Kamis, 18 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Enam Atma Papa Tanpa Identitas Diaben, Semua Titipan Dinas Sosial

17 Juni 2019, 21: 24: 42 WIB | editor : I Putu Suyatra

Enam Atma Papa Tanpa Identitas Diaben, Semua Titipan Dinas Sosial

BALI EXPRESS, SINGARAJA-Desa Pakraman Buleleng Sabtu (22/6) mendatang akan menyelengarakan aacara ngaben massal. Menariknya, dari ratusan sawa milik masyarakat setempat, terdapat enam mayat tanpa identitas yang asal usulnya tak jelas ikut diaben. Mayat tanpa identitas tersebut sebelumnya dikubur sejak tahun 2012 silam oleh Dinas Sosial Kabupaten Buleleng di Setra Desa Pakraman Buleleng.

Klian Desa Pakraman Buleleng, Nyoman Sutrisna menjelaskan enam atma papa itu terdiri dari tiga orang pria dam tiga orang wanita. Dan rata-rata berusia sudah dewasa. Mereka berasal dari berbagai kasus, baik mati tanpa sanak keluarga, ada pula yang ditemukan tewas di sekitar perairan Desa Penyabangan, Kecamatan Gerokgak pada 2011 silam.

Kata Sutrisna, keenam Atma papa ini merupakan titipan Dinas Sosial. Mayatnya dulu dipendem di Setra Desa Pakraman Buleleng. Namun, karena Dinas Sosial tak memiliki anggaran untuk ngaben, Desa Pakraman Buleleng pun bersedia membantunya.

“Mayat-mayat yang dikubur entah dari mana, atau agamanya apa, karena dikubur di setra ini, jadi kami lakukan pengabenan dengan istilah atma papa," aku Sutrisna, Senin (17/6) siang.

Selain enam atma papa, ada juga sebanyak 130 sawa yang diaben. Ratusan sawa itu merupakan milik masyarakat di 12 banjar adat Desa Pakraman Buleleng. Ada pula 171 peserta ikut ngerapuh, lima peserta ngelungah, dan 11 peserta nyekah.

Terkait pembiayaan, para peserta sebut Sutrisna, mendapatkan subsidi sebesar 50 persen dari dana Desa Adat Pakraman Buleleng. Untuk pembiayaan ngaben masal, krama desa yang memiliki sawa dikenakan Rp 1.750.000, Ngelungah/Ngerapuh Rp 350.000 dan Nyekah dikenakan biaya Rp 650.000.

"Ini ngaben masal ke dua yang diselenggarakan oleh Desa Pakraman Buleleng. Program ini sudah disusun dan mengikuti perarem awig-awig," terangnya.

Menurutnya, ngaben masal ini adalah program kerja dari Prajuru Desa Adat Pakraman Buleleng setiap 10 tahun sekali. Untuk ngaben masal pertama, sudah berlangsung ditahun 2011 silam. Sementara untuk ngaben masal kedua memang digelar lebih cepat. Hal itu dikarenakan saat pelaksanaan Panca Wali Krama di Pura Besakih beberapa bulan lalu, banyak krama yang memiliki saudara yang eninggal namun tidak bisa diupacarai.

“Jadi saat yasa kerti Piodalan Agung di Besakih, istilah Balinya banyak yang mesulub (penguburan tanpa diupacarai, Red). Dan itu jumlahnya cukup banyak. Makanya kita programkan ngaben masal ini lebih cepat,” ujar Sutrisna yang juga Kadis Pariwisata Buleleng ini.

Di sisi lain, serangkaian dengan kegiatan ngaben masal, Desa Adat Pakraman Buleleng menerbitkan sebuah himbauan yang ditujukan kepala masing-masing Klian Banjar Adat Pakraman untuk selanjutnya disosialisasikan kepada seluruh karma.

Salah satu himbauan itu agar Krama di wewidangan Desa Adat Pakraman Buleleng untuk tidak melaksanakan upacara atiwa-tiwa sejak 19 hingga 22 Juni 2019 mendatang. Hal itu sesuai dengan Keputusan Rapat Prajuru Bersama Panitia Ngaben Masal Desa Adat Pakraman Buleleng pada Sabtu, 8 Juni 2019 lalu.

Sementara Ketua Panitia Ngaben Massal Desa Pakraman Buleleng, Jro Dalang Rugada mengatakan, tahapan prosesi upacara sudah dimulai sejak tanggal 16 Juni 2019 yang lalu. Saat ini pihkanya tinggal mempersiapkan pelaksanaan prosesi hingga hari H nanti.

Secara umum prosesi yang dilakukan pun sebut Jro Dalang Rugada, sama seperti ngaben pada umumnya. Hanya saja, dalam prosesi pedeengan, setiap banjar adat diwajibkan mengirimkan satu pasang deeng (laki dan perempuan).

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia