Kamis, 18 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Sampah Berserakan di Desa Terbersih di Dunia, Penglipuran

18 Juni 2019, 16: 06: 19 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sampah Berserakan di Desa Terbersih di Dunai, Penglipuran

BUTUH BAK BESAR: Sampah masyarakat berserakan di parkir Tugu Pahlawan Desa Penglipuran, Bangli. Ini karena desa kekurangan bak sampah. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Masalah sampah seperti tak ada habisnya. Akibat banyak sampah yang dihasilkan masyarakat, sampah-sampah itu sampai tak bisa tertangani. Bahkan sampah di Penglipuran, Kelurahan Kubu, Bangli, kini sampai berserakan. Padahal, desa ini dikenal sebagai desa terbersih di dunia.

Desa Penglipuran terkenal sebagai desa wisata. Namun apa jadinya kalau pemandangan tidak sedap muncul di beberapa titik. Seperti terpantau di parkir depan Tugu Pahlawan di Desa Penglipuran. Di sana hanya ada satu bak sampah yang sudah karatan. Karena rusak, sampah plastik dan sampah rumah tangga itu dikumpulkan di karung.

Meski sudah dibungkus karung, sampah itu tetap saja berserakan. Baunya menebar. Hewan-hewan seperti anjing dan ayam mengotak-atik sampah. Kondisi itu tentu saja menimbulkan kesan kumuh. Sehingga desa wisata yang idealnya harus bersih, justru jadi tak enak dipandang.

Ketua Pengelola Desa Wisata Penglipuran I Nengah Moneng mengaku malu kepada wisatawan. Sebab lokasi sampah dekat dengan parkir bus pariwisata. Ketika sampah itu masih tampak, tentu para tamu akan melihat. "Di mana lagi letak sisi desa bersihnya?" tanya Moneng dengan nada heran.

Ketika dikonfirmasi koran ini, Selasa (18/6), Moneng menyatakan sudah mengajukan permohonan bantuan tempat sampah ke Balai Lingkungan Hidup Provinsi Bali. Kata dia, butuh tiga tong untuk menampung sampah warga. 

Desa Penglipuran harus menyediakan dana yang cukup besar untuk membeli tempat sampah berukuran besar. Namun pihak desa terbentur dana. Sebab pendapatan dari kunjungan wisatawan sudah disalurkan ke pemerintah kabupaten sebesar 60 persen. "Sisanya belum bisa mengakomodasi kebutuhan itu," sambungnya.

Kata Moneng, sebelumnya terdapat dua bak sampah. Masing-masing ditempatkan di area parkir (utara dan selatan). Namun bak di parkir tugu pahlawan telah ditarik pemerintah daerah. Alhasil warga kebingungan mencari tempat pembuangan. Sampah itu tidak hanya dihasilkan warga, namun juga sampah dari wisatawan.

"Jadi idealnnya ada tiga bak sampah besar yang harus disediakan. Satu untuk parkir utara, satu di tengah obyek wisata, satu di parkir tugu. Sehingga bisa tertampung," jelasnya.

"Kami ingin pemerintah atau dinas terkait menyikapi dengan serius. Kami berharap ada barangnya, bukan janjinya. Kami juga berharap permohonan kami di provinsi dapat dikabulkan," imbuh Moneng. 

Plt Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bangli Gusti Laksana mengatakan, pengadaan bak sampah akan terealisasi pada semester kedua tahun 2019. Sesuai permintaan, akan diberikan tiga bak sampah. Masing-masing di parkir hutan bambu, satu di area parkir tugu pahlawan, dan satu ditempatkan di seputaran wantilan Banjar Penglipuran. "Ini memang pengadaan tahun 2019," tegas Laksana.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia