Selasa, 19 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Dari Hobi ke Bisnis, Custom Mobil Mainan Bisa Mencapai Jutaan Rupiah

16 Juni 2019, 20: 42: 42 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dari Hobi ke Bisnis, Custom Mobil Mainan Bisa Mencapai Jutaan Rupiah

BERAWAL DARI HOBI: Custom mobil mainan membuat harganya jadi melambung. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Untuk menghilangkan jenuh dalam beraktivitas, orang-orang mengalihkan kelelahannya dengan berbagai cara. Mulai dari menonton, jalan-jalan, bahkan juga menjalankan hobinya. Hobi bentuknya bermacam-macam. Setiap orang tentu memiliki pilihannya sendiri. Hobi bisa saja didapatkan tanpa mengeluarkan uang sepeserpun, tapi tak jarang harus meronggoh kocek lebih dalam. Bagaimana dengan orang yang mengalihkan hobinya menjadi ladang bisnis?

Bali Express (Jawab Pos Group) menemui seorang penggemar mobil-mobilan speerti hotwheel dan lain sebagainya. Bukan sembarang mainan, mobil yang kerap disangka mahal dan mewah tersebut ternyata juga mudah dijangkau pembeli. Anak Agung Ngurah Agung Martadinata, seorang penggemar yang sudah mulai mengoleksi mobil-mobilan sejak ia masih SMP, sekitar tahun 1999. “Awalnya hanya koleksi, mengumpulkan saja. Kemudian, saat saya SMA juga senang mengumpulkan seperti itu. Karena saking banyaknya, sampai saya bekerja masih membeli, saya mulai menjual koleksi yang double. Istilahnya, saya juga melihat ini double atau single. Dari sana, akhirnya menjadi bisnis menjual seperti ini,” jelasnya kepada Bali Express.

Ia menambahkan jika apa yang dikerjakannya tersebut semua beranjak dari hobi-hobian saja. “Senang-senangnya orang saja istilahnya. Saya bisa cariin kalau barang yang dinginkan tidak ada saat ini. Saya punya koleksi paling tua, tahun 1977. Sebenarnya ada yang lebih tua, mungkin orang awam tidak paham mereknya. Itu tahun 1943,” jelasnya.

Tidak semua mobil-mobilan ini terjual dengan harga mahal. Umur juga tidak tentu menentukan harga. “Ada yang tua, tapi karena pabrikannya sudah bangkrut tahun 1975, kadang-kadang pemain diecast pun bertanya, apa itu merek Tootsie, akhirnya itu yang membuat nasibnya jadi murah juga. Sekarang yang lagi ngehitz misalnya hotwheel, matchbox, pemain yang tahu, itu saja. Yang tahu Tootsie hanya kolektor tertentu saja yang tahu,” jelasnya.

Kalau Tootsie, tambahnya, diecast di zaman perang dunia ke-II. “Saya punya 10 buah. Kalau ada yang mau beli silakan, kalau tidak, saya koleksi sendiri. Ada satu yang paling saya sukai karena kakek memiliki mobil aslinya. Itu mereknya Chevrolet dari Tootsie yang tahun 1962 kalau tidak salah,” jelas pria yang memiliki koleksi sekitar 200 buah.

Barang-barang tersebut datang dari berbagai tempat. “Untuk lokal, datang dari Jakarta. Teman yang di Jakarta bantu mencari. Kalau yang di luar Indonesia, datang dari Singapura, England, dan lain sebagainya,” terangnya.

Untuk perawatan, ia menjelaskan untuk dikoleksi, dirawat sekitar seminggu tiga sampai empat kali dibersihkan dengan tisu. “Setelah dibersihkan, letakkan lagi di dus atau rak. Perawatannya begitu saja, tidak terlalu susah. Kadang untuk jualan juga kita bersihkan juga,” jelasnya.

“Orang kebanyakan cari model yang mobil Jepang. Langganan saya seringnya mencari mobil-mobil tua. Kisaran harga dari Rp 20 ribu hingga Rp 250 ribu. Kalau untuk anak-anak atau kolektor pemula, rata-rata kisaran Rp 20 ribu,” terangnya.

Ia menjelaskan tentang suka duka dalam menggeluti hobi dan bisnis mobil-mobilan tersebut. “Sukanya kalau barang yang diincar dari dulu dapat sekarang. Itu senang sekali. Kadang ada yang berani nawar yang lebih mahal, saya tidak lepas. Kalau duka, kalau misalnya jualannya sepi. Selain itu, kalau susah cari barang kalau ada yang pesan. Saya susah dapatnya, kadang akhirnya pembeli sudah mendapatkannya duluan dari luar. Padahal saya jualnya lebih murah, tapi karena dia sudah dapatnya duluan di luar, iyaa tidak apa,” jelasnya.

“Harapan untuk penggemar dan pemula, ia menyampaikan agar lebih banyak lagi diecaster yang memahami diecast-nya mereka sendiri atau diecast dari harga yang kita pasang ini. Oh, Rp 50 ribu, wajar karena barangnya datang jauh dari luar. Kalau untuk pemula, tetap mainan sampai tua, hahaha,” jelasnya.

Di Bali sendiri terdapat komunitas pecinta mainan ini yang bernama Dewata Diecast. “Salah satu anggotanya saya. Itu untuk menampung diecast se-Bali. Kami sekarang lagi hot-nya berbicara tentang custom. Kami modif lagi. Untuk part biasanya kanibalan atau memakan mobil yang lain. Untuk ngecat, memang ada yang jual cat khususnya untuk diecast seperti ini. Untuk custom sejauh ini aman saja,” jelasnya.

Untuk custom, harga jauh lebih mahal dari mobil-mobilan biasanya. “Misal awalnya beli Rp 30 ribu, custom-nya bisa Rp 100 ribu lebih. Satu mobil yang hendak dimodif  bisa mengorbankan tiga sampai empat mobil lainnya. Entah kami ambil rodanya dan part yang lain. Dibutuhkan waktu sekitar seminggu atau dua minggu untuk custom, tergantung pesanan kita,”terangnya.

Untuk harga lebih tinggi bisa mencapai jutaan rupiah, sementara paling murah Rp 200 ribu. “Yang membuat mahal karena bahan yang dipakai. Diecast yang paling susah dicari diecast merek Lledo. Saya butuh waktu dua tahun untuk berburunya. Hingga saat ini belum dapat,” jelasnya.

Untuk kompetisinya biasa berlangsung di custom-nya. “Custom kami biasa datangkan juri dari luar Bali. Ini sudah empat kali berlangsung. Terakhir berlangsung akhir tahun lalu di Tuban. Custom-nya kita dinilai dari teman diecast dari luar Bali agar fair. Itu diadakan setahun sekali. Mungkin tahun ini, diadakan pertengahan tahun. Yang ikut banyak sekali, saking banyak yang minat ikut karena potensi untuk custom di sini banyak sekali,” jelasnya. (akd)

(bx/bay/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia