Kamis, 18 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Sekaa Wayang Wong Tejakula Angkat Cerita Gugurnya Patih Prahasta

18 Juni 2019, 21: 57: 33 WIB | editor : Nyoman Suarna

Sekaa Wayang Wong Tejakula Angkat Cerita Gugurnya Patih Prahasta

WAYANG WONG: Salah satu adegan dalam pementasan wayang wong yang disuguhkan Sekaa Guna Murti di arena PKB Ke-41, Selasa (18/6). Sekaa ini menyajikan pertunjukan wayang wong dengan lakon Gugurnya Patih Prahasta di Kalangan Angsoka. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Patih Prahasta akhirnya turun ke medan laga.  Meski pada awalnya patih senior di Negeri Alengka ini sudah wanti-wanti kepada Rahwana, keponakannya sendiri, untuk tidak membuat gara-gara dengan menculik Dewi Sita.

Namun ambisi Rahwana rupanya tak bisa dibendung. Dewi Sita diculik,  dan perang antara Rahwana dan Rama beserta adiknya, Laksamana, ditambah lagi dengan pasukan wanara tak bisa dihindari. Lantaran kecintaannya pada negeri sendiri, Alengka, Prahasta memilih ikut bertempur, kendati pada akhirnya dia gugur.

Lakon inilah yang diangkat Sekaa Wayang Wong Guna Murti, Desa/Kecamatan Tejakula, Buleleng dalam pementasan di Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-41, Selasa (18/6) . Bertempat di Kalangan Angsoka, areal Taman Budaya, sekaa ini mementaskan cerita yang dicukil dari kisah Ramayana.  

Cerita yang disuguhkan Sekaa Wayang Wong Guna Murti ini cukup aktual dengan kondisi bangsa yang terjadi sekarang ini. Pilihan seorang Patih Prahasta untuk maju membela Alengka, bukan didasari pada hubungan darah dirinya dengan Rahwana, tetapi karena kecintaannya pada negerinya.

Bila dipadankan, sikap Patih Prahasta itu sama seperti Kumbakarna yang sama-sama bersumber dari kisah Ramayana. Atau, sama seperti Bisma, tokoh senior Hastina Pura, dalam kisah Mahabharata yang akhirnya ikut turun ke medan perang dalam Bharatayuda.

Seperti dituturkan Ketua Sekaa Wayang Wong Guna Murti, Ketut Widiasa, pesan yang ingin disampaikan dalam cerita Gugurnya Patih Prahasta adalah penanaman sikap cinta tanah air.

“Bagaimana perjuangan Prahasta sebagai patih Kerajaan Alengka dan akhirnya gugur, patut menjadi tuntunan,” ujar Widiasa. Dalam pementasan wayang wong tersebut, Widiasa berperan sebagai tokoh Rahwana.

Pementasan wayang wong dari Tejakula ini melibatkan sekitar 40 orang penari dan penabuh. Wayang wong yang dipentaskan dalam acara PKB kali, merupakan duplikat dari wayang wong yang tersimpan di Pura Desa Tejakula. Sebab, tarian wayang wong yang sudah mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai warisan budaya dunia tahun 2015 ini, memiliki sisi sakral.

Salah seorang seniman wayang wong, Made Suarjana, 44, mengaku senang dapat melestarikan kesenian ini.  “Saya memang senang dan punya hobi menari. Saya ditarik sama ketua sekaa ikut dalam sekaa wayang wong. Terus saya disuruh menari menjadi Hanoman,” terang Suarjana.

Ketekunannya selama 20 tahun melestarikan kesenian wayang wong, membuat dirinya dipercaya menjadi model dalam branding PKB ke-41. Suarjana pun mengungkapkan bahwa dia dipercaya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali untuk menjadi model dalam branding PKB.

“Waktu itu saya difoto di Balai Desa Tejakula. Ya saya senang dan bangga,” ungkap Suarjana sembari tersenyum.

Di antara sekaa tersebut, ada juga dua pemain wayang wong perempuan. Salah seorang di antaranya adalah Ni Luh Ayu Widiastini. Dia berperan sebagai Laksamana.

Menurutnya, dia tertarik mengikuti sekaa tersebut sejak remaja. Itu pun karena dorongan hati. “Dari ngayah di pura hingga ditampilkan di panggung,  saya masih tetap bergabung,” terang Widiastini yang kesehariannya sebagai petugas tata usaha di SMAN 1 Tejakula.

Sejauh ini, penari termuda dalam Sekaa Guna Murti baru menginjak kelas tiga SMP. “Sulit-sulit gampang mencari penerus. Namun kami sudah upayakan sejak awal mengenalkan wayang wong ke desa-desa. Syukurnya ada yang tertarik,” tutur Widiasta.

Baik Widiasta, Suarjana, maupun Widiastini memiliki satu harapan yang sama, agar Wayang Wong Tejakula tetap menjadi kesenian semi-sakral yang senantiasa diteruskan oleh generasi muda dan selalu dicintai masyarakat Bali maupun mancanegara.

Dalam pementasan Selasa (18/6), Sekaa Wayang Wong Guna Murti mendapatkan applause dari para penonton. Tak heran, Kalangan Angsoka penuh dengan penonton untuk menyaksikan pertunjukan yang berdurasi sekitar satu setengah jam.

(bx/hai/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia