Selasa, 19 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Pukul Kulkul, Jokowi Buka PKB Ke-41

15 Juni 2019, 18: 40: 57 WIB | editor : Chairul Amri Simabur

Pukul Kulkul, Jokowi Buka PKB Ke-41

KULKUL : Presiden RI, Joko Widodo, memukul kulkul atau kentongan sebagai tanda dibukanya pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-41, Sabtu kemarin (15/6). (Bayu Sastra Negari/Bali Express)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-41 resmi dibuka pada Sabtu kemarin (15/6). Peresmiannya dilakukan langsung oleh Presiden RI, Joko Widodo, dengan ditandai pemukulan kulkul atau kentongan.

Peresmian itu langsung diikuti dengan pelepasan peserta pawai PKB. Sebagaimana tradisi pelaksanaan ajang seni dan budaya tahunan di Provinsi Bali tersebut.

Pawai yang berlangsung di sisi selatan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Niti Mandala, Renon, itu diikuti lebih dari empat ribu seniman. Baik dari Sembilan kabupaten/kota yang ada di Bali. Serta delegasi atau utusan dari provinsi serta negara lainnya.

Jokowi yang terlihat mengenakan pakaian adat Bali dengan atasan berwarna krem tidak banyak memberikan pernyataan dalam momen itu. Meski begitu, dia sempat menyapa penonton di arena pawai dengan menggunakan Bahasa Bali.

Punapi gatrane (apa kabarnya)?” ujar Jokowi usai menyapa para undangan yang duduk di tempat VVIP.

Sapaan Jokowi itu langsung dijawab dengan gemuruh oleh para penonton. “Beciiiiik (baik),” teriak para penonton.

Becik nggih (baik ya)?” ujar Jokowi menimpali. “Mogi para semeton rahajeng sareng sami,” imbuhnya.

Selanjutnya, Jokowi juga sempat mengatakan matur suksma sebagai rasa terima kasihnya kepada masyarakat Bali. Kendati sempat kesulitan mengucapkan kata suksma.

“Saya mau ngomong (matur suksma) dari dulu sering keliru. Mohon maaf. Matur suksma. Maklum, bahasa daerah kita ini lebih dari seribu seratus. Kalau saya keliru, salah, mohon dimaafkan. Terutama yang matur suksma ini,” tukasnya.

Tak berlama-lama, Jokowi langsung membuka PKB serta melepas rombongan pawai dengan memukul kulkul sebanyak 15 kali. Lalu disusul dengan gamelan Ketug Gumi yang disuguhkan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Sebelumnya, Gubernur Bali, Wayan Koster, menjelaskan bahwa PKB merupakan media pelestarian dan pengembangan kesenian di Bali. Dengan keunikan dan kekayaannya yang merupakan warisan adiluhung para leluhur dan tetua di Bali.

Selanjutnya dia menjelaskan, penyelenggaraan PKB kali ini dilaksanakan sesuai visi Pemprov Bali, Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru.

“Yang mengandung makna menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya untuk mewujudkan kehidupan krama Bali yang sejahtera dan bahagia secara sekala dan niskala. Sesuai prinsip Trisaksi Bung Karno yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan,” jelas Koster.

Dalam pelaksanaannya tahun ini, sambung Koster, PKB mengambil tema Bayu Prama. Tema ini diambil sebagai upaya memuliakan energi angina yang dikemas secara khusus. Sebagai kesadaran untuk memuliakan daya energi dan unsur kekuatan alam semesta.

“Yakni udara, angin, nafas, atau sebutan lain yang berhubungan dengan energi angin,” imbuhnya.

Implementasinya, lanjutnya, dilaksanakan secara nyata dan konsisten dalam pagelaran, perlombaan, workshop, atau sarasehan.

Dalam sambutannya itu, Koster juga sempat menyinggung pentingnya kesenian sebagai alat pemersatu bangsa. Terlebih bila berkaca pada dinamika politik saat ini. Koster menyebutkan, PKB merupakan wujud nyata dalam upaya membumikan nilai-nilai Pancasila, 1 Juni 1945, di Bali.

“Tetapi jangan lupa ada seni yang dapat menyatukan kita kembali. Melalui PKB mari kita tebarkan spirit kedamaian dan toleransi dalam Kebhinekaan untuk memperkokoh kesatuan dan persatuan bangsa,” pungkas Koster.

(bx/hai/hai/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia