Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Wacana Islam dalam Lontar Bali, Studi Komparatif Memperkuat Sradha

18 Juni 2019, 09: 19: 02 WIB | editor : I Putu Suyatra

Wacana Islam dalam Lontar Bali, Studi Komparatif  Memperkuat Sradha

I Putu Eka Guna Yasa (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Jumlah naskah lontar di Bali sangat banyak, dan isinya bervariasi. Mulai dari puisi Jawa Kuna atau Kakawin yang pada umumnya berisi tentang kepahlawanan, ajaran kebenaran, juga kesusilaan. Selain Kakawin, juga terdapat prosa atau parwa, usadha atau pengetahuan tentang pengobatan tradisional di Bali.
Dari sederetan lontar yang ada, ada pula wacana soal Islam yang dibeber dalam karya Cokorda Denpasar.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, I Putu Eka Guna Yasa, S.S., M.Hum, tak menyanggah kala membaca lontar-lontar Bali, wacana Islam juga muncul dalam teks yang digunakan  berkaitan dengan pengobatan. “Wacama Islam juga muncul  tentang penjagaan diri atau Pengraksa Jiwa," papar Guna Yasa kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin di Denpasar.


Dalam sejumlah karya sastra yang dia baca, Islam  juga 'mengalami sinkretisasi' dengan ajaran Hindu. Bali terkenal memiliki warisan literasi yang kuat karena memiliki tradisi aksara Bali. Oleh karena memiliki aksara Bali tersebut, lanjut Guna Yasa, masyarakat Bali bisa menulis berbagai sistem pengetahuan yang dimiliki oleh para leluhur. Dan di masa lampau, media yang digunakan untuk menulis aneka sistem pengetahuan dari pengalaman, dari berbagai aktivitas di daun lontar.

“Nah, selama ini ada yang menduga bahwa sebagian besar warisan literasi kita yang terdokumentasi dalam lontar hanya berkaitan dengan informasi ke-Hindu-an. Jadi identik, itu memang. Jadi, kalau misalnya ada 939 pustaka lontar, pasti orang menduga sekitar 800an membicarakan soal-soal ke-Hindu-an sebagai spririt utamanya," urainya.
Ditambahkannya, dari kepustakaan yang dimiliki Bali dan kemudian sebagian besar diyakini orang bermuatan spirit Hindu sebagaimana terusan daripada Majapahit yang diwarisi sekarang di Bali ini, ternyata ada sistem pengetahuan tentang Islam di dalam warisan-warisan lontar yang diidentikkan dengan ajaran-ajaran Hindu.


Guna Yasa menjelaskan, salah satu lontar yang mewacanakan Islam di dalamnya berjudul Geguritan Loda karya Cokorda Denpasar, seorang Raja Badung atau Raja Denpasar yang memimpin Perang Puputan Badung. “Beliau kan seorang raja sekaligus sastrawan. Salah satu karya beliau diduga berjudul Geguritan Loda. Geguritan ini menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan filsafat kehidupan," ujarnya. Di bagian akhir dari Geguritan Loda itu, lanjutnya, ada ungkapan Ĕda suud ngulik sasana, miwah tattwa yan ada mbahang nyilih, Tattwajnyana Darma Putus, miwah Bhuana Kosana lan Asta Maha Jnyana Guna rum, yadin soroh Tutur Selam inger-inger palajahin (Geguritan Loda, Pupuh Pangkur: 4). Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan : Janganlah engkau pernah berhenti untuk mempelajari ilmu tentang Filsafat dan ilmu tentang Etika. Apabila ada seseorang yang memberimu pinjaman atas pustaka-pustaka yang berkaitan atas Filsafat dan Etika itu. Termasuk pula ajaran Islam itu, itu juga penting untuk direnungkan dan dipelajari. 


“Tentu ketika seorang raja dan sekaligus seorang sastrawan menyampaikan informasi seperti ini, itu bukan sesuatu yang basa-basi. Beliau itu raja dan sekaligus sastrawan besar Bali sesungguhnya. Saya kemudian melakukan penelusuran dengan karya-karya Beliau yang lain, apakah informasi yang tertuang dalam Geguritan Loda itu hanya tertuang satu petikan saja bahwa Beliau menyuruh kita untuk mempelajari Islam? Ternyata tidak. Beliau yang juga mengarang teks seperti Geguritan Purwa Sanghara¸ di sana juga ada dan tertera,” jelasnya.


Wacana tersebut tertuang dalam satu adegan yang menceritakan mengenai Taksaka yang akan menyerang Raja Astina yang bernama Perikesit.


Dalam Geguritan Purwa Sanghara, Puh Dangdang: 30 dituangkan : Né marupa pandita kaaksi, sajatiné nyaman I Taksaka, sané ngaturang nyambuné, ring sampun puput matur, jaya jaya nuli mapamit, tur sampun kaganjaran, nuli raris mantuk manggargiang ka patala, kocap reké sampun waktu magrib, yén cara basa Arab.


Dijelaskannya, guna menerangkan, waktu itu senja dalam teks tersebut. “Magrib, yén cara basa Arab. Begitu beliau menyatakan. Ini kan dugaan kedua bahwa beliau sendiri memahami ajaran Arab dan juga Magrib. Jadi bukti yang pertama untuk menguatkan bahwa penting mempelajari Islam menurut Cokorda Denpasar bisa dibuktikan dari ungkapan Beliau yang menyatakan Magrib, yén cara basa Arab. Artinya, Beliau sendiri memahami itu, di zaman itu sekitar tahun 1903 kelahiran karya tersebut. Beliau sudah membicarakan Magrib, yén cara basa Arab. Tentu Islam yang dirujuk kan? Itu sudah beliau sebutkan,” terangnya.



Teks kedua, alumni Universitas Udayana ini menjelaskan, terlihat juga melalui Geguritan I Nengah Jimbaran. Geguritan ini dikategorikan menarik oleh Guna Yasa karena menggunakan bahasa Melayu. “Geguritan ini isinya menceritakan mengenai seorang tokoh yang bernama Nengah Jimbaran yang berasal dari wilayah Tampakgangsul. Beliau kan dari Badung. Kemungkinan besar, ya di Jayasabha itu sekarang puri-nya,” tegasnya kepada Bali Express.


Dipaparkan Guna Yasa, informasi orang sekitar dan juga tokoh yang bernama I Nengah Jimbaran diceritakan, konon ia memiliki istri, tetapi istrinya meninggal dunia karena penyakit Kolera yang pernah mewabah di Kota Denpasar. “Nengah Jimbaran karena baru saja menikah, ingin sekali agar bisa bertemu lagi dengan istrinya. Atas bantuan seseorang, Nengah Jimbaran bisa bertemu dengan istrinya. Akan tetapi, pesan dari orang tua tersebut meminta bila bertemu dengan istri, jangan ucapkan sepatah kata apapun, meskipun rindunya setinggi langit. Di dalam karya sastra itu Cokorda Denpasar menulis 'Insaallah atas kebaikan yang Tuan berikan'. Penggunaan kata Insaallah ini, lanjutnya, kan jelas sekali bukan berasal dari Hindu, tetapi dari Islam. "Nah, dua karya sastra yang ditulis oleh Cokorda Denpasar dan satu karya sastra yang menyuruh kita untuk juga memahami  ajaran-ajaran Islam menjadi kuat,” terangnya.


Lantas, kenapa mempelajari ajaran-ajaran Islam dianggap juga penting? “Cokorda Denpasar bukannya tidak tahu bahwa sebagian besar orang di masa beliau memerintah, bukan orang Islam, tetapi Hindu. Akan tetapi, Beliau menyarankannya. Penting sebenarnya mengadakan studi komparatif terhadap agama-agama dan keyakinan yang lain. Jadi, mempelajari Hindu saja tidak cukup untuk memekarkan wawasan ketoleransian terhadap orang lain, yang tidak hanya beragam Hindu sekarang. Di masa itu, sesungguhnya, Cokorda Denpasar sudah memiliki visi agar kita tidak perlu terlalu fanatik terhadap suatu ajaran," ujarnya.


Dalam dimensi yang bersamaan, lanjutnya, penting mempelajari ajaran-ajaran agama lainnya. "Bukan untuk mengubah diri kita menjadi agama yang kita pelajari. Tidak! Justru barangkali, tafsir saya untuk memperkuat Sradha atau keyakinan kita terhadap keyakinan yang sudah kita miliki. Kalau tidak seperti itu, mungkin kita bisa menjadi takabur, menjadi kering wawasan  terhadap keyakinan kita,” terangnya.

Selain itu, bukan hanya Cokorda Denpasar saja yang telah melakukan studi komparatif terhadap ajaran-ajaran Islam. Dalam teks-teks lainnya, Guna Yasa juga menemukan wacana yang berhubungan dengan Islam yang jumlahnya tidak sedikit. Teks Pengraksa Jiwa merupakan contoh lainnya. Teks tersebut ditemukan dimiliki oleh seorang dosen Teknik Universitas Udayana. Dosen Teknik tersebut mempunyai warisan lontar yang berjudul Pengraksa Jiwa. Artinya, penjaga diri. Seperti yang diakui oleh peneliti luar maupun dalam negeri, bahwa Bali ini bukan hanya sekala, tetapi juga ada dimensi niskala-nya. Termasuk penyakit pun tidak hanya disebabkan oleh kausa sekala atau ketidakseimbangan antara hubungan tubuh kita dengan alam. Akan tetapi, mungkin juga ada kausa niskala yang menyebabkan penyakit itu terjadi. Baik yang disebabkan oleh orang-orang yang iri hati atau sakit hati dengan kita.

“Orang-orang pada zaman itu mempelajari sistem pengetahuan tentang Islam. Saya temukan di dalam Lontar Pengraksa Jiwa ada kata Bismillah. Pengraksa Jiwa ini banyak. Teks untuk menjaga diri ini bisa untuk menjaga diri, menjaga pekarangan, termasuk juga bisa menghalau berbagai serangan yang dilakukan ketika ada perang, kerusuhan, kejadian yang bersifat destruktif intinya.

Ada satu sub yang membicarakan tentang Pababayon. Jadi, biar orang ini bayunya enteg. 


Teks Pababayon yang berasal dari kata Bayu yang artinya tenaga. Agar tenaga kita enteg. "Teksnya menyatakan Bismillah, baru kemudian dilanjutkan dengan mantra. Mantranya itu, mantra Hindu. Jadi, ada kata Bismillah dan kata Ong (simbol perwujudan Siwa). Kata Bismillah yang bersanding dengan kata Ong dan dewa-dewa yang lain ,” jelasnya.


Selain itu, Guna Yasa menjabarkan lontar lainnya. Dijelaskannya,  dalam Lontar Usadha Manak  menjelaskan mengenai cara penyembuhan apabila seseorang  terkena berbagai gangguan saat melahirkan. Misalnya, bayi sulit keluar. Berikutnya, ketika ada seseorang yang sering mengalami keguguran. Nah, teks Usadha Manak ini menjelaskan mengenai tata cara mancing, pengunci janin, yang salah satunya ada menyebut Allah.


Ditambahkannya, teks Kanda Wesi ini berkaitan dengan makna filosofi dari besi. “Besi bukan hanya yang fisik saja, tetapi lidah ini besi juga sesungguhnya secara filosofis. Keris itu lidah karena kemampuannya untuk melukai itu bisa lebih tajam daripada keris sesungguhnya. Di sana disebutkan sebagai seseorang yang melakoni dunia perbesian atau ke-pande-an, penting memiliki penjaga diri," ulasnya. 


Untuk orang yang menekuni dunia ke-pande-an yang berkaitan dengan besi seperti orang yang menekuni proses pembuatan gambelan, keris, genta dan lain sebagainya, lanjut Guna Yasa, mereka perlu mengaktifkan saudara nyama patnya ini. “Ada mantra bisĕmilah dan kata bisĕmilah dalam kepustakaan dan di ajaran Hindu kata ini tidak ada. Jelas sekali rujukannya. Dan, lebih mengejutkan lagi, ada Penerang Haji Sulaiman. Dalam teksnya tertuang,  Aku telah mendapatkan kekuatan dari Haji Sulaiman yang berupa cemeti emas dari beliau. Maka akan aku usir semua hujan yang ada di wilayah lingkungan ini. Seperti itu yang disampaikan," imbuhnya. 


Guna Yasa menafsirkan bahwa  mempelajari studi komparatif atas ajaran-ajaran lain, termasuk Islam tidak masalah. (akd)

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia