Selasa, 19 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Features
“Multitalent” Tak Tamat SD asal Taro (2)

Buatkan Tiga Pompa untuk Warga Pinggir Jurang di Buleleng

18 Juni 2019, 08: 43: 33 WIB | editor : I Putu Suyatra

Buatkan Tiga Pompa untuk Warga Pinggir Jurang di Buleleng

KREATIF: I Made Warta menunjukkan bahan pompa yang menggunakan pipa di rumahnya pada Banjar Ked, Desa Taro, Kecamatan Gianyar. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

I Made Warta asal Banjar Ked, Desa Taro, Tegallalang, Gianyar, mampu menciptakan pompa air tanpa listrik. Dia sendiri berharap karyanya ini bisa dilirik pemerintah. Termasuk soal kemudahan mengurus hak paten.

 

PUTU AGUS ADEGRANTIKA, Gianyar

 

KARYA Warta tersebut berawal kebutuhan dirinya dan seluruh keluarga akan air setiap hari yang cukup sulit didapat. “Saya sudah kehabisan akal untuk mengakut air badan pegal-pegal semua, kalau beli mesin tidak mampu. Terpaksa saya harus cari solusi agar saya bisa tetap punya air dan bertahan untuk hidup,” akuinya.

 Ia pu n memulai mencari cara dengan membuat sambungan pipa dan dirakitnya. Inisiatif tersebut ia dapatkan setelah melihat mesin yang dimiliki oleh tetangganya. Lantaran tidak mampu membeli mesin bentuknya pun ia coba tiru dan dimodifnya dari pipa bekas.

 Beberapa kali ia bongkar dan rakit kembali, namun tidak berhasil juga untuk memompa air yang ada di tebing dekat rumahnya. Berhari-hari sampai sebulan lamanya, dia mencoba dan mengulangi lagi merakit pipa dan diisi klep air. Hingga akhirnya ia bisa menaikkan air meski dengan jumlah aliran yang kecil pada waktu itu.

 “Saat mau airnya sampai atas terpompa senangnya bukan main. Luwih ken apa kaden rasane girang keneh e pas to gus, ulian sing ngelah apa kanti puntag-pantig pang ngelah gen yeh. (senangnya minta ampun waktu itu gus, karena tidak punya apa-apa makanya berusaha agar punya air),” ujarnya.

 Ia pun menceitakan dirinya selama ada di gubuk dekat tebing tempatnya membuat pompa dan merenung selama satu bulan. Ia mengaku seakan gubuk yang ditempatinya itu lebih jelek dari kandang sapi, tanpa lampu beralaskan tikar plasa atau pandan. Sampai-sampai rasa takut dengan hal mistis pun ia tidak miliki sama sekali, karena terlalu fokus untuk mencari cara supaya punya air.

 Sampai saat ini kapasitas pompanya itu sudah bisa puluhan kubik ia naikkan ke halaman rumahnya. Mulai digunakan untuk minum, mandi hingga keperluan lainnya. “Sekarang aliran airnya sudah bisa saya atur, aliran air sebesar selang juga bisa dinaikkan. Ketika tidak terlalu diperlukan saya kecilkan saja supaya di hilir juga kebagian air yang akan menjadi sungai,” tuturnya.

 Meski telah menciptakan pompa yang tanpa listrik sejak tiga tahun lalu, ia pun mengaku sama sekali belum ada dilirik oleh pemerintah. Mulai dari pemanfaatan tenaganya hingga membantu Warta dalam mencari hak paten penemuannya tersebut.

 “Sampai sekarang aliran air yang menggunakan pompa ini sekitar 12 are perkebunan yang ada di belakang rumah. Sehingga membuat hijau tanaman pada tegalan saya ini. Selain di sini, di daerah Singaraja juga sempat yang minta tolong agar dibuatkan pompa. Karena lokasinya jurang dan warga juga di sana cukup banyak, saya bantu dengan membuat tiga pompa,” ungkap ayah tiga anak tersebut.

 Kebun di belakang rumah Warta nampak rimbun. Termasuk pohon pisang juga ia tanam dan tumbuh subur dari aliran air yang bisa dinaikkanya. “Namun sayang hak paten penemuan pompa air ini saya belum bisa dapatkan. Bagaimana teknis dan sama siapa saya berkoordinasi juga tidak tahu,” imbuhnya.

 Ia pun menambahkan, agar hasil karyanya itu tidak diklaim oleh orang lain, Warta berharap ada perhatian dari pemerintah. Sehingga bisa ia mengurus untuk mendapatkan hak paten. “Kalau tidak pemerintah, paling tidak perorangan yang mau membantunya dalam teknisnya nanti,” tandas dia.  

Keahlian Warta yang lain adalah mereparasi beragam barang elektronik. Meski ia sama sekali tidak pernah belajar khusus soal itu. Hanya otodidak. Bahkan, Warta piawai menghidupkan benda elektronik yang mati. Bukan saja itu, lampu yang sudah tidak bisa digunakan lagi bisa ia modif sampai akhirnya bisa nyala kembali. Berkat keahliannya itu ia dikenal dengan manusia multitalent.

 Warta mengungkapkan, dirinya tahu tentang kelistrikan karena melihat dari buku-buku yang ia pinjam dari temannya. “Karena saya punya semangat ingin tahu makanya saya bisa baca dan tahun sedikit tentang kelistrikan,” jelasnya.

 Warta menjelaskan rasa ingin tahunya tentang kelistrikan sejak lampunya mati. Karena kendala biaya tidak bisa membeli satu buah lampu, ia pun mencoba membongkar lampu yang mati tersebut. Seleteh itu ia memperhatikan alatnya dan dipelajarinya dengan cara otak-atik terlebih dahulu.

 “Saking inginnya punya lampu dan tidak mampu beli yang baru saya bongkar itu. Coba saya lihat-lihat, ternyata disambung-sambung segitu saja. Padahal masa hidup lampu bisa diatur sekian bulan, masak itu kita diolah dengan benda mati,” tuturnya.

Mulai saat itu ia kemudian mulai merakit lampu yang mati, bahkan lampu yang tidak bisa digunakan lagi bisa ia modif hingga menyala kembali. Sehingga saat ini masyarakat setempat yang memiliki acara dan memerlukan lampu pasti dicari Warta untuk merakit ataupun memperbaikinya.

 Akibat dari bermain dengan listrik, membuat dirinya sempat tersetrum hingga terpental. Untungnya ia masih bisa bertahan dari setrum listrik dan tidak parah, karena aliran listrik paling tidaknya bisa ia baca. Sampai  saat ini, Warta mengatakan tidak pernah membeli lampu. “Itu caranya hanya dibongkar mesinnya, ada namanya trafo lampu dan trafo pil. Itu saja poinnya yang menghidupkan,” jelas dia.

 Selain lampu, terkadang juga ia memperbaiki sebuah televisi yang rusak, handhpone hingga CCTV. Bahkan pekerjaan memperbaiki antena televisi dan tower juga sempat ia ambil, namun upah yang ia terima tidak sesuai dengan resiko pekerjaannya tersebut. Sehingga ia memilih berhenti dan menjadi tukang listruk serabutan di rumahnya.

 “Apaun kerjaan saya lakukan, hanya saja sekarang saya freelance jika memperbaiki peralatan elektronik. Kadang ada yang datang bawa  barang yang sudah mati, kadang juga saya dipanggil ke vila-vila untuk memperbaiki barang elektronik juga,” tandas Warta. (habis)

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia