Kamis, 22 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Cegah Erosi, Lahan Kritis di Wanagiri dan Tamblingan Ditanami Kopi

13 Juni 2019, 23: 23: 08 WIB | editor : Nyoman Suarna

Cegah Erosi, Lahan Kritis di Wanagiri dan Tamblingan Ditanami Kopi

I Made Sumiarta, Plt Kadis Pertanian Buleleng (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Lahan kritis dan rawan longsor di kawasan hulu Buleleng, tepatnya Desa Wanagiri dan Tamblingan, Kecamatan Sukasada segera bakal ditanami kopi. Tercatat sebanyak 100 hektar lahan di wilayah tersebut bakal ditamani kopi jenis Arabika. Bibitnya rencananya disuplay Dinas Pertanian Buleleng.

Ditemui di ruang kerjanya, Kamis (13/6) siang, Plt Dinas Pertanian Buleleng I Made Sumiarta mengklaim, selain berdampak positif terhadap lingkungan, bantuan bibit kopi Arabika ini digadang-gadang dapat menggulirkan perekonomian masyarakat setempat. Bantuan bibit kopi jenis Arabika itu rencananya diberikan antara November atau Desember 2019 mendatang.

Lanjut Sumiarta, dipilihnya kopi jenis Arabika, lantaran memiliki harga pasaran cukup tinggi dibandingkan jenis Robusta. Perbandingannya, sebut Sumiarta, setiap satu kilogram kopi bubuk Arabika harganya mencapai Rp 60 ribu, sedangkan jenis Robusta berkisar Rp 50 ribu per kilogramnya.

Penanaman Arabika di wilayah tersebut juga dinilai tepat, karena wilayah Wanagiri dan Tamblingan memenuhi persyaratan penanaman kopi Arabika yang memerlukan lahan dengan ketinggian 800 meter di atas permukaan air laut. Selain itu, dipilihnya varietas kopi Arabika sebagai pengembangan tanaman kopi di Buleleng, mengingat jenis ini belum banyak dikembangkan masyarakat.

Sejauh ini tanaman kopi Arabika di Buleleng baru mencapai 12 persen, sementara Robusta sudah 88 persen. Rata-rata kopi jenis Arabika ditanam di wilayah Kecamatan Banjar, Sawan, Sukasada dan Kubutmbahan, dengan total luas lahan 2.834 hektar. Sementara Robusta, seluas 10.614,73 hektar, tersebar di sembilan kecamatan di Buleleng.

Lalu bagaiaman pemasarannya? Dijelaskan Sumiarta, pangsa pasar Arabika baru di sekitar Bali dan wilayah Jawa. Para petani sudah mulai memasarkan kopi-kopinya dalam bentuk bubuk. “Coffee shop ini juga sudah mulai berkembang, sehingga kami juga sudah memberikan bantuan dan sosialisasi, mendorong para kelompok-kelompok tani ini bisa mengolah kopinya, agar bisa disuguhkan di coffee shop itu. Guna meningkatkan nilai jualnya,” jelasnya.

Terpenting, sambung Sumiarta, bantuan bibit kopi Arakabika ini diberikan di bagian Wanagiri dan Tamblingan. Mengingat wilayah tersebut rawan terjadi bencana longsor dan banjir bandang.

Menurutnya, akar kopi diyakini dapat memperkuat tanah, sehingga penanaman kopi di wilayah tersebut sekaligus meminimalisir terjadinya bencana. “Kalau melihat hasil panennya, memang musiman. Tapi permasalahn itu bisa diminimalisir dengan mengubah mindset petani. Kalau terus-terusan menanam bunga, nanti kan akibatnya terjadinya erosi. Ya salah satunya dengan menanam tanaman penguat seperti kopi ini,” tutupnya.

(bx/dik/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia