Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Genjek Difabelnetra

Satu-satunya di Dunia, Berharap Banyak Diundang Pentas

12 Juni 2019, 11: 24: 08 WIB | editor : I Putu Suyatra

Satu-satunya di Dunia, Berharap Banyak Diundang Pentas

DIFABEL : Genjek Sekaa Rwa Bhineda yang anggotanya adalah orang-orang yang mengalami keterbatasan dalam fungsi penglihatan atau difabelnetra ( Pertuni Bali), berupaya terus eksis dengan segala keterbatasan. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Orang difabel tidak bisa melakukan proses berkesenian? Stigma yang beredar di masyarakat tersebut terpatahkan oleh kehadiran Sanggar Genjek Sekaa Rwa Bhineda yang digagas Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Bali. Meski diganjal banyak kendala, Genjek ini terus berupaya eksis.

Sanggar Genjek Sekaa Rwa Bhineda digagas Pertuni Bali, yakni  organisasi yang anggotanya adalah  orang-orang yang mengalami keterbatasan dalam fungsi penglihatan atau difabelnetra. 


Genjek yang berdiri sejak 1996 tersebut, menjadi jembatan bagi anggota Pertuni Bali  menunjukkan eksistensinya dalam berkesenian. Sekaa ini berada langsung di bawah Biro Spiritual dan Seni Budaya Pertuni Bali.


Koordinator dari Biro Spiritual dan Seni Budaya Pertuni Bali, I Komang Soma  menjelaskan,  Genjek sudah sering dipentaskan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) di Art Centre atau di pentas budaya Kota Denpasar  baru-baru ini.


“I Made Mantra dari Batu Yang, Gianyar, menjadi pembina dan pengajar untuk sanggar ini. Beliau merupakan pelatih nondifabel yang sudah membina kami sejak awal berdirinya sanggar ini. Selain itu, pembina kami yang asli bernama Bapak Made Mandrak. Ia juga membantu membuat lagu-lagu, selain  rancangan tabuh-nya,” jelas Bapak dua anak ini, saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) beberapa waktu lalu.
Komang  Soma menambahkan,  proses kreatif ini kemudian diikuti oleh anggota Pertuni lainnya. “Kami mengikuti binaan dari beliau. Ia adalah guru yang sabar sehingga kami bisa menyerap ilmunya sesuai dengan kemampuan," urai pria yang ajaran disapa Mang Soma.


Diakuinya,  difabelnetra berbeda-beda daya serapnya. Ada yang cepat  dan ada yang  lambat.


Sekaa Rwa Bhineda sampai saat ini beranggotakan 25 orang, termasuk pendamping dan lainnya. “Kami dari difabelnetra ini kan tidak luput dari pendamping  untuk menuntun. Contohnya, kami akan pentas di panggung, harus ada yang melihat membantu mengatur posisi kita,” jelas bapak kelahiran 1965 itu.
Sekaa ini lebih banyak beranggotakan usia dewasa hingga lanjut usia. “Yang tergabung di sini sudah tua-tua. Ada yang sudah punya anak dan cucu. Sampai saat ini, belum ada anak muda yang tergabung di sini. Kami sudah menawarkan, tapi tidak ada anak muda yang antusias bergabung,” terangnya.


Soma  ikut bergabung beberapa tahun setelah sekaa berdiri. “Semenjak Rwa Bhineda dapat bantuan gong dari mantan Gubernur Bali, Dewa Made Brata, sejak itu saya mulai bergabung,” terangnya.


Orang-orang yang berkontribusi mendirikan sekaa ini diantaranya Petrus Gunadi, I Nyoman Sumita (difabeldaksa), Ketut Masir termasuk pendirinya. Salah satu pendiri sekaa,  Petrus Gunadi saat masih sehat, aktif  membangun dan menjaring relasi untuk pementasan. “Saat itu kan banyak relasinya.Semenjak ia sakit, relasi berkurang. Pementasan juga mulai berkurang," bebernya.


Ditambahkannya, Genjek yang dipentaskan berisi pesan moral, nyanyian pergaulan, dialog antara pemuda-pemudi. “Kalau dalam sekaa ini, hanya ada satu perempuan yang bergabung. Susah ngajak yang tidak berniat,” keluhnya.


Jadwal latihan Genjek biasanya hari minggu pertama dan minggu ketiga.  “Kendala yang dihadapi saat latihan adalah transportasi. Dulu saat zaman Pak Petrus masih sehat, dia yang mensupport semuanya, termasuk transportasi, konsumsi. Kini dia tidak bisa aktif, itu yang menjadi kendala,” terangnya.


Genjek merupakan perpaduan antara seni gerak tubuh, seni suara, dan seni gambelan. “Saat kami pentas, kami perlu dituntun  untuk mencari posisi. Jujur saja, saat naik turun panggung perlu bantuan orang non difabelnetra. Belum bisa kami mandiri secara murni,” jelas pria yang berasal dari Klungkung Sampalan tersebut.


Mengenai masalah kerapian dan keindahan, lanjutnya, sekaa  dibantu oleh orang nondifabel, termasuk  untuk mengatur, termasuk soal pakaian.


Komang Soma  berharap, Genjek difabelnetra satu-satunya di Bali, bahkan di dunia ini,  sering dipakai dalam di setiap acara. Baik acara pemerintah maupun acara di masyakarat secara umum. 


"Genjek ini murni sebagai hiburan, tidak ada keterkaitannya dengan upacara agama,” jelas pria yang sudah tinggal di Denpasar sejak 1994.


Untuk sekali pentas, Genjek ini membutuhkan waktu hingga satu jam. Sementara rentang waktu latihan dibutuhkansekitar dua jam. “Teman-teman  sudah tua-tua, jadi cepat lelah, tetapi kami tetap semangat,” terangnya. Soma menjelaskan bahwa Genjek ini merupakan jawaban untuk Pertuni mengekspresikan diri berkesenian. 
“Genjek ini iramanya kreatif dan semangat, jadi menghibur. Mengundang gelak tawa. Apalagi difabelnetra ini narinya tidak kompak. 


Adegan itu yang terlihat lucu jika dilihat orang-orang nondifabelnetra. Suasana seperti itu tidak membuat kami tersinggung. Sukanya saya bersyukur diterima secara umum oleh warga masyarakat. Kalau dukanya, belum banyak yang order. Jika saat Pesta Kesenian Bali (PKB), kami mengusulkan proposal. Kalau untuk acara kantor, masih sepi. Mungkin karena mengkondisikan orang difabelnetra agak ribet,” terangnya.
PKB kali ini, Genjek ini akan pentas Selasa (9/7) mendatang. “ Pentas dalam bentuk kolaborasi dengan seni tabuh gong dan pelawak I Sengap dan kawan-kawan,” terangnya.


Ia memotivasi anggota lainnya agar tetap mencintai seni magenjekan ini. “Dalam bentuk motivasi lain, saya berusaha mencarikan job. Kami menyesuaikan lagu sesuai tema seni Genjek. Sejauh ini kami memiliki lagu pembukaan, dialog muda-mudi dan percintaan,” tutupnya, sembari  menyanyikan tembang pembukaan Genjek. (akd)


(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia