.

Lantaran dikuasi oleh Kerajaan Ubud, maka diajaklah empat orang warga untuk tinggal di Sayan. Yakni rarudan (perpindahan) warga dari Desa Kutuh Ubud, sehingga akhirnya  terdapat Banjar Kutuh. Selanjutnya untuk membuat peralatan pertanian dan dapur, maka diajak juga seorang Pande dari Desa Peliatan, sehingga terdapat juga Banjar Pande di Desa Sayan.
Begitu juga dengan warga yang datang untuk tinggal di Sayan berasal  dari Desa Taro yang kini   terdapat nama Banjar Baung.

Sedangkan Banjar Mas, dikatakan rarudan dari Desa Mas yang berjumlah 28 warga yang kreatif   membuat gambelan angklung. Sehingga sampai saat ini, angklung tersebut tetap dimiliki oleh 28 krama atau sekaa.


Selanjutnya untuk kebaradaan Banjar Sindu dan Ambengan, Tragia mengaku berasal dari daerah Batubulan. “Kalau warga Sayan asli memang tidak ada, karena semua yang tinggal di sini merupakan rarudan semua dari beberapa daerah. Makanya, kehidupan sampai saat ini sangat beragam dan menyatu, meski berbeda trah dan asal –usul awalnya,” tuturnya.


Tragia juga menambahkan keberadaan Desa Sayan sempat kena pastu (kutukan). Suatu ketika ada seorang perempuan menjual air, namun warga Sayan enggan  membeli karena sudah minum tuak. Lantaran penolakan itu, airnya dibawa ke selatan Desa Sayan, dan sampai saat ini sumber mata air di desa itu bisa dihitung dengan jari.


Air yang dibawa pedagang itu, ditawarkan  kepada seluruh warga yang ada, namun dijawab dengan mengatakan sudah ada tuak. "Maka, kalau dulu peminum tuak terkenal dari Desa Sayan," bebernya.


Air yang dibawa pedagang itu, lanjut Tragia, kemudian dipastu dan  dibuang ke selatan desa, sehingga di selatan Desa Sayan banyak mata air yang muncul. Sedangkan di Sayan sendiri,  mata air murni tidak ada, hanya  dari rembesan aliran sungai saja.


"Untuk membuat sumur sampai kedalaman  24 meter,  belum tentu ada air yang muncul. Itu sesuai informasi dari leluhur yang ada dulu saya dengar, kalau dibilang mitos iya, tapi kalau lihat kenyataannya juga nyata seperti itu adanya,” imbuh pria 74 tahun tersebut.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia