Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Produktivitas Padi Jembrana Peringkat Pertama Di Bali

13 Juni 2019, 18: 18: 13 WIB | editor : Chairul Amri Simabur

Produktivitas Padi Jembrana Peringkat Pertama Di Bali

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana, I Wayan Sutama. (GDE RIANTORY/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, JEMBRANA – Berbagai upaya dan inovasi yang dilakukan dinas terkait untuk meningkatkan produksi pertanian khususnya tanaman padi di Kabupaten Jembrana, mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian petani Jembrana tiap musimnya.

Dari hasil evaluasi yang dilakukan secara rutin oleh Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Propinsi Bali, produksi pertanian Jembrana menempati peringkat atas mengungguli produksi dari subak-subak lainnya di Bali.

Ditemui di ruang kerjanya, Kamis (13/6) kemarin, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana, I Wayan Sutama mengatakan produktivitas padi di Jembrana mampu menghasilkan antara 7,5-8,5 ton per hektar.

“Hasil ini merupakan yang tertinggi di Bali dari total 6.725 hektar luas areal subak yang ada di kabupaten Jembrana,” ujarnya.

Ke depan untuk mempertahankan capaian ini, Sutama menjelaskan pihaknya akan melakukan berbagai upaya serta pendampingan di lapangan. Sehingga jumlah pemanfaatan luas tanam bisa memenuhi target realisasi.

Langkah-langkah tersebut seperti melalui pemenuhan pupuk, penyediaan varietas benih unggul, serta percepatan pengolahan tanam dengan alsintan (alat mesin pertanian ).

“Kami akan bantu petani memenuhi hal-hal tersebut guna mendorong produksi pertanian. Anggarannya dialokasikan dari bantuan APBD , bantuan Propinsi dan ada juga dari pusat,” paparnya.

Terkait sarana produksi, khususnya pengadaan pupuk, Sutama menambahkan proses distribusinya menggunakan sistem pipa tertutup. Jadi pupuk hanya bisa didistribusikan sesuai Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Petani (RDKK) yang diajukan oleh subak. Bukan perorangan.

“Ini yang sudah biasa dilakukan para petani kami di sini (Jembrana). Makanya, kalau ada lahan yang sampai saat ini belum tercover di RDKK saya harapkan segera disesuaikan oleh kelian subak bersama PPL pertanian di lapangan. Ini sangat penting mengingat, hasil produksi yang maksimal bergantung dari sarana yang ada terutama masalah pupuk itu sendiri,” ungkap Sutama.

Untuk setiap hektar sawah petani dikatakannya membutuhkan pupuk urea sebanyak 200 kilogram, NPK 200 sampai 300 kilogram. Dan, jika pola ini diterapkan tepat sasaran dan tepat waktu, pihaknya yakin produksi pertanian di Jembrana akan selalu meningkat.

Ke depannya, lanjut Sutama, para petani Jembrana juga akan difasilitasi Kartu Tani yang memungkinkan segala macam bantuan subsidi pemerintah diterima secara langsung. “Dengan kartu tani itu , distribusi pupuk subsidi akan lebih tepat sasaran dan efisien,” pungkasnya.

(bx/tor/hai/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia