Minggu, 08 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Features
“Multitalent” Tak Tamat SD asal Taro (1)

Hasil Merenung di Tegalan, Ciptakan Pompa Air Tanpa Listrik

17 Juni 2019, 18: 35: 34 WIB | editor : I Putu Suyatra

Hasil Merenung di Tegalan, Ciptakan Pompa Air Tanpa Listrik

BERGUNA: I Made Warta tengah menunjukkan pompa ciptaannya yang tanpa menggunakan listrik, di rumahnya di Banjar Ked, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kamis (13/6). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

Meski tidak tamat sekolah dasar (SD), I Made Warta punya beragam keahlian. Salah satunya yang cukup fenomenal adalah berhasil menemukan pompa air tanpa listrik. Seperti apa?

 

PUTU AGUS ADEGRANTIKA, Gianyar

I MADE Warta mati-matian mencari cara agar bisa menaikkan air dari sungai tretesan tebing menuju rumahnya, di Banjar Ked, Desa Taro, Tegallalang, Gianyar. Ia mengaku di Banjar Ked memang tidak ada aliran Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Mengingat banjar tersebut lokasinya lumayan jauh dari pusat desa dan masuk ke tengah dibatasi dengan jurang.

 “Kalau PDAM tidak masuk sampai sini itu saya tidah tahu urusannya bagaimana. Karena saya berpikir jika mencari air menggunakan ember atau sejenisnya, setiap hari juga capek dan tidak kuat. Kalau beli mesin, uang tidak punya,” paparnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Kamis (13/6).

 Ia menjelaskan warga banjar setempat terdapat 250 krama. Rata-rata mereka mencari air di aliran sungai yang ada di timur banjar dengan menggunakan mesin listrik. Selain itu juga ada yang membeli seharga satu kibik Rp 2 ribu sampai Rp 5 ribu kalau musim kering atau ketika mesinnya rusak. Karena kendala biaya, Warta pun mencari cara agar air yang ada di tebing belakang rumahnya bisa ia naikkan sampai halaman rumahnya tersebut.

 Pria tiga anak itu mengaku hanya melihat mesin pompa yang menggunakan mesin, kemudian ia pelajari dan modifikasi hanya menggunakan pipa saja. Sampai hasil karyanya tersebut bisa menaikkan air puluhan kubik tanpa menggunakan listrik. “Saya lihat mesin itu, kemudian saya balikkan saja klepnya dan saya modifikasi menggunakan pipa. Waktu itu lama airnya tidak bisa naik, coba lagi dan saya coba lagi,” terangnya.

 Warta pun mengaku dalam mencari cara menaikkan air itu, ia mengasingkan diri dan merenung di tegalan miliknya. Lokasinya berada di halaman belakang rumahnya sendiri, sekitar 45 meter turunan tebing. Tepat di atas tebing itu ia mengaku membuat pondok layaknya kandang sapi, bahkan tanpa listrik.

“Kurang lebih sebulan saya mencari cara agar bisa menaikkan air dari dasar tebing itu. Siang malam saya di sana kayak orang gila, tidak naik pulang ke rumah. Sampai akhirnya saya menggunakan pompa itu hanya saya diamkan saja dengan posisi klepnya terbalik. Memang memompa tapi tekanan airnya kecil, entah bagaimana kondisi di samping saya tidak tahu waktu itu, rasa takut pun tidak ada karena terlalu fokus mencari cara bagaimana supaya bisa menaikkan air,” ujarnya.

Sehingga air pun bisa ia naikkan setelah sebulan merenung di gubuknya tersebut pada akhir tahun 2017 lalu. Sampai saat ini ia bisa menikmati air tanpa harus membeli mesin bertenaga listrik, atau mencari air dengan menggunakan ember untuk keperluan sehari-hari. “Tyang mula sing tamat SD, nanging semangat bisa ngelah (Saya memang tidak tamat SD, tetapi semangat untuk bisa punya),” ungkap dia.

 Pria yang tidak bersekolah itu pun mengaku sampai saat ini sudah memasang pompa airnya di tebing dekat rumahnya sebanyak tiga pompa. Bahkan besar kecilnya air yang naik bisa ia atur volumenya. Sehingga ada yang terbuang dan dijadikan untuk menyiram areal perkebunannya karena airnya selalu mengalir dari bawah ke atas, kemudian dari pekarangannya turun kembali.

 “Airnya bersumber dari tretesan tebing yang menjadi sebuah sungai. Kalau masyarakat di sini menyebutnya Aungan Subak Kelod, Banjar Ked, Taro. Rencananya saya mau mencari hak paten atas penemuan saya ini, tapi terkendala biaya ya saya biarkan saja dulu,” ungkap mantan anggota salah satu ormas ternama di Bali tersebut.

 Pria yang juga pekerjaannya serabutan itu mengaku peralatan yang digunakan pompa airnya tersebut peralatannya tidak susah. Bahkan saat ditemui ia menunjukkan cara bagaimana ia merakitnya sampai airnya bisa naik dari dasar tebing. Pertama saya gunakan klep air yang biasa digunakan, kemudian dimodif menggunakan pipa dengan ukuran yang diperlukan. Saat itu juga dibuat tabung pipa, dan selang dengan panjang seperlunya. 

“Setelah jadi, pompa ini saya taruh pada ember pada umumnya. Ember itu ditaruh pada tretesan air yang ada di tebing, otomatis klepnya ini akan menaikkan air dibantu dengan tabung dan melalui slang akan menaikkan air, begitu saja. Meski hasil karya orang yang tidak tamat SD, saya berharap ada perhatian pemerintahlah entah bagaimana ke depannya dengan hasil karya saya ini. Terpenting untuk kepentingan orang banyak,” tandasnya. (bersambung)

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia