Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Puri Sayan Jadi Pamacek Desa Sejak Zaman Kerajaan

17 Juni 2019, 20: 50: 08 WIB | editor : I Putu Suyatra

Puri Sayan Jadi Pamacek Desa  Sejak Zaman Kerajaan

PURI: Panglingsir Puri Sayan, dr. Tjokorda Gede Ardana saat ditemui di Puri Sayan, Kecamatan Ubud, Gianyar, pekan kemarin. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Setiap puri di Bali  memiliki sejarahnya masing-masing. Mengingat sistem pemerintahan zaman kerajaan yang diambilalih langsung oleh kalangan puri. Seperti halnya Puri Sayan di Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Gianyar yang  memiliki perjalanan sejarah sangat panjang menjadi pamacek ( penguasa wilayah) desa setempat sampai saat ini. 

Sistem pemerintahan secara dinas di desa di Bali dipimpin oleh kepala desa atau perbekel. Namun,  di Desa Sayan masih mempertahankan  mempergunakan sistem adat, yang juga  dipimpin oleh bendesa. Bedanya di Desa Sayan, bendesa selalu panglingsir puri. Jadi,  sampai saat ini pamacek seperti zaman dahulu masih dipertahankan. 


Panglingsir Puri Sayan III (ketiga), dr. Tjokorda Gede Ardana  memaparkan,  sejarah Puri Sayan berawal dari sebagai pamacek jagat (penguasa wilayah) dengan jumlah warga berawal sekitar  50 - an warga. Mengingat di wilayah Desa Sayan merupakan tempat yang digunakan hidup secara nomaden kala itu. "Kalau aslinya di Puri Sayan memang dari Puri Ubud. Sugra pikulun (mohon maaf kepada leluhur) berawal dari lelingsir kami almarhum Ida Tjokorda Putu Asak yang pertama kali di sini," jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Puri Sayan, akhir pekan kemarin.

Pria alumni Fakultas Kedokteran Universitas  Padjajaran Bandung itu,  mengaku tahunnya secara pasti tidak diketahui. Sedangkan secara tertulis memang belum pernah ia dapatkan, sehingga mengandalkan cerita yang didapatkan secara turun temurun. 


Dikatakannya, panglingsir pertama di Sayan tersebut, meninggal dunia sekitar 70 tahun lalu. Istri dari almarhum Ida Tjokorda Putu Asak adalah almarhum Anak Agung Biang Agung yang berasal dari Puri Sukawati. "Waktu lebarnya (meninggal), sepertinya waktu itu umur saya baru sekitar empat atau lima tahun. Ensap-ensap inget tiyang (lupa-lupa ingat)," tuturnya. 


Mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar itu juga menjelaskan,  panglingsir Puri Sayan kedua juga sudah lebar pada tahun 1984.  Namanya Tjokorda Gede Agung dengan istrinya Anak Agung Oka Wily Sukawati berasal dari Puri Kantor Ubud. Keduanya merupakan almarhum ayah dan ibu kandungnya sendiri. Kini,  ia merupakan panglingsir Puri Sayan yang ketiga. Istrinya bernama Tjokorda Istri Murtini berasal dari Puri Menara, Mas, Ubud. Sehingga sampai sekarang ia masih meneruskan apa yang dilakukan oleh lelengsir sebelumnya. Mulai menjadi Bendesa sampai pangerajeg karya di desa setempat. "Selain menjadi pangerajeg karya, kalau ada warga yang meninggal dunia biasanya perwakilan keluarga didampingi kelian adat ke sini. Mulai mencari hari baik untuk diupacarai sampai bagaimana perjalanannya untuk ke kuburan," terang ayah tiga anak tersebut. 


Tradisi itu pun sudah berlangsung di Desa Sayan secara turun temurun. Zaman ke zaman dan sampai saat ini masih dipertahankan. Sedangkan kalau saat upacara manusa yadnya, biasanya panglingsir puri hadir menjadi Tri Saksi, yakni pada manusa saksi. "Kalau orang menikah biasanya saya datang untuk menyaksikan saja. Sedangkan kalau ada warga yang meninggal hanya ditanyakan bagaiamana polah palih (perjalanan) prosesi ke kuburan. Begitu juga setiap karya agung  di Pura Kahyangan Tiga, pasti sebagai pangerajeg karya," tandas Tjokorda Ardana.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia