Selasa, 19 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

Menteri dari Bali atau Menteri yang Memperhatikan Bali

Oleh: Made Adnyana Ole

15 Juni 2019, 08: 12: 50 WIB | editor : I Putu Suyatra

Menteri dari Bali atau Menteri yang Memperhatikan Bali

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

SUNGGUH saya senang jika orang Bali menjadi menteri. Saking senangnya, sampai-sampai saya tak peduli apakah jabatannya berpengaruh terhadap kemajuan Bali atau tidak. Mungkin karena hingga kini saya masih menganggap orang Bali, oleh alasan-alasan tertentu, belum mungkin jadi presiden. Sehingga, jabatan menteri bisa jadi penghiburan yang amat mewah.

Izinkan saya bernostalgia. Sekira tahun 1998, di masa pemerintahan Presiden Habibie, saya pernah bertugas di Jakarta menjadi wartawan untuk sebuah koran lokal yang terbit di Bali. Suatu hari, saya ditugaskan ke Departemen Koperasi dan UKM  untuk meliput mutasi pejabat di lingkungan departemen itu. Dan di situ saya menemukan nama orang Bali mendapat promosi jabatan, kalau tidak salah, menjadi dirjen. Saya melonjak sangat senang.

Tapi, dasar wartawan bodoh, saya tak berusaha meliput lebih detil dan khusus, siapa sebenarnya orang Bali itu. Saya hanya senang. Cukup. Begitu saja. Saya kemudian pulang dengan membawa berita yang umum-umum saja, berita pelantikan pejabat yang amat seremonial. Begitu tiba di kantor, saya mengetiknya untuk kemudian disiarkan di Bali.

Tanpa sengaja, berita yang baru saja diketik itu dibaca oleh redaktur khusus ibukota. Redaktur itu biasanya hanya masuk kantor pagi-pagi, tapi entah kenapa hari itu berada di kantor hingga malam. Dan celakanya ia membaca berita saya. Saya dibentaknya. “Ini dirjennya orang Bali, dan kau tak memberitakannya secara khusus untuk dibaca orang Bali. Dasar wartawan tak peka dan tak punya naluri. Orang Bali itu senang jika ada putra daerahnya menjadi pejabat di pusat!”

Dan bla-bla bla…, saya kemudian ditugaskan mencari dan mewawancarai sang dirjen malam itu juga. Saya gugup. Di manakah rumah orang Bali yang menjadi dirjen di Jakarta yang begitu luas dengan jalan yang menjelimet itu? Waktu itu HP belum berisi google map. Untungnya ada teman wartawan menunjukkan jalan dan memberitahu nomor bus yang harus ditumpangi, sekaligus menakut-nakuti saya agar tetap waspada.

Singkat cerita, rumah dirjen saya temukan. Saya memperkenalkan diri sebagai orang Bali dengan harapan ia akan menerima saya seperti keponakan yang baru saja datang dari kampung. Dan ia memang seperti seorang paman. Dan astaga, dia ternyata berasal dari wilayah kampung saya di Tabanan. Ia mengenal kakek saya dan sejumlah orang-orang tua di kampung saya. Bisa dibayangkan betapa senangnya saya. Seorang kampung bertemu seorang pejabat penting di Jakarta yang kebetulan asal-usulnya begitu dekat dengan saya.

Tapi, tunggu dulu. Sang dirjen (yang namanya benar-benar saya lupa) ternyata tak begitu banyak tahu tentang Bali. Waktu remaja sekitar tahun 1960-an ia diboyong keluarganya transmigrasi ke Lampung. Di Lampung-lah ia menempuh pendidikan, meniti karir, hingga masuk ke lingkungan penting di Departemen Koperasi dan UKM RI. Dari cakap-cakap kangin-kauh saya tangkap, ia lebih mengenal Lampung ketimbang Bali. Dan tugas saya, adalah memberitakan dia sebagai orang Bali. Saya tak ingin tahu kemudian, apakah sebagai dirjen ia punya perhatian terhadap Bali, atau hanya memperhatikan Lampung, atau ia memperhatikan secara adil seluruh daerah di Indonesia.

Saya sempat berdoa sebagai orang Bali, setelah menjadi dirjen, ia akan naik jabatan jadi menteri. Tentu agar rasa senang saya bertambah, dan saya akan memberitakannya dengan senang hati, agar orang-orang di Bali juga senang mendengar namanya dilantik jadi menteri. Namun, setelah Habibie lengser, nama orang Bali itu tak pernah saya dengar lagi. Mudah-mudahan ia tetap sehat.

Seperti saya, mungkin begitulah perasaan orang Bali lainnya ketika menuntut dan berharap-harap, setidaknya melaui media sosial, ada orang Bali, dengan nama Bali, menjabat sebagai menteri dalam kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo. Bukan hanya satu menteri, bahkan dua menteri. Apalagi Jokowi menang telak di Bali.  

Selain rasa senang secara emosional, tentu saja orang Bali punya harapan besar, atau anggapan besar, bahwa jika menterinya orang Bali maka setidaknya ia akan memperhatikan Bali demi kemajuan Bali. Padahal, tak ada yang benar-benar pernah memeriksa dengan rinci, apakah orang Bali yang pernah menjabat menteri benar-benar sudah memperhatikan Bali dan memberi pengaruh terhadap kemajuan Bali.

Mungkin keterpengaruhan tidaklah penting. Yang penting menterinya orang Bali. Dan itu cukup membuat kita terhibur. Dulu, pernah tercatat Ida Anak Agung Gde Agung menjadi Menteri Luar Negeri. Saya yakin banyak orang senang mendengarnya, tak peduli apakah jabatannya sebagai menteri luar negeri punya pengaruh terhadap kemajuan di Bali. Pernah juga ada nama Ida Bagus Sujana sebagai Menteri Pertambangan. Nah, kan susah sekali menyandingkan kata pertambangan dengan Bali?

Lalu, yang agak baru dan cukup fenomenal, ada nama Jero Wacik. Ia menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, nama lain dari urusan pertambangan, sebuah  wilayah kerja yang cukup asing untuk Bali. Banyak orang Bali senang. Dalam sejumlah kegiatan di Bali, meski tak berkaitan dengan sumber daya mineral, nama Jero Wacik kerap disebut-sebut dengan penuh kebanggan. Saya pikir itu ungkapan rasa gembira yang lumrah. Tak apa-apa. Namun, setelah tak lagi menteri, apalagi tersangkut kasus korupsi, nama beliau hilang seakan diterbangkan angin ngelinus.

Satu kali ada menteri yang begitu dekat dengan denyut kehidupan orang Bali. Dia adalah I Gede Ardika, sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Saya tahu ia ahli di bidang pariwisata, namun orang sesungguhnya tak banyak yang peduli apakah selama ia menjabat menteri pariwisata, pembangunan pariwisata di Bali otomatis menjadi maju, atau begitu-begitu saja. Tak ada juga yang meneliti secara serius, apakah setelah jabatan menteri pariwisata diampu oleh bukan orang Bali maka pariwisata di Bali menurun atau hancur, atau malah lebih maju?

Oh, ya, saya pernah bertemu seorang petani di sebuah desa kecil di Tabanan. Untuk ukuran petani tradisional, ia cukup maju. Ia bercerita dengan amat senang karena sudah mendapatkan bantuan traktor dari Menteri Pertanian. “Untung ada orang Bali jadi menteri,” kata si petani.

Saya bingung. Ketika iseng saya tanya siapa nama menteri itu, ia menyebut nama seorang anggota DPR RI asal Bali. Saya tersenyum, tak berani sampai ngakak. “Itu bukan menteri, Pak. Itu anggota Dewan!” sanggah saya. “Ah, semua yang memperhatikan petani saya anggap menteri pertanian!” jawabnya dengan wajah tanpa dosa. Saya mengangguk-angguk, tak berniat menyanggahnya lagi.  (*)

(bx/aim/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia