Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Tak Ikut Tirtayatra, Bayar Setengah, Ortu Siswa SMPN 1 Banjar Protes

11 Juni 2019, 20: 00: 08 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tak Ikut Tirtayatra, Bayar Setengah, Ortu Siswa SMPN 1 Banjar Protes

Ilustrasi (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Agenda tirtayatra yang dirangkaikan dengan perpisahan Siswa Kelas IX di SMPN 1 Banjar diprotes salah satu orang tua siswa. Pasalnya, meski sang anak tak ikut tirtayatra, namun tetap membayar dengan besaran setengah dari biaya transport yang dikeluarkan.

Seperti dikeluhkan salah satu orangtua siswa yang berkali-kali meminta namanya tak dikorankan mengaku jika kegiatan Tirtayatra dilakukan oleh sekolah pada Selasa (11/6) dengan menggunakan bus. Tirtayatra diikuti oleh semua siswa-siswi kelas IX. Mereka pun harus membayar sebesar Rp 150 ribu.

"Kalau tidak ikut, tetap harus bayar juga tapi setengah Rp 75 ribu. Menurut saya keputusan itu kurang bijak. Bahkan anak saya diberikan kwitansi tanpa tanda tangan bendara sekolahnya. Padahal kondisi ekonomi saat ini serba pas-pasan," keluhnya.

Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Banjar, Wayan Sutarjana tak menampik jika siswa yang tidak ikut kegiatan Tirtayatra tetap dikenakan setengah biaya transport sebesar Rp 75 ribu. Ia mengklaim jika sebelum kegiatan Tirtayatra pihaknya bersama komite sekolah sudah mengadakan rapat bersama dengan orangtua siswa.

"Itu sudah ada kesepakatan dengan orangtua siswa. Kegiatan ini juga sudah kami sampaikan ke Dinas dan Dewan Pengawas. Kelas IX wajib ikut Tirtayatra. Orangtua yang datang setuju dengan kegiatan itu, lalu bagi siswa yang tidak ikut kena setengah untuk membiayai yang ikut ini," jelasnya.

Pungutan setengah biaya transport sebut Sutarjana tetap dilakukan untuk mensubsidi kegiatan. Selain Tirtayatra di Pura Sakenan, Denpasar, pihaknya diakui Sutarjana juga melakukan study tour ke Desa Wisata Penglipuran, serta makan siang didaerah Sanur.

 "Tadi ada 9 bus yang berangkat. Diikuti 380 siswa kelas IX, dari total siswa 415. Rp 150 ribu itu untuk biaya transpor, makan dan upacara. Kegiatan yang kami lakukan ini atas kesepakatan musyawarah mufakat bersama orangtua siswa," tegasnya. 

Menyikapi keluhan itu, Ketua Dewan Pendidikan, I Gusti Ngurah Agung mengaku sudah meneruskan keluhan itu kepada Disdikpora Buleleng untuk disikapi. Dikatakan Ngurah Agung, program tour atau Tirtayatra bisa saja dilakukan oleh pihak sekolah selama mendapatkan persetujuan oleh masing-masing orangtua siswa.

Dengan catatan tidak memberatkan orang tua siswa yang kurang mampu akan biaya yang harus dikeluarkan. "Tidak memberatkan, dan tidak ada pemaksaaan. Jangan sampai tidak ikut, raport tidak diberikan atau ijazah tidak diberikan. Itu tidak benar. Harus segera disikapi. Kepala Dinas (Dharmaja,red) sudah saya minta untuk disikapi secara bijak. Saya rasa teman-teman bisa menerjemahkan itu ya," tutupnya.

Sementara Kepala Disdikpora Buleleng, Gede Dharmaja mengaku belum menerima laporan terkait keluhan salah satu orangtua siswa di SMP Negeri 1 Banjar tersebut. Pihaknya pun mengklaim akan menelusuri persoalan itu. “Belum terima (laporan, Red). Nanti kami telusuri dulu,” singkatnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia