Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Sang Hyang Janger Maborbor, Tari Penolak Bala dari Interaksi Niskala

13 Juni 2019, 18: 11: 33 WIB | editor : Nyoman Suarna

Sang Hyang Janger Maborbor,  Tari Penolak Bala dari Interaksi Niskala

KESURUPAN : Jelang berakhirnya pementasan, beberapa penari Janger Maborbor tiba-tiba kesurupan. Bahkan, penonton tak jarang ada saja yang ikut kesurupan. Tanpa sadar, para penari menendang api, memakan bara, hingga mengusap-ngusap api ke tubuhnya. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Masyarakat Bali mengenal Janger sebagai tari pergaulan yang difungsikan sebagai tari balih-balihan atau hiburan. Namun, di Desa Pakraman Metra, Desa Yangapi, Kecamatan Tembuku, Bangli, pementasan Janger agak berbeda karena melibatkan kekuatan niskala atau alam lain.

Janger, salah satu tari klasik yang diperkirakan muncul pada abad ke-20. Namun, beberapa sumber juga menyebut, janger lahir sekitar tahun 1920-an. Tarian ini memiliki karakter yang berbeda di tiap daerah di Bali. Di Badung, ada yang dinamai tari janger gong karena diiringi tetabuhan gong kebyar. Di Tabanan juga ada Janger yang ditambahi lakon seorang 'Belanda' yang dinamai Dag. Fungsinya memberi improvisasi sebagai komando  dalam kelompok tari dengan ditambahi aksen prajurit Belanda. Adapula Janger yang ditarikan oleh kaum tuna wicara di Buleleng.

Dari beragam jenis yang ada, tari janger yang lahir di Desa Pakraman Metra, Desa Yangapi, Tembuku, Bangli, salah satu yang terunik. Dilihat dari beberapa sisi, tari janger di Desa Metra memiliki nilai historis yang dalam, terutama menyangkut kehidupan masyarakatnya pada masa lampau. Selain itu, tarian tersebut memiliki nilai magis. Sebab, penciptaan gerak tari dan improvisasinya tidak dilakukan sembarang. Instruktur memvisualisasikan gerakan yang ada di alam gaib ke dalam gerakan secara sekala (alam nyata) melalui penerawangan hingga kesurupan.

Tari janger khas Desa Metra dinamai Tari Sang Hyang Janger Maborbor. Ditelisik dari namanya, janger diadaptasi dari tari janger yang berkembang di Bali. Kemudiaan kata Maborbor identik dengan proses pembakaran. Ini karena penarinya akan melakukan atraksi di bara api. Konon, sarana api dari serabut kelapa ini bermakna menyucikan kekuatan negatif menjadi positif. Api, dalam berbagai sastra, berfungsi sebagai pelebur kekuatan jahat.

Tari Janger Maborbor tergolong tarian sakral. Pementasannya dilakukan untuk melengkapi prosesi upacara keagamaan di sejumlah Pura Desa Pakraman Metra. "Jadi, tarian ini termasuk tari suci," tegas Kelihan Banjar Bukti, Desa Pakraman Metra Made Widana.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Widana menjelaskan, Tari Sang Hyang Janger Maborbor lahir di Banjar Bukti, Desa Pakraman Metra. Tarian ini erat kaitannya dengan fenomena wabah yang terjadi di desa tersebut pada masa lalu. Kata Widana, memang belum ada sumber tertulis yang memuat tentang sejarah lahirnya Janger Maborbor. Namun, para akademisi di bidang kebudayaan dan seni, sudah beberapa kali melakukan penelitian, sehingga pihaknya sangat terbantu dari segi pendokumentasian jejak sejarah di Banjar Bukti.


Terkait itu, Widana hanya menegaskan, tarian tersebut diperkirakan lahir pada zaman pemerintahan kolonial Belanda. Perkembangannya berjalan dari peralihan pemerintahan Belanda ke Jepang. "Cerita ini sudah diwariskan secara turun-temurun oleh tetua desa. Sampai kini tetap eksis. Tidak ada perubahan," kata Widana.


Dijelaskannya, tarian ini lahir ketika gering gerubug, atau wabah melanda desa dengan hebatnya. Banyak warga jatuh sakit hingga tewas akibat muntah berak. Selain wabah melanda masyarakat, gerubug juga melanda lahan pertanian warga. Warga setempat menyebutnya sasab berana. Hama pengganggu tanaman muncul dengan jumlah banyak. Warga tak mampu membasminya. Situasi desa kala itu carut-marut tak pernah henti. Hingga akhirnya, tokoh adat desa setempat mengambil tindakan, memohon petunjuk kepada Ida Sang Hyang Widhi di Pura Dukuh Banjar Bukti.

Widana melanjutkan, ketika memohon petunjuk, salah seorang warga kesurupan atau trance. Orang tersebut dirasuki Ida Bhatara Dukuh yang berstana di pura tersebut. "Beliau meminta kami untuk membuat tapakan berupa barong macan. Untuk menangkal wabah atau bala, akhirnya dibuatkan tapakan barong macan," beber mantan Sekretaris Desa Yangapi ini.

Setelah itu, warga akhirnya menggelar ritual ngalawang, mengarak barong tapakan macan menyusuri desa. Masyarakat yang sakit diperciki tirta. Sama seperti ngalawang pada umumnya, tujuan mengarak barong keliling desa sebagai cara membersihkan lingkungan dari hal-hal yang bersifat negatif.

 Dijelaskan juga, bahan tapel atau topeng barong ditemukan di hutan sekitar Pura Dukuh. Atas petunjuk dari salah seorang penerima wahyu yang melihat ada cahaya berkilau di tengah hutan. Ketika dihampiri terdapat sebilah kayu pule dengan permata berukuran sebesar topeng barong. "Maka itulah yang dipakai tapel atau kami menyebut parerai. Wilayah hutan juga disebut Manik Angkeran, karena di hutan yang angker ditemukan manik atau permatanya," kata dia.


Setelah warga ngalawang, wabah berangsur hilang. Warga mulai hidup normal seperti sediakala. Masyarakat kembali melakukan ritual ucapan terima kasih di Pura Dukuh. Namun, salah seorang warga kembali mendapat wahyu. Bhatara Dukuh meminta warga membayar kaul dengan mementaskan Tari Janger. Namun,   Janger yang dipentaskan mesti mengikuti pakem yang ada di dimensi lain.

 "Maksudnya, ternyata ada juga pakem Janger secara niskala. Boleh dibilang di alam gaibnya juga ada Janger. Tapi, kami harus ikuti pakem itu. Instrukturnya, pelatihnya, beliau yang tunjuk. Saat karauhan ditarikan, kami jadi tahu dan diterjemahkan. Tidak sembarang orang menerima pawisik (wahyu) ini," ungkap Widana, ditimpali tetua adat dan sejumlah warga.

Setelah menerima wahyu, tari ini dikembangkan. Bahasa dan nyanyiannya disesuaikan. Seperti Janger yang lain, dalam kelompok terdapat penari wanita (janger) dan penari pria (kecak). Masing-masing berjumlah 12 orang, atau dalam satu kelompok terdapat 24 penari. Penarinya rata-rata berusia muda, 16-30 tahun. "Tidak ada batasan usia. Usia berapa saja boleh. Tapi disesuaikan dengan kemampuan tenaga, sampai umur 50 tahun bisa," kata Widana.


Sebelum Tari Sang Hyang Janger Maborbor dipentaskan, sekitar area harus disucikan terlebih dulu dengan ditarikannya barong macan. Para penari membentuk formasi, pria dan wanita saling berhadapan. Yang membedakan Janger khas Banjar Bukti dengan Janger di kabupaten lain, yakni beberapa penari akan kerasukan atau mengalami trance jelang akhir pementasan. Konon, tubuh penari dirasuki berbagai sosok, mulai memedi, wong-wongan, hingga makhluk serupa binatang di alam gaib. Penari diiringi tabuh baleganjur yang menghentak.


Suasana makin riuh ketika salah seorang penonton ikut kesurupan. Hal inilah yang menjadi keunikan Tari Janger Maborbor. Tanpa sadar, para penari bergerak brutal. Ada yang menendang api, memakan bara, hingga mengusap-ngusap api itu ke tubuhnya sendiri. Penonton juga dibikin kaget ketika bara api tiba-tiba dilempar ke arah penonton.

 "Intinya kita harus mempercayai bahwa ada kekuatan lain larut dalam prosesi itu. Dulu ada penonton yang tidak percaya, apakah ini tipu muslihat atau asli. Seolah ingin merasakan api ini. Ternyata gara-gara sembarangan berkata, akhirnya api itu mengarah kepadanya hingga kepanasan," kenang Widana menceritakan sekaa (kelompok) Janger Banjar Bukti saat pentas di Kota Bangli.


Dikatakan Widana, penari atau warga akan berhenti kesurupan apabila api mulai padam. Pementasan berlangsung kurang lebih satu jam. Untuk mengundang makhluk tak kasat mata, tokoh adat atau pemangku menghaturkan sesaji atau laba. Berisikan nasi, lauk pauk, lawar, hingga darah ayam yang disembelih. "Ini ibaratnya seperti undangan. Sebelum pentas, sesaji ini dihaturkan dulu," sambung Jro Maliastra, salah satu tokoh pengurus Sekaa Janger Banjar Bukti.


Pakaian yang dikenakan masih sama. Penari wanita mengenakan gelungan janger, badong, gelang kana, sabuk, kain, oncer, dan ampok-ampok. Sedangkan kecak atau penari laki-laki mengenakan kain, kekancutan, sabuk, ampok-ampok, badong, gelang kana, dan udeng.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia