Selasa, 19 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Blega Geber Desa Wisata Serba Bambu

17 Juni 2019, 17: 42: 53 WIB | editor : I Putu Suyatra

Blega Geber Desa Wisata Menjadi Serba Bambu

BAMBU: Perajin bambu di Desa Belega, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar sedang mengerjakan pesanannya, Senin (17/6). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Desa Blega, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar sedang gencar membangkitkan ikon desanya kembali. Yaitu seperti julukan desa setempat pada tahun 1990 disebut Desa Bambu. Untuk pengembangan desa wisata saat ini, desa setempat akan membuat tempat wisata serba bambu. 

Hal itu diungkapkan oleh Perbekel Desa Blega, I Ketut Trisna Jaya saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (17/6).  Ia menjelaskan semenjak tahun 2002 pasca Bom Bali I pengerajin bambu di desa setempat mulai kalang kabut. Sampai saat ini hanya tersisa tidak lebih dari 35 pengerajin yang bertahan melanjutkannya meski secara sengal-sengal. 

“Pasca Bom Bali itu anjlok, sebelumnya dari tahun 1980 sampai tahun 2000 hampir setiap rumah ada yang membuat kerajinan dari bambu. Sekarang kita akan lanjutkan dengan membangkitkan lagi melalui desa wisata yang bernuansa bambu,” jelasnya. 

Pengembangan dan pembangkitkan desa wisata itu juga akan dimulai dari salah satu banjar setempat. Bahkan sudah mulai penataan jalan, dan sosialisasi agar setiap rumah ada penggunaan bahan dari bambu pada sebuah bangunan setiap rumah. Mulai dari satu banjar itu, diharapkan juga banjar yang lainnya bertahap bisa dikembangkan dengan total ada enam banjar. 

“Kita masih godok di masyarakat di banjar yang akan diujicoba jadi Desa Wisata ini. Yaitu yang ada di Banjar Blega Kanginan, karena itu sebagai pilot projek. Terpenting dalam pembangunan Desa Wisata adalah kekompakan masyarakatnya dan saling mendukung trutama,” ungkap dia. 

Pria yang baru menjadi Perbekel selama tujuh bulan itu juga mengaku pada masa jayanya sebanyak 350 pengerajin ada di Desa Blega.  Jumlah itu berasal dari jumlah warganya mencapai 1.500 kepala keluarga. Namun saat ini yang tersisa  pengerajinnya hanya 10 persen, yaitu sekitar 35 orang pengerajin.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengatakan saat ini dalam pengembangan desa wisata dimulai dari pintu masuk yang berbahan bambu. “Konsepnya itu satu banjar kita tata dulu menggunakan ornamen rumahnya menggunakan bambu. Mulai dari meja, kursi, hingga tempat tidur yang menggunakan bambu,” terang dia.

Ia menambahkan untuk lebih memantapkan lagi pihaknya akan memberikan pelatihan-pelatihan kepada perwakilan masyarakat. Mulai dari workshop terkait desa wisata bambu tersbeut. “Tidak saja furniturenya saja, tapi aksesoris di rumah-rumah itu juga harus berbahan bambu. Ini yang kita jual sudah ada, namun memulainya lagi itu harus dari bawah lagi. Karena ikon bambu kita sudah ada di Blega ini,” imbuh Trisna Jaya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia