Kamis, 18 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Di Kubu Bangli, Cerai Belum Masamsam Dilarang Masuk Pura

15 Juni 2019, 10: 53: 14 WIB | editor : I Putu Suyatra

Di Kubu Bangli, Cerai Belum Masamsam Dilarang Masuk Pura

BALE : Jaba Pura Puseh Bale Agung Desa Pakraman Kubu, Bangli (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Desa Pakraman Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, punya ritual khusus untuk menyucikan kembali orang yang sudah bercerai. Upacara pembersihan yang dinamai Pasamsaman ini, dilakukan untuk menyucikan kembali jiwa maupun raga masyarakat Kubu.


Pasamsaman atau Masamsam, bagi warga Desa Kubu, wajib diikuti oleh warga yang sudah melepas ikatan perkawinan. Krama (warga) percaya orang yang sudah bercerai belum sepenuhnya bersih secara bathin. Sebab, pada saat masih terikat hubungan, mungkin orang tersebut pernah terlibat cekcok, gesekan fisik, dan tentunya pernah melakukan hubungan suami istri. Sehingga selepas cerai, orang tersebut dianggap kotor atau leteh (secara niskala).


Akibatnya, orang tersebut tidak diperkenankan mengikuti semua rangkaian upacara yang berlangsung di sejumlah pura di Desa Pakraman Kubu. Mereka juga tidak diperkenankan sembahyang, bahkan memasuki pura sekalipun. Masyarakat meyakini, apabila orang yang sudah cerai tidak melaksanakan Pasamsaman, maka hidupnya selalu dihantui masalah di kemudian hari. Itu sebabnya, rentetan pembersihan dilakukan di depan atau area jaba Pura Puseh Bale Agung Desa Pakraman Kubu. "Dibersihkan di luar pura, karena mereka tidak boleh masuk pura. Kalau diadakan di dalam atau di jeroan, tentu pura akan leteh (kotor)," kata Bendesa Adat Kubu, I Nyoman Suandi, pekan lalu.

Kepada Bali Express (Jawa Pos), Suandi menjelaskan, Pasamsaman atau upacara Masamsam merupakan awig-awig atau peraturan adat sejak ratusan tahun. Peraturan ini bersifat mengikat, sehingga Masamsam wajib dilakukan oleh orang yang mengakhiri hubungan perkawinan. Upacara itu bertujuan melebur sifat-sifat negatif dalam tubuh maupun pikiran manusia. Meski begitu, belum diketahui secara pasti, kapan pertama kali Pasamsaman dilaksanakan.


Masamsam wajib diikuti kedua belah pihak yang merupakan warga asli Desa Kubu. Tradisi ini juga berlaku bagi orang luar yang menikah dengan orang Desa Kubu. Baik itu pria maupun wanitanya. "Kalau misalnya si wanita dari Kubu, lalu si pria dari Buleleng, si pria harus ikut. Bagaimana pun dia sebelumnya ada ikatan dengan orang asli Kubu," terang Suandi.


Prosesi tersebut dihadiri keluarga kedua belah pihak. Tokoh adat Desa Pakraman Kubu juga dihadirkan. Mereka diundang dengan menerapkan tradisi pasuguhan atau menyuguhkan aneka macam makanan. Ada sekitar 40 tokoh adat yang biasanya hadir. Mereka terdiri atas prajuru desa, pemangku, dan sekaa atau kelompok adat di banjar atau dusun. 


Para tokoh ini bertugas memberikan wejangan maupun petuah kepada kedua belak pihak. Hal ini sama dengan upaya mediasi yang dilakukan di pengadilan sebelum gugatan cerai dilanjutkan dan diputuskan. Ini bisa berlangsung di Wantilan Desa Pakraman Kubu (selatan pura) sebelum atau sesudah Pasamsaman. "Biasanya mereka yang Masamsam sudah sah bercerai secara hukum. Jadi, kalau mediasi lagi itu tidak mungkin. Lain kalau mereka berencana mengurus perceraian belakangan di pengadilan, tokoh adat masih bisa memediasi. Mereka ditanya seputar komitmen perkawinan mereka sampai alasan mereka kukuh bercerai. Kalau misalnya tetap cerai, tokoh adat tidak bisa memaksa," jelasnya.


Prosesi diawali dengan matur piuning atau memohon kelancaran kepada Ida Sang Hyang Widhi maupun para leluhur. Itu dilakukan agar prosesi saat menikah dan bercerai seimbang. Kemudian kedua belah pihak akan malukat (dibersihkan), dan penyucian menggunakan sarana banten. Upacara akan dipandu pemangku Pura Puseh Bale Agung. Para pasangan ini deperciki air suci. Terakhir, masing-masing akan diberikan uang kepeng. Yang menarik, uang kepeng itu akan mereka patahkan menjadi dua. Ini sebagai simbol bahwa mereka sah bercerai secara niskala.


Selanjutnya, mereka kembali berkumpul di Wantilan Desa Pakraman Kubu, untuk menandatangani surat kesepakatan perceraian adat tersebut. Di sana, kedua belah pihak akan diberikan petuah untuk bekal di kehidupan mendatang paskapisah. "Kami berharap perceraian tidak dilakukan warga kami. Yang namanya pernikahan mestinya sekali," harapnya.


Selama ini sangat jarang ada warga yang melaksanakan Pasamsaman dalam rentang waktu berdekatan. Namun, beberapa tahun lalu, Pasamsaman pernah diikuti enam pasangan suami istri yang akan bercerai, maupun sudah disahkan oleh pengadilan. Saking dianggap banyak, warga dari desa lain sempat mengira Pasamsaman sebagai ritual cerai massal.


"Itu keliru. Di desa ini tidak ada yang namanya cerai massal. Tidak seperti di Pengotan (Bangli) ada nikah massal. Sempat banyak warga yang ikut Masamsam, hanya kebetulan. Ada kaitannya dengan hari baik. Siapa sih yang mau cerai ramai-ramai," tegas pria bertubuh tambun itu.


Berkaitan dengan pelaksanaan, Pasamsaman tidak bisa ditentukan sembarangan. Meski di Bali dikenal adanya hari suci atau rerahinan. Hari-hari suci seperti purnama, tilem, dan sebagainya, belum tentu baik untuk melaksanakan Pasamsaman. 
Hari baik hanya bisa ditentukan oleh pemangku Pura Puseh atau Jro Mangku Puseh. Sebab, ada kaitannya dengan pelaksanaan ritual di pura tersebut. Belum lagi ada piodalan di Pura Puseh maupun pura lain. "Makanya kalau kebetulan ada yang cerai sampai enam pasangan, dan mereka dapat di hari yang sama, otomatis ritual dilakukan bersamaan. Tapi sekali lagi bukan massal," ketus Suandi menegaskan.


Sepengetahuan Suandi, tidak ada warga yang tutup mulut perihal perceraiannya. Ini menyangkut ketaatan warga terhadap awig-awig. Yang biasanya terjadi justru orang luar yang menikah dengan orang Desa Kubu yang enggan ikut Pasamsaman. "Tanggung jawabnya hanya kepada yang Mahakuasa," sambungnya.


Bagi Suandi, Pasamsaman menjadi pendidikan bagi masyarakat, bahwa menjaga perkawinan sangatlah penting. "Coba bayangkan. Setiap cerai, kita harus undang tokoh desa, berikan makanan-minuman, beban kewajiban. Sebelum cerai, semuanya harus dipikir matang," pungkas Suandi.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia